"Sudah HP-nya, Bang?" seorang pelanggan mengetuk pintu rumahnya. Rivo mendongak ke orang yang datang itu.
"Eh, Pak Bandi. Sudah pak, sebentar... ini" Rivo mengambil sebuah HP android, lalu memberikannya ke lelaki bernama Pak Bandi itu.
Saat disentuh tombol powernya HP itu menyala. "Wah, udah bisa, bang? Keren nih. Makasih lho. Berapa ongkosnya?"
"Sesuai harga kemarin Rp 200.000 saja, saya cuma ganti sirkuit di powernya. Ada bagian yang harus saya ganti karena gosong," jelas Rivo.
"Oke, ini!" Pak Bandi menyerahkan dua lembar uang Rp 100.000 kepada Rivo. Rivo menerimanya.
"Terima kasih, Pak," ucap Rivo sambil mengangguk.
"Saya dong yang terima kasih," ujar Pak Bandi sambil menimang-nimang HP-nya yang sudah berfungsi lagi, "eh iya, ini saya tadi beli bakpao kebetulan saya sudah makan dua. Ini yang dua buat Pak Rivo."
Rivo menerima plastik berisi dua buah bakpao itu. "Wah, terima kasih, Pak Bandi. Merepotkan saja. Saya terima kalau gitu, kebetulan belum sarapan dari tadi. Mau ngopi dulu? Saya bisa bikinkan."
"Tidak usah, terima kasih. Saya langsung pulang saja. Nanti dicariin istri, yang penting HP sudah sehat lagi. Yuk, mari, bang," ucap Pak Bandi sambil permisi meninggalkan Rivo di ruang kerjanya.
Setelah pelanggan itu berlalu, Rivo mengambil satu bakpao untuk dimakan, lalu mengambil obat dari Dokter Nonik, menelan satu tablet bersamaan dengan gigitan bakpao, lalu meminum air putih yang ada di atas meja hingga kandas.
Efek obat penenang itu pelan-pelan merayapi kepalanya, membawa rasa kantuk halus. Namun, Rivo menahannya. Rumah masih perlu dibersihkan. Ia mulai mengayunkan sapu dari area depan hingga belakang, lalu membersihkan kamar mandi—rutinitas harian yang biasa ia lakukan.
Namun, begitu sapunya menyapu area lorong belakang, langkah Rivo terhenti. Matanya tertambat pada daun pintu kamar ibunya. Kamar yang tak pernah lagi ia sentuh semenjak perempuan itu berpulang.
Ruangan itu seolah memanggilnya, memaksa ingatan-ingatan pahit dan manis berhamburan keluar secara bersamaan. Mengingat ibunya selalu membuat dada Rivo bergemuruh dan air matanya menetes tanpa kendali. Ada rindu yang dalam, namun ada pula amarah membakar—kemarahan pada dirinya yang tak berdaya, dan amarah luar biasa pada Nordin. Dulu, seberapa ingin pun Rivo memukul Nordin, ibunya selalu melarang. Alhasil, hanya sumpah serapah yang bisa ia muntahkan. Mulut Rivo terlalu suci untuk mendoakan kebaikan bagi pria tua bangka itu.