Terapi

Archie Noir
Chapter #11

Bagian 10

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 saat Rivo sudah ada di ruangan Dokter Nonik Clarissa. Sebatang rokok ada di mulut Rivo, tapi tidak dia nyalakan. Satu kakinya tidak berhenti dari tadi, terus bergerak, tangannya mulai berkeringat. Suara detak jam dinding membuatnya tidak nyaman di ruangan yang seharusnya nyaman buat pasien dengan gangguan mental ini.

Nonik masuk ke ruangannya. Dia lalu duduk di kursi kerjanya, sebuah sofa yang nyaman. "Sudah lama menunggu? Tadi asisten saya bilang Anda sudah datang dari semenjak jam 12.00. Maaf, karena saya ada urusan tadi. Anda ingin merokok, biar saya ambilkan asbak."

Tangan Rivo memberi isyarat. "Tidak usah, bu dokter. Tidak apa-apa, saya cukup menempelkan rokok saja agar tenang. Sesekali saya ingin merasakan dinginnya AC ruangan ini."

Nonik menghela napas panjang sebelum memulainya. "Baiklah, ceritakan saya tentang blackout yang Pak Rivo rasakan."

Mata Rivo terpejam mencoba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Kemarin waktu saya pulang. Ada salah satu tetangga saya yang terkena musibah. Anaknya jadi korban pelecehan seksual oleh guru agamanya. Saat itu orang-orang sedang simpati dan marah-marah terhadap kejadian itu, hingga tiba-tiba saya melihat penampakan. Tiga perempuan, satu kepala hancur, satu lehernya seperti ada bekas jeratan dan satu lagi urat nadinya dipotong. Ketiga perempuan itu mengikuti saya...."

"Lalu?"

"Lalu, mereka menyentuh saya, memori saya seperti dijejali segala rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka masuk ke dalam kepala saya, Bu dokter. Mereka ingin saya merasakan apa yang saya rasakan. Setelah itu.... " Rivo mengambil napas, "Saya blackout di tengah jalan, bangun-bangun saya sudah ada di dalam taksi online dalam perjalanan menuju ke rumah."

Rivo terdiam sejenak. Jemarinya yang memegang batang rokok dingin itu makin gemetar. Keringat dingin merembes di telapak tangannya, membuat kertas rokok itu sedikit lembap.

"Bu dokter..." suara Rivo bergetar, nyaris tercekik oleh rasa takut yang membakar dadanya. "Pagi ini... berita di TV dan internet... Gus Zaky, guru agama itu, tewas di pesantren. Kondisi mayatnya... kepalanya hancur, pergelangan tangannya dipotong, dan dia digantung. Sama persis... sama persis dengan luka tiga perempuan yang saya lihat!"

Rivo memajukan tubuhnya, menatap Nonik dengan mata melotot penuh histeris yang ditahan.

"Saya membuka aplikasi taksi online di HP saya tadi pagi, Bu dokter. Rute perjalanan kemarin malam... titik penjemputan saya pukul 01.12 WIB ada di area parkir pesantren itu! Saya ada di sana saat pembunuhan itu terjadi! Bagaimana kalau... bagaimana kalau yang membunuh Gus Zaky itu saya? Bagaimana kalau tubuh saya dipakai saat saya blackout? Bu dokter, saya takut... saya tidak mau dipenjara! Saya tidak mau dianggap monster! Kalau saya ditangkap, siapa yang mengurus Nordin di rumah?!"

Napas Rivo memburu. Ia mencengkeram lututnya sendiri kuat-kuat, mencoba menahan guncangan ketakutan yang hebat.

Dokter Nonik menyimak setiap patah kata Rivo dengan raut wajah yang tenang dan terkontrol—sebuah ekspresi terlatih khas psikiater senior untuk tidak memicu kepanikan yang lebih besar pada pasiennya. Ia tidak memotong, tidak menghakimi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut.

Nonik meraih pena, lalu mencatat beberapa poin di lembar rekam medis Rivo: Kondisi disosiatif berat, halusinasi visual yang terintegrasi dengan stresor lingkungan, paranoia keterlibatan (delusi bersalah).

"Rivo, dengarkan saya," kata Dokter Nonik dengan suara yang lembut, dalam, dan stabil. "Tatap mata saya."

Lihat selengkapnya