Malam itu setelah salat Isya' orang-orang mulai berkumpul di rumah Pak Totok. Rivo dari tadi sudah duduk di teras rumah Pak Totok sambil mengamati dan menunggu orang-orang datang. Tadi sempat juga membantu Pak Totok menggelar tikar di teras, agar orang-orang yang tidak kebagian tempat bisa duduk di teras. Tak ada yang menemaninya, hanya sebatang dua batang rokok yang sudah dia habiskan. Matanya masih melirik ke tiga perempuan yang mengerumuninya, mereka tak bisa dilihat oleh manusia lain, hanya dia yang bisa melihatnya. Ketiganya tembus pandang, ditabrak oleh orang-orang yang lalu lalang.
"Pak Rivo, silakan masuk!" ajak Pak Totok.
Rivo mengangguk. Tubuh kurusnya mulai beranjak meninggalkan teras. Di atas tikar terlihat beberapa sajian gorengan seperti singkong goreng, bakwan, pisang goreng, kardus-kardus air mineral dan rokok-rokok yang ditaruh di beberapa gelas. Rivo mendaratkan duduknya di bagian dalam rumah.
"Sekarang sibuk apa, Pak?" tanya Pak Totok.
"Yah, masih servis HP pak. Kalau HP rusak atau ada alat elektronik rusak, kasih saya saja. Saya bisa perbaiki," jawab Rivo.
"Ya ya ya, bagaimana keadaan Bapak?"
"Dia bukan bapak saya, panggil saja Nordin."
Pak Totok sedikit terhenyak. Dia tahu bagaimana keadaan Rivo. Bagaimana perilaku Nordin saat muda, sudah menjadi rahasia umum. Pak Totok ingat betul bagaimana anak kecil yang sekarang tubuh besar ini melihat Nordin membawa golok mengancam ibunya agar menceraikan suaminya. Dia mendesah. Menyayangkan anak secerdas Rivo, kini tumbuh sendirian dan malah harus merawat orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Satu hal yang membuat Totok tersentuh adalah bagaimana RIvo sangat berbakti kepada orang tuanya, sampai-sampai wasiat ibunya yang tidak masuk akal itu tetap dia laksanakan tanpa pernah membantahnya.
Tak berapa lama kemudian tamu-tamu mulai berdatangan. Mereka mulai duduk, mengobrol, menikmati rokok dan jajanan yang tersaji. Mereka duduk melingkar, lalu sampailah kepada acara doa bersama.
Mungkin satu-satunya hal yang manusiawi adalah bagaimana Rivo disambut hangat oleh orang-orang yang ada di acara kenduri itu. Meskipun mereka berbasa-basi dengan kegiatannya atau menanyakan kabar bapak tirinya, tetapi hal itu lebih merasa sangat dihargai. Apalagi saat makan bersama hingga membawa besek sesudahnya. Tentunya dia akan menyuapi orang tua itu nanti saat pulang.
Rivo berjalan gontai sambil menenteng besek berisi berkat makanan menyusuri lorong kompleks yang remang usai pamit dari rumah Pak Totok. Ketiga sosok perempuan itu masih berjalan bisu di sekitarnya.