"Aku tidak percaya dengan yang namanya hantu, mereka itu pasti hanya halusinasiku. Aku... aku mungkin pernah membaca artikel tentang mereka. Aku... aku mungkin pernah mengetahui kasus-kasus mereka. Iya, apalagi yang bisa aku jelaskan selain itu? Lalu... orang-orang yang mati itu... korbanku. Kenapa aku melakukannya? Apa benar aku yang melakukannya? Tanganku...." Rivo menatap tangannya dengan gemetar, "Sialan... anjing! Kenapa aku melakukannya? Tidak... aku harus bertemu Dokter Nonik... ini semakin tak terkendali..."
Rivo menyambar ponselnya. Saat ia membukanya, aplikasi yang muncul pertama kali adalah aplikasi taksi online. Ia tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menelepon Dokter Nonik. Matanya tertuju pada rute yang kemarin ia tempuh. Rute itu tak pernah ia lewati sebelumnya. Kenapa ia harus ke pondok pesantren?
Pagi itu Rivo memasak di dapur, sementara ponselnya masih tergeletak di meja kerja. Ia tak mau memikirkannya dulu. Beberapa hal yang sudah pasti ia yakini adalah bahwa tadi malam ia berada di lokasi pembunuhan. Kalau ia nekat pergi ke sana sekarang, polisi pasti akan mencurigainya. Maka, ia mengurungkan niat untuk kembali ke TKP. Ia tak mau terlibat—bahkan jika ia memang pelakunya, melangkah ke sana hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Nordin mulai dibersihkan oleh Rivo menggunakan waslap. Air hangat yang sudah disiapkan membasuh badan orang tua itu. Tatapan mata orang tua yang tak berdaya itu seakan-akan menatap Rivo dengan penuh penyesalan. Sayangnya, ia sudah tidak bisa berbicara lagi. Ia pasrah saja saat Rivo membersihkan tubuhnya, lalu mengganti popoknya. Tubuh orang tua itu benar-benar seperti boneka yang tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mengurus Nordin hingga memakaikannya baju, Rivo kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan perbaikan ponsel yang tertunda. Lalu, entah kenapa jemarinya bergerak menyentuh ponselnya sendiri. Ia mencari kontak Dokter Nonik, lalu mengirim pesan singkat: "Dok, tadi malam saya blackout lagi."
* * *
Satu jam sebelumnya
Ahmad Sufyan menatap mayat yang tergantung di tengah ruangan yang biasa digunakan para santri untuk belajar Al-Qur'an. Kondisinya mengenaskan: tubuh tergantung, kepala hancur, dan pergelangan tangan terpotong. Darah menetes ke lantai, menimbulkan bau amis yang menyengat. Salah seorang rekannya masuk dengan sepatu dibungkus plastik pelindung, sama seperti Sufyan.
"Tim forensik sebentar lagi datang," ujar polisi tersebut. Nama Adi tercetak di papan namanya.
Sufyan mengangguk. "Keji sekali. Pelaku sepertinya punya dendam mendalam sama korban. Dari luka kepalanya yang hancur, digantung, atau dipotong nadinya... mana dari ketiganya yang membuat dia tewas pertama kali menurutmu?"
Adi melipat tangannya sambil menggaruk dagu. "Kalau digantung dulu?"
"Bisa jadi. Tapi disayat nadinya juga memungkinkan, atau kepalanya diremukkan dulu. Intinya, si pelaku sangat tahu cara membunuh korban sesadis mungkin. Tapi kalau korban memang sudah tewas dengan salah satu metode, kenapa harus menambahkan metode lain? Kecuali kalau pelakunya memang menyimpan dendam luar biasa."
Adi mengangguk-angguk. "Benar juga. Tapi bagaimana menjelaskan tentang mayat yang satunya, Ndan?"
"Mayat satunya? Ada lagi?" Sufyan merinding saat bawahannya menyebutkan ada mayat lain.
Adi memberi isyarat agar Sufyan mengikutinya. Mereka menuju ke sebuah tempat yang tidak jauh dari lokasi pertama. Di tempat yang tidak disangka-sangka, sesosok mayat duduk di bawah pohon dengan mata melotot dan leher dijerat erat. Talinya masih terikat kuat ke batang pohon. Seolah-olah mayat ini dipaksa menjadi saksi atas apa yang terjadi di depannya.
Sufyan berjongkok mengamati mayat pemuda tersebut. "Siapa dia?"