Pria itu bertubuh tinggi dengan bahu bidang, namun pembawaannya seolah menyimpan beban luka yang ia pendam sendirian. Wajahnya hampir tak pernah tersenyum. Kalaupun ada, hanya berupa sunggingan tipis yang sangat samar hingga tak ada yang menyadarinya. Ia dingin—tatapannya begitu beku—namun kekosongan yang tampak di jendela jiwanya terasa terlalu luas dan dalam, bak lubang hitam yang menyerap apa pun di sekitarnya. Sunyi, kuat, dan seakan tak membiarkan siapa pun mendekat kecuali jika mereka siap ikut ditarik ke dalam kegelapan itu.
Namun, entah mengapa caranya memandang mengingatkanku pada cinta pertamaku—satu-satunya cinta dalam hidupku. Padahal penampilan mereka jauh berbeda, kepribadian mereka pun bak siang dan malam. Meski begitu, cara pria ini menatap dalam diam, seolah sibuk dengan dunianya sendiri, sanggup mengunci perhatianku. Ia mengembalikan ingatanku pada sosok yang paling aku rindukan; sosok yang tak akan pernah lagi kulihat selamanya di muka bumi ini.
Pria itu... mengapa dia menatapku seperti itu?