Hannah berjalan kaku, langkah demi langkah, mendekati pekarangan Rumah Mawar. Seluruh persendiannya terasa ngilu, kelelahan fisik dan batin menghimpitnya. Tepat pukul setengah satu malam, ia menyerah pada penantian yang sia-sia, kembali dengan taksi ke rumah, tubuhnya lemas, namun ia terus menyeret kakinya untuk meneruskan langkah.
Semakin dekat gerbang rumah, ia menangkap pendaran lampu merah yang bergerak-gerak, menyinari halaman dengan cahaya yang mengganggu. Saat turun dari taksi, Ia berhenti sejenak, memperhatikan. Matanya perlahan melebar, rasa takut yang teramat besar tiba-tiba muncul di dada kemudian mencekik lehernya hingga sulit bernafas. Ia kembali berjalan, mengerahkan sisa tenaga untuk melewati gerbang. Kerumunan orang sudah menyesaki halaman depan.
Lampu merah yang berkedip-kedip itu berasal dari ambulans yang terparkir di depan rumah. Dengan nafas tertahan, ia menyapukan pandangan ke sekeliling; orang-orang yang berkerumun di sekitar ambulans tak lain adalah penghuni Rumah Mawar dan para tetangga. Wajah mereka panik, bingung, ketakutan, juga sedih.
Hannah melangkah mendekat, perlahan, seolah tubuhnya ditarik oleh suatu gaya gravitasi yang berat. Wajahnya mengeras, matanya menerawang ke kejauhan, mencari-cari jawaban. Ia membelah kerumunan yang sunyi itu dan mendekat. Dilihatnya Ibu Mawar berdiri, terisak-isak hebat, wajahnya memerah dan matanya sembab karena tangisan yang tak terperi. Ia gemetar. Semua mata yang menangkap kehadirannya segera beralih seakan menghindari tatapannya, entah karena apa, namun jelas ekspresi berat yang ia rasa, sesaat kemudian jemari lembut menyentuh punggungnya, disertai isak tangis tertahan.
“Hannah!” seru Ibu Mawar di sela-sela tangisannya yang memilukan.
Hannah tak menghiraukan yang lain. Ia mendekat ke pintu belakang ambulans. Di sana, di atas tandu, terbaring sesosok tubuh yang seluruhnya telah diselimuti kain putih. Dengan tangan yang gemetar hebat, Hannah meraih sudut kain di bagian wajah, menariknya perlahan.
Sebuah pekikan tertahan lolos dari bibirnya. Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar karena keterkejutan yang brutal. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya kaku, ia menggeleng, terus menggeleng, menolak apa yang dilihat matanya. Ia tarik seluruh kain itu, menyingkap seluruh tubuhnya.
Itu Lian.
Kakaknya terbujur kaku, dengan ceceran darah di sekujur tubuhnya.
“Kakak…” ucap Hannah, bibirnya bergetar tanpa suara. “Nggak! Nggak!” Air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia terus menggeleