Sepatu laras Ahmad Sufyan terdengar saat memasuki tempat praktik dokter Nonik. Tentu saja suasana ruang kerja itu sangatlah berbeda dengan ruang kerja kepolisian. Aroma lavender tercium di ruangan tersebut dan Nonik menyambutnya dengan senyuman manisnya.
"Hei, Sop. Baru datang?" sapa Nonik, "Silakan duduk!"
"Iya, dari tadi aku sibuk ngobrol ama forensik yang nangani kasus baru. Kau pasti tahu tentang berita pembunuhan Gus Zaky, lagi trending topic. Aku mau menanyakan hal ini dari sisi psikologis. Sebab, ada hal yang janggal aku temui di TKP. Sebenarnya ini bukan TKP satu-satunya. Aku ada perkara pembunuhan lain yang sepertinya metodenya mirip. Aku takut saja analisaku salah, jadi aku minta petunjukmu," ucap Sufyan sambil duduk di sofa dengan nyaman.
"Oke, aku akan menolongmu kalau mampu. Cerita saja, apa yang kamu temukan."
Sufyan berdehem membersihkan tenggorokannya. Dia melihat asbak kosong tergeletak di meja. Berarti ada pasien yang merokok, pikir Sufyan. Dia menyatukan jemarinya.
"Kondisi Gus Zaky sangat mengenaskan. Tubuhnya tergantung, kepala hancur, pembuluh nadi di tangan dipotong. Korban adalah anak dari salah satu tokoh ulama. Kami kecolongan lagi. Seharusnya polisi langsung mengamankan TKP, tapi ada pers yang ada di dekat TKP. Jadi mereka dapat berita eksklusif lebih dulu daripada kami. Tahu Gus Zaky?"
Nonik menggeleng.
"Itu lho, yang dituntut atas perlakuan pelecehan seksual dan ruda paksa murid-muridnya. Kasusnya lagi heboh dan cukup mencoreng salah satu organisasi keagamaan di negeri ini," jelas Sufyan.
Ini seperti yang diceritakan oleh Rivo, apakah ini ada hubungannya dengan Rivo? pikir Nonik.
"Oke, lalu apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Nonik.