Rivo buru-buru sampai ke rumah. Dia lalu masuk ke kamar Nordin untuk memberikan popoknya, setelah itu segera pergi ke ruangannya. Dia pernah seperti ini dan sering berulang. Bukan hanya kepala menggelinding, tetapi lebih banyak lagi. Setelah kepala menggelinding hilang, kemudian berganti dengan sosok lelaki dengan kepalanya hancur mendatanginya. Lalu, seorang wanita berjalan merangkak dengan kaki putus, kemudian anak kecil yang penuh luka lebam dan mengeluarkan darah di mulutnya. Sebenarnya sangat banyak hingga dia tak ingat satu per satu penampakan yang sering dia lihat.
Suasana ruang kerjanya yang temaram itu hanya ada satu lampu terang di meja kerjanya. Rivo menyalakan rokoknya lagi. Tangannya yang tadi agak gemetar sekarang mulai tenang, nikotin itu telah memberinya efek ketenangan. Sayangnya, dia tahu itu tak bertahan lama, sebab ketiga bayangan perempuan tadi sudah ada di belakangnya. Tak bersuara, tak bergerak hanya berdiri saja di sana dan Rivo mengetahuinya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga dia tidak takut lagi terhadap hal-hal semacam ini.
Rivo mengembuskan asap rokoknya perlahan, membiarkannya membumbung tinggi dan membiaskannya di bawah pancaran lampu meja. Ia menatap lurus ke arah komponen-komponen ponsel yang tercecer di hadapannya, sengaja tidak memutar badan.
"Kalian mau apa lagi?" gumam Rivo datar pada ruang kosong di belakangnya. "Aku ini cuma tukang servis HP. Aku bukan polisi, bukan ustadz, bukan hakim. Kalau kalian butuh keadilan, datang ke gedung DPR atau kantor polisi sana. Ada juga KOMNAS PEREMPUAN, ah tapi mereka juga nggak bakal mau melayani hantu."
Rivo tersenyum sinis, menyadari kepasrahan akan nasib dan takdirnya. Dia akan terus diikuti oleh ketiga hantu itu, entah sampai kapan. Dia sendiri tak tahu sampai blackout itu akan terjadi. Seingat dia setelah blackout itu terjadi, hantu-hantu itu akan pergi.
Tidak ada jawaban bersuara. Suasana ruang kerja utara itu hening, hanya ada detak jarum jam dinding yang monoton. Tidak ada bau amis darah di ruangan itu—sebab sang pelaku tidak ada di sana. Hanya ada hawa dingin yang tak biasa merayap pelan di tengkuknya.
Tiba-tiba, telapak tangan dingin milik wanita pertama—yang pergelangan tangannya robek—bergerak perlahan menyentuh pundak Rivo.
Deg.
Seketika itu juga, pandangan Rivo seperti dilempar masuk ke dalam memori kelam milik wanita tersebut. Kilatan bayangan berputar cepat di kepala Rivo, memaksa matanya terpejam rapat.