Pintu kamar Lian kembali terayun terbuka. Sama seperti beberapa waktu lalu, Lian mendapati sosok Ibunya, berdiri di ambang pintu. Namun, kali ini wajah sang Ibu tak sekadar cemas; guratan kekhawatiran yang menggusar kini terlihat nyata, membuat rautnya tampak keruh di bawah remangnya cahaya lorong.
“Lian, kamu benar-benar gak tahu di mana Hannah? Ini sudah hampir tengah malam. Hp-nya gak aktif,” ucap Mawar, suaranya tercekat oleh rasa takut yang tak tertahankan.
“Aku…” Lian tersentak, bangkit dari kursinya dengan gerakan terbata. Kebingungan dan rasa bersalah mencengkeramnya. Ia merasa muak pada dirinya sendiri yang kini tak sanggup menawarkan sedikit pun kepastian.
“Kamu tahu nomor telepon teman-teman Hannah, kan?” sela Mawar, nadanya tegas namun menyimpan kepanikan.
Lian mengangguk kaku.
“Telepon mereka sekarang. Ibu akan coba menghubungi kenalan yang lain,” perintah Mawar cepat, lalu berbalik pergi, meninggalkan Lian dalam keheningan yang menyesakkan.
Lian masih terpaku di ambang pintu, matanya melirik ke arah jam dinding. Jarum jam hampir menyentuh angka dua belas. Kakinya seolah direkatkan pada lantai; nalarnya berteriak untuk segera bertindak, namun hati kecilnya seakan menariknya kembali ke jurang keraguan.
Ia menoleh ke arah meja belajar, tempat ponselnya tergeletak bagai benda asing. Pertarungan sengit antara logika dan emosi di dadanya akhirnya dikalahkan oleh bayangan wajah gusar sang Ibu. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, ia meraih ponsel itu, dan layar seketika menampilkan rentetan pesan teks yang terabaikan.
“Dia masih nunggu?” gumam Lian, pertanyaan itu lebih berupa seruan tak percaya. Matanya membulat, kesadaran menghantamnya. “Dia masih nunggu!” serunya pada diri sendiri, sebuah janji yang pernah ia ucapkan, langsung mengalahkan semua keraguannya.
Cepat-cepat ia menyambar jaket yang tergantung di samping lemari, mengenakannya dengan tergesa, dan berlari keluar kamar. Pikirannya kini benar-benar kacau balau; untuk pertama kali dalam hidupnya, Lian merasa terombang-ambing oleh gelombang perasaan yang tak terdefinisikan. Hanya satu yang jelas: ia harus membawa Hannah pulang. Masalah di antara mereka, ia yakinkan diri, bisa diselesaikan nanti.
Ia menuruni anak tangga dengan langkah terburu, berbelok menuju area parkiran yang diselimuti kegelapan pekat. Penjaga rumah, sepertinya, luput menyalakan lampu garasi. Lian merogoh kunci dari saku celana dan menaiki motornya. Namun, ia tak segera menyalakan mesin. Ia terdiam sejenak ketika telinganya menangkap derit pelan pintu rumah yang kembali terbuka, disusul suara langkah kaki yang anggun berjalan keluar.
Lian turun kembali dari motornya, berdiri mematung memandangi sosok yang kini menuruni tangga. “Kak Aleta?” bisiknya dalam hati, diliputi keheranan. Aleta tampil berbeda: ia mengenakan mantel bulu hitam yang mewah, dan langkah kakinya berdentum tipis di lantai semen berkat stiletto merah menyala, menuju gerbang utama.
Melihat Aleta menyelinap keluar rumah diam-diam dengan dandanan yang tak biasa itu, rasa ingin tahu yang tajam menusuk benak Lian. Ia berusaha menampik dugaan buruk yang berkelebat; sepengetahuannya, Aleta membenci hiruk pikuk kehidupan malam. Mungkin dia punya urusan mendesak yang dirahasiakan, pikir Lian. Aleta memang sosok yang terbiasa menutupi setiap masalahnya. Entah dorongan apa, kini kakinya justru bergerak tanpa sadar, mengikuti bayangan Aleta yang mulai menjauh.
