Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #4

3. Segitiga Tak Terduga

Lian melangkah menuju dapur. Harum makanan kesukaannya menyeruak, menggoda perutnya yang mendadak lapar meski awalnya ia hanya ingin mengambil air minum. Mengenakan kardigan bergaris biru abu-abu yang melapisi kaus putihnya, Lian berjalan pelan. Suasana Rumah Mawar sangat sepi; anak-anak lain belum pulang sekolah, dan ia sendiri baru tiba tiga puluh menit yang lalu.

Di dekat pintu dapur, Aleta berdiri mematung. Ia menahan napas, diam-diam menyimak pembicaraan dua pengurus panti di dalam sana. Ada Desi, adik ipar Ibu Mawar yang berlogat Minang kental, dan Devi, asisten senior yang sudah bekerja di sana bahkan sebelum Rumah Mawar didirikan.

Tiba-tiba Aleta membeku. Matanya melotot tak berkedip mendengar kenyataan yang tak pernah terlintas di benaknya.

"…tinggal kasih tahu saja tentang orang tua mereka yang sebenarnya. Aku ndak paham kenapa harus dirahasiain, padahal kenyataannya di antara mereka memang ada yang bersaudara kandung," ucap Desi dengan suara seraknya.

"Iya, aku juga pikir begitu. Bukannya ini hal baik yang tidak perlu disembunyiin?" timpal Devi sembari mengunyah acar.

Aleta menggeleng lemah, jantungnya berdegup kencang. "Gak mungkin," bisiknya. Ia berbalik untuk menjauh, namun langkahnya terhenti. Lian sudah berdiri di depannya, menatapnya dalam diam. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Aleta mendongak, tak mampu menyembunyikan guncangan di jiwanya.


Di bagian lain rumah, Hannah mengetuk pintu kamar Lian. "Kakak? Kak!" Karena tak ada jawaban, ia melongokkan kepala ke dalam, namun kamar itu kosong.

Hannah menutup pintu kembali. Ia yakin Lian sudah pulang. Saat itulah, hidungnya menangkap aroma telur dadar yang menggoda. Ia tersenyum tipis; Lian pasti sudah berada di dapur, terbujuk aroma yang sama.

Namun begitu menyusul, pemandangan di dekat dapur yang ia temukan, membuat langkahnya terhenti seketika.

Lian sedang memegang kedua bahu Aleta yang tengah menangis. Pria itu tampak bingung, namun ia terus menepuk bahu Aleta dengan lembut untuk menenangkannya. Gerakan itu secara tak sengaja membawa wajah Aleta bersandar di dada Lian. Aleta membenamkan wajahnya di sana, mencari perlindungan dalam kehangatan sikap Lian.

Lian sendiri sebenarnya sempat mendengar potongan akhir percakapan di dapur tadi ia juga terkejut dengan fakta yang ia dengar barusan itu, namun ketimbang ikut pusing, fokusnya kini teralih pada Aleta yang rapuh. Ia tak mengerti mengapa kakak angkatnya ini menangis setelah mendengar hal itu. Bukankah membahagiakan jika dua orang diantara mereka bertiga benar-benar saudara kandung? Mengesampingkan pertanyaan mengapa hal itu dirahasiakan, tapi bukannya tak ada yang perlu ditangisi dari hal itu?

Sementara Hannah tercekat. "Nggak..." Matanya membulat tak percaya. Ia segera menarik diri ke balik tembok. Punggungnya yang menempel di dinding terasa dingin, kakinya bergetar hebat. Melihat mereka berpelukan membuat ulu hatinya nyeri, ia perlahan merosot ke lantai, menggelengkan kepala berusaha menyangkal kenyataan. Tapi bagaimanapun disangkal, pemandangan itu nyata: Lian memeluk Aleta. Dan hatinya terluka, dadanya sesak, Hannah bangkit dan berlari kembali ke kamarnya, memilih untuk mengunci diri demi mencari ketenangan yang jelas-jelas terenggut paksa.


Beberapa jam kemudian, saat pergantian hari menuju ulang tahun Lian semakin dekat, Hannah memaksa dirinya keluar rumah. Ia mencoba mengubur kegelisahan yang menggerogoti pikirannya dan fokus mencari kado.

Meski langkahnya masih terasa limbung, ia berhasil menemukan hadiah yang tepat tepat sebelum toko ditutup: sebuah jam tangan sederhana. Lian memang tidak suka memakai aksesori di pergelangan tangan, namun justru itulah alasan Hannah memilihnya. Ia ingin menjadi orang pertama yang melingkarkan jam di tangan Lian, agar setiap kali pria itu melihat waktu, ia akan selalu teringat pada dirinya.

Dengan kado yang terbungkus rapi serta kue tart di tangan, Hannah menaiki bus terakhir. Sepanjang jalan, ia terus mengelus bungkusan itu, berdoa dalam hati agar semua ini hanya salah paham dan rencananya memberikan kejutan akan berjalan lancar. Sejenak melupakan apa yang ia lihat tadi siang. Memutuskan untuk tetap fokus pada rencana awalnya.

Sementara di Rumah Mawar, Aleta mengenakan mantel rajut merahnya untuk menutupi gaun hitam ketat tanpa lengan yang membungkus tubuhnya. Ponselnya berdering—tanda jemputannya telah tiba. Ia mengintip keluar kamar; suasana sunyi, semua pintu tertutup. Dengan menjinjing sepatu stiletto hitamnya, ia melesat keluar menuju pintu utama dengan sangat hati-hati.

Turun dari bus, Hannah berjalan menyusuri trotoar yang dingin menuju rumah. Penjual martabak yang biasanya mangkal di jalan ini dengan asap mengepul sudah tak ada, membuat suasana makin sunyi dan dingin. Hannah menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan kejadian siang tadi yang terus menerus mengusik pikirannya.

Lian memeluk Aleta karena dia kakaknya, pikirnya meyakinkan diri sendiri.

Namun, hatinya menyanggah; ia sendiri memeluk Lian bukan sekadar sebagai adik.

"Nggak, pikirin yang wajar saja. Cuma aku yang punya perasaan kayak gini," gumamnya sambil terus melangkah, berusaha meyakinkan selain dirinya, tak ada yang melihat satu sama lain dengan tatapan cinta.

Tiba-tiba, ia melihat sosok keluar dari pagar Rumah Mawar. Hannah refleks bersembunyi di balik pohon. Itu bukan orang asing; itu Aleta yang melenggang dengan sepatu hak tingginya. Karena sudah lama penasaran dengan kegiatan malam Aleta dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk mencuri tahu, Hannah memutuskan untuk mengikutinya diam-diam dari balik semak di sepanjang jalan.

Di halte bus, Aleta berhenti dan duduk menunggu. Hannah berjongkok di balik semak-semak paling tinggi di seberang toko alat pancing, terus mengawasi. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Hannah menguap, merasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Namun, sebuah pikiran mengejutkannya: bus yang ia naiki tadi adalah bus terakhir. Jadi, sedang apa Aleta menunggu di sana?

Lihat selengkapnya