Ponselnya berdering kencang. Hannah harus merangkak dan mengulurkan tangan ke kolong tempat tidur untuk menggapai benda itu sembari mengumpat pelan karena teramat susah diraih, bertanya-tanya dalam hati bagaimana ponselnya bisa tergeletak di sana. Menangis semalaman membuat kepalanya terasa berdenyut nyeri, dan bunyi dering itu kian memperparah sakitnya.
Di layar tertera nama Rosy. Baru saja hendak diangkat, panggilan itu terputus. Tak mengherankan—Rosy memang tidak pernah sabar menunggu nada sambung. Tak lama, sebuah pesan masuk:
“Hannah, lu belum bangun? Hari ini ujian, sampai telat!”
Hannah tersenyum tipis sambil bangkit dari tempat pembaringannya. Meski aneh, Rosy adalah teman yang sangat perhatian. Ia melempar ponselnya ke bantal, meraih handuk, lalu melangkah keluar kamar.
Ia sudah merenung semalaman; ia tidak boleh menyerah sekarang. Mungkin pengakuannya semalam terlalu naif dan mendadak, tapi ia tak ingin Lian membencinya. Ia harus berjuang untuk mendapatkan hati Lian kembali, karena ia membutuhkan Lian lebih dari siapapun.
Saat berbalik setelah menutup pintu kamarnya, langkah Hannah terhenti di depan pintu kamar Lian yang tertutup rapat. Ia menatap permukaannya dengan nanar, tak berani mengetuk apalagi memanggil. Ia tidak tahu apakah Lian masih di dalam atau sudah berangkat. Ia hanya bisa menunduk lemas, merindukan senyum pria itu sembari memaki dirinya sendiri yang gagal mengendalikan keadaan semalam.
Sementara di kampusnya, Lian terpekur di bangku besi yang dingin di pelataran kelas. Pandangannya lurus ke taman kampus yang dinaungi gemerisik dedaunan yang menenangkan, kontras dengan bimbang yang berkecamuk di dadanya.
Sebenarnya, hari ini ia tidak ada jadwal kuliah. Seharusnya, ia menghabiskan waktu bersama Hannah—berkeliling pusat perbelanjaan, menyesap kopi, atau mencari pertunjukan musik kesukaan gadis itu. Sebuah rencana yang ia tahu pasti akan mengukir senyum cerah di wajah Hannah.
Senyum getir memudar saat Lian menatap ujung sepatu kulitnya yang mengkilap. Di hari ulang tahun yang seharusnya ceria, ia justru terbelenggu ketidakberdayaan. Jangankan mengajak Hannah jalan-jalan, untuk sekadar menatap wajahnya pun nyalinya menciut. Amarah dan kekecewaan melilit hatinya; marah pada Hannah atas pengakuannya yang "bodoh", namun jauh lebih pedih, marah pada diri sendiri. Ia terhukum oleh ingatan akan tangannya yang tanpa sadar menampar wajah Hannah—sebuah penyesalan yang membuatnya tak sanggup bahkan hanya untuk mengucap kata maaf.
Ia mendengus muak pada dirinya sendiri. Hatinya kian gusar. Jika ia memang hanya menganggap Hannah sebagai keluarga, mengapa ia harus sampai salah tingkah begini?
Mungkinkah ada celah antara apa yang diyakini logikanya dan apa yang bergejolak di hatinya?
Bukankah ia sudah menolak Hannah?
Lalu kenapa sekarang ia yang merasa malu dan sungkan untuk bertemu? Padahal dia yang jelas-jelas menarik garis tegas untuk menekankan hubungan kekeluargaan mereka. Gugatan batin itu merusak ketenangan semunya.
"Argh!" keluh Lian sembari mendongak ke langit biru, seolah mencari jawaban di sana. Ia menggenggam erat bingkai bangku besi, benar-benar tidak mengerti akan badai emosi yang mengamuk di dalam dirinya.
***
Matahari sudah lama tenggelam. Hannah masih berdiri di depan gerbang kampus yang sudah digembok dan dirantai rapat. Kakinya kesemutan setelah berjam-jam mematung di sana, namun ia tak beranjak sedikit pun. Ia berkali-kali menelepon Lian, namun tak ada jawaban. Pesan-pesannya pun diabaikan.
“Kakak ada di mana?”
“Kakak, masih marah?”
Tak ada satupun yang mendapat tanggapan.