Aleta mendadak menghentikan langkahnya dan duduk di bangku halte yang dingin. Lian segera melompat, menyembunyikan siluet tubuhnya di balik batang pohon rindang di tepi jalan—ia tak tahu jenis pohon apa itu, tapi guguran daunnya yang berwarna merah cerah tampak kontras dan ironis dengan pergolakan di hatinya. Dilitiknya, Aleta tampak santai, jemarinya sibuk menari di atas layar ponsel. Pandangan Lian kemudian beralih, menyapu jembatan penyeberangan yang berjarak sekitar tiga puluh meter darinya. Sekilas, ia menangkap bayangan aneh, sosok anak kecil berlari dan menghilang ke dalam pekatnya area gelap di bawah jembatan.
“Sora, anak nakal itu masih aja main di sana!” desis Lian, mencoba mengusir kekesalan kecil yang tak relevan.
Namun, perhatiannya segera direnggut oleh gemuruh mesin. Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur pelan dan berhenti tepat di depan halte. Pintu penumpang terbuka, menampakkan seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis di bagian ubun-ubun. Aleta tersenyum—senyum yang terasa asing di mata Lian—dan bangkit dari tempat duduknya, melangkah anggun menghampiri pria itu.
“Kau sudah lama menunggu, Sayang?” Suara pria itu terdengar serak dan berat, namun Lian bisa menangkapnya jelas dari tempat persembunyiannya.
Aleta menggeleng manja. “Nggak, baru saja.”
“Ahh, kamu benar-benar cute!” Pria itu tanpa ragu mencubit pipi Aleta, lantas mendaratkan sebuah ciuman di wajahnya.
Tangan Lian seketika bergetar hebat. Apa yang baru saja disaksikannya? Ia tercekat, sampai-sampai ia meragukan penglihatannya: apakah wanita itu benar-benar Aleta? Apakah ia sedang terperangkap dalam delusi yang mengerikan? Namun, faktanya tak terbantahkan: itu memang Aleta. Lantas, adegan memuakkan apa yang sedang ia saksikan?
Mendadak, memori akan perkataan Hannah semalam menyentak benaknya: “Kakak, Kak Aleta tak seperti yang Kakak pikir!” Apakah mungkin Hannah telah lebih dulu menyaksikan pemandangan yang sama, hingga ia berani melontarkan peringatan itu?
Ketika kedua sosok itu terlihat berpelukan, dorongan brutal untuk merangsek keluar dan menghantam wajah pria itu hampir tak tertahankan. Namun, Lian mengeraskan rahang, ia tak boleh menyimpulkan pengkhianatan ini dalam sekejap.
“Aku belum sempat membayar tagihan ponselku, makanya aku gak bisa telepon duluan,” tutur Aleta dengan nada memelas. Pria tua itu lantas mengeluarkan dompet tebal dari balik mantelnya, menyambar beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya pada Aleta. Dari kejauhan, Lian bisa melihat bahwa nominal uang itu terlalu berlebihan hanya untuk melunasi tagihan telepon.
Amarah membuncah, mendidih dalam dada Lian. Jadi, seperti inikah Aleta selama ini? Uang haram seperti inikah yang ia gunakan untuk membantu biaya kuliah mereka? Rahangnya merapat keras. Pemandangan yang dilihatnya sungguh menjijikkan, mengoyak-ngoyak rasa hormatnya.
“Apa kamu haus?” tanya pria tua itu. Aleta mengangguk. Pria itu lantas berbalik, berjalan menuju minimarket 24 jam yang berdiri tak jauh dari sana.
Begitu pintu minimarket tertutup di belakang punggung pria itu, Aleta buru-buru menghitung tumpukan lembaran uang itu dengan senyum penuh kemenangan, lalu menyesakkan uang itu ke dalam tas kecilnya. Saat ia mengangkat wajah, matanya terbelalak, senyumnya lenyap.
“Kak, kakak lagi ngapain?” Suara Lian serak, namun tatapannya bengis, seolah memancarkan api kemarahan.
Bibir Aleta gemetar hebat. “A-aku…” Ia tak mampu merangkai kata.
“Ini yang selama ini kakak kerjain?” sela Lian, maju selangkah. “Apa kakak bener-bener perempuan macam ini?!” bentaknya kencang, menggema di kesunyian malam.
“Ya!” Aleta membalas berteriak, suaranya pecah. “Aku memang kayak gini! Kenapa?! Kamu malu?!”