Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #3

2. Jadilah Milikku

Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas malam. Usai merampungkan tugas kuliah, Hannah merapikan buku-buku di meja belajarnya. Perutnya mulai meronta lapar. Sejenak ia berpikir untuk menyeduh mie instan, namun niat itu segera ia urungkan; makan tengah malam hanya akan merusak berat badannya.

Di tengah keheningan, samar-samar ia mendengar langkah kaki melintas di depan kamar. Penasaran, Hannah membuka sedikit celah pintu untuk mengintip.

"Kak Aleta?" gumamnya pelan. Aleta tampak berjalan menuju ruang tamu mengenakan rok jin dan sepatu hak tinggi merah yang mencolok. "Mau ke mana dia malam-malam begini?" Hannah hanya bisa memperhatikannya hingga sosok itu menghilang di balik pintu utama.

Hannah mengedikkan bahu. Ia tahu Aleta memiliki pergaulan yang luas dan cukup bebas—menurut pengamatannya. Kakaknya itu sudah sering tertangkap menyelinap pergi keluar rumah tidak pulang semalaman olehnya—atau mungkin bukan hanya dirinya yang tahu, mungkin penghuni panti lainnya ada yang tahu juga kebiasaan ini, tapi memilih diam sama seperti yang ia lakukan.

Ia nyaris menutup kembali pintunya saat sebuah pikiran impulsif muncul. Pandangannya beralih ke pintu kamar Lian yang berada tepat di seberang. "Kak Lian pasti udah tidur," bisiknya pada diri sendiri.

Didorong keinginan hati, Hannah mengendap keluar. Ia memastikan keadaan sekitar sunyi sebelum perlahan menekan kenop pintu kamar Lian. Pintu itu tidak terkunci. Seperti biasa, Lian tidur dengan lampu tidur yang cukup terang; kakaknya itu memang tidak bisa terlelap dalam kegelapan total.

Hannah menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia mendekati ranjang dengan langkah berjinjit. Lian tampak sudah lelap, telentang dengan mata terpejam rapat. Hannah pun bersimpuh di lantai, tepat di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di atas kasur dekat bahu Lian, lalu mulai memandangi wajah itu dalam keheningan yang mendebarkan.

Bulu mata Lian terlihat panjang dan lentik, wajahnya yang bak pahatan rapi. Hannah mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh alis mata Lian yang hitam tebal. Tatapannya kemudian beralih ke sarung bantal dan selimut yang membungkus tubuh pria itu—semuanya adalah hasil jahitan tangannya sendiri sebagai kado ulang tahun tahun lalu.


"Ah, sebentar lagi Kakak ulang tahun," batinnya. Ia terdiam sejenak, lalu memajukan wajahnya hingga jarak mereka sangat dekat.

"Kakak," bisiknya teramat pelan, nyaris tak bersuara. "Tahun ini, semoga aku bisa minta izin ke Ibu untuk keluar dari kartu keluarga." Ia mengamati setiap lekuk wajah itu sekali lagi. "Kak, please, be mine."

Hannah mencondongkan tubuh, mendaratkan kecupan lembut di pipi Lian, lalu bangkit perlahan. Ia meninggalkan kamar itu dengan langkah berjinjit, sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara.

Sebelum benar-benar menutup pintu, ia menoleh sekali lagi dengan senyum yang mengembang. Hannah tahu tindakannya ini sedikit gila. Ia sadar hubungan mereka sebagai saudara angkat sudah teramat hangat dan erat, namun ia tidak bisa terus membohongi diri sendiri: ia menginginkan lebih. Ia ingin berdiri di hadapan Lian sebagai seorang wanita, bukan sekadar adik.

Ia paham ada taruhan besar di sana. Jika Lian menolak perasaannya, ia terancam kehilangan pria itu sepenuhnya. Namun, baginya itu bukan alasan untuk mundur. Mengutarakan isi hati adalah sebuah keharusan, daripada selamanya terjebak dalam label "adik" dan dipaksa menyaksikan Lian berdiri di pelaminan bersama wanita lain nantinya.

Lian harus tahu perasaannya. Lagi pula, seberapa marah pria yang seumur hidup selalu lembut dan memaklumi segala kesalahannya itu bisa bertindak? Hannah merasa percaya diri bahwa setidaknya Lian tidak akan menjauhinya, meskipun hatinya tidak langsung diterima. Jika itu terjadi, ia hanya perlu berusaha lebih keras sampai Lian benar-benar luluh, bukan?

***

Hari ini jalanan Jakarta tampak lengang. Hujan kembali mengguyur seharian tanpa bosan, memaksa orang-orang yang berlalu-lalang berlindung di balik payung dan jas hujan aneka warna.

Di depan gerbang kampus, Hannah berdiri mengenakan kaus putih yang dilapisi jaket jeans dan rok tutu hitam. Di bawah payung pinjaman dari Rosy, ia terus melemparkan pandangan ke arah timur. Sebenarnya, Hannah sudah melarang Lian menjemputnya. Ia tidak ingin Lian bersusah payah menembus hujan dengan motor, sementara ia bisa pulang sendiri naik bus. Namun, setelah tiga puluh menit menunggu tanpa balasan pesan maupun telepon, Hannah yakin Lian akan tetap datang. Itulah yang selalu dilakukan pria itu selama belasan tahun ini.

Sesuai dugaan, Lian akhirnya muncul dengan jaket dan celana jeans yang basah kuyup. Hannah mendekat dengan raut khawatir sekaligus kesal. "Kakak bener-bener, deh! Udah aku bilang gak usah jemput!" tegurnya sambil memukul pelan bahu Lian.

Lian tertawa renyah. "Apapun yang terjadi, mau gelombang panas atau hujan badai, aku pasti jemput kamu!"

Hannah mengulum bibir, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Bener?"

"Iya, dong! Sudah, ayo cepat naik, kita pulang."

Lihat selengkapnya