Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #2

1. Orang yang Dicintai

Sore ini, langit mengguratkan paduan warna jingga, merah muda, dan keunguan. Setelah seharian diguyur hujan deras, langit justru tampak ceria seolah sedang memamerkan kecantikannya lewat permainan warna.

Namun, alih-alih menikmati senja di taman kampus atau sekadar menyantap camilan di kantin sambil memandang langit, Hannah justru terpaku sendirian di dalam kelas. Ia sibuk menyelesaikan tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan nanti di rumah. Bahunya menekuk dalam, saking fokusnya ia sampai tak menyadari betapa indahnya fenomena langit di luar sana. Di dalam ruang kelas yang kian temaram, Hannah terus menggoreskan pena di atas buku tulisnya.

Tugas itu jelas tidak mendesak. Alasan sebenarnya Hannah tetap berdiam di sana adalah untuk membunuh waktu sembari menunggu seseorang yang bersikeras menjemputnya meski sudah dilarang. Mengerjakan tugas hanyalah upayanya untuk tetap tenang, agar debar di dadanya tidak meluap dan bocor lewat ekspresi wajahnya. Ia harus tetap terlihat biasa saja saat mereka bertemu nanti, persis seperti yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun ini.


Hannah Dinata adalah gadis berusia dua puluh tahun yang tumbuh di Panti Asuhan Mawar. Sejak ia bisa mengingat, tempat itu sudah menjadi rumahnya. Ia tidak sendirian; ada banyak anak lain di bawah asuhan Ibu Mawar, sang pendiri yayasan. Namun, hanya Hannah, Lian (22), dan Aleta (23) yang kini telah dewasa dan masih tinggal di sana. Secara hukum, mereka bertiga adalah anak angkat resmi Ibu Mawar yang tercatat dalam satu kartu keluarga—bersaudara meski tak sedarah.

Hannah kini duduk di semester dua jurusan seni lukis. Gadis tinggi semampai dengan kulit seputih salju itu memiliki mata bening kecoklatan yang mampu mengunci perhatian siapapun saat menatapnya. Ia tipe gadis yang hemat bicara namun ceria, kalem tapi berani, serta lembut namun tangkas. Ia tekun, berprestasi, dan tipe orang yang tak suka mengeluh, meski ia tak segan menyuarakan pikirannya jika dirasa perlu.

Dan ada satu rahasia yang ia simpan rapat-rapat dari dunia: ia mencintai Lian.

Hannah memendam cinta sepihak pada kakak angkatnya itu entah sejak kapan. Yang ia tahu, sejak ia memahami arti romansa, sejak ia tahu kalau ada tempat lain untuk laki-laki selain teman atau keluarga, hanya Lian yang bertahta di hatinya. Lian sendiri adalah mahasiswa tingkat akhir teknik industri yang populer. Tingginya hampir 180 cm, bentuk matanya runcing tajam namun tatapannya bening, hidungnya bertulang tinggi, dan bibirnya cukup lebar dan meliuk sensual. Senyumnya sangat menawan. Pribadinya hangat dan maskulin, namun terkadang bisa terlihat menggemaskan.

Sebagai sosok kakak, Lian selalu ada untuk Hannah. Ia senantiasa memastikan kebutuhan Hannah tercukupi dan merasa aman, termasuk menjemputnya hari ini meskipun hujan turun tak menentu. Dan Hannah—seperti biasanya—akan selalu menunggu dengan senyum tertahan di bibir demi melihat sosok yang paling ia cintai itu muncul.

BRUK!

Pintu kelas terbuka kasar hingga menghantam dinding. Hannah terkesiap dan langsung mengerutkan dahi saat melihat Rosy, sahabatnya, masuk dengan terburu-buru. Gadis berkacamata bingkai hitam dengan sweater Doraemon itu sudah entah berapa kali mengejutkannya hari ini.

"Lu ke mana saja sih!" keluh Rosy sembari mendekat dan membanting sebuah majalah di atas meja Hannah. "Lihat nih! Lu harus ikut!" Ia menunjuk sebuah halaman yang terbuka.

Yayasan Arunika Mengadakan Lomba Melukis Terbesar Abad Ini—begitu judul artikelnya.

"Ha?" tanggap Hannah apatis.

"Ikutlah! Lu kan pengen jadi pelukis terkenal! Ini yayasan yang sering buat pameran sampai ke luar negeri!" seru Rosy dengan mata berapi-api.

"Em," sahut Hannah enggan sembari menggeser majalah itu. Bukannya ia tidak menghargai perhatian sahabatnya, namun Rosy memang sering bersikap berlebihan.

Rosy adalah sosok yang unik, dan keunikannya itulah yang membuatnya tidak punya teman selain Hannah. Kebiasaannya bicara sendiri dengan mata kosong lalu mengaku melihat hantu membuat orang-orang menjauhinya karena takut dicap aneh. Dengan kulit pucat dan bibir pecah-pecah, Rosy dijuluki "Penyihir" oleh penghuni kampus. Namun, Hannah yang sudah mengenalnya sejak SMP sudah terbiasa dengan segala tingkah ajaib itu.

Lihat selengkapnya