Langkah kaki Rivo menghantarkannya ke rumahnya. Rumah warisan ibunya yang lumayan besar kalau ditempati sendirian. Dia belum menikah, beberapa orang wanita yang mendekatinya selalu mundur teratur saat tahu pemikiran Rivo yang lebih manusiawi terlihat. Dia memang introvert, tapi bukan berarti dia tidak mengingat nama seluruh tetangganya dan kebiasaan mereka. Bahkan, beberapa kucing di jalan yang dia temui juga dia beri makan. Agak aneh memang kalau beberapa orang menyebutnya sebagai seorang psikopat.
Ponselnya bergetar, seseorang mengiriminya chat agar segera menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki ponsel smartphonenya. Iya, Rivo memperbaiki ponsel, dia bisa memperbaiki banyak ponsel dari Android sampai Apple. Dia pernah kursus selama satu tahun sebagai teknisi gadget tersebut. Selain memperbaiki ponsel dia juga bisa bekerja apapun, bekerja serabutan.
Tangan Rivo meraih saklar lampu di meja kerjanya. Di dinding ada banyak sekali sertifikasi yang dipajang. Dari sertifikasi Jaringan Komputer, Sertifikasi Elektronika, Sertifikasi Service Smartphone, Sertifikasi Apple, Sertifikasi Hipnoterapi. Semua itu adalah perjuangannya. Baginya yang tidak kuliah ini, maka dia harus punya banyak sertifikasi kalau ingin bertahan hidup dan makan. Dia bekerja keras mengumpulkan uang demi satu hal, agar dia sembuh.
"Baiklah sobat, kamu sebenarnya sakit apa?" gumam Rivo saat mengambil sebuah ponsel yang katanya mati total.
Dengan cekatan Rivo membuka ponsel tersebut, menelitinya apakah power bisa masuk ke ponsel itu atau tidak dengan kabel chargingnya, lalu memeriksa apakah ponsel itu kemasukan air atau tidak.
"Ahh Ahhh Huuhh!" terdengar jeritan dan suara di sebelah rumahnya. Rumah Rivo ini terbagi menjadi dua, satu sisi utara dan satunya sisi selatan. Sisi utara dihuni olehnya, barang-barang pribadinya, semua pekerjaannya ada di sisi ini. Sedangkan, sisi selatan ada dua ruangan, satu ruangan gudang dan satu lagi sebuah kamar, tempat laki-laki yang telah merampas kebahagiaan orang tuanya, yaitu Nordin.
Rivo menoleh ke arah suara itu. "Kau mau apalagi orang tua brengsek?! Kalau makan tinggal ambil sendiri kan bisa?!"
"Ahh Ahh.. Huuhh!" terdengar lagi suara Nordin.
Hampir saja Rivo menghantam meja kerjanya, dia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju koridor rumahnya untuk membuka pintu samping. Dia sudah berada di pertengahan rumah bagian selatan dan utara, lalu dia memperhatikan keadaan ayah tirinya yang menyedihkan. Popok dewasanya sudah habis dan terlihat isinya sudah berantakan. Makanya dia teriak-teriak.
"Kalau saja ibuku tidak berwasiat untuk merawatmu, aku sudah lempar kau ke laut" gerutunya. Dengan masih ngedumel Rivo mulai membersihkan ayah tirinya itu. "Anak-anak kau itu kemana, hah? Seharusnya kau itu dirawat anak-anakmu bukan aku, aku bukan darah dagingmu. Dasar orang tua beban!"
Popok bekas dipakai Nordin dia bungkus kresek hitam, setelah itu dia pakaikan celana kolor setelah membersihkan orang tua itu. Dia juga mengganti alas yang melapisi tempat tidur itu dengan yang baru. Nordin menatap Rivo dengan mata berkaca-kaca. Mungkin sebagian dirinya ada rasa penyesalan, tetapi Rivo sudah mati rasa. Semenjak Nordin terkena stroke beberapa tahun lalu, hidup Rivo lebih kacau lagi.
Rivo menjinjing kresek hitam berisi popok yang baunya cukup pesing itu keluar untuk menaruhnya di tong sampah depan rumah. Dia berjalan menuju ke toko kelontong terdekat untuk membeli popok dewasa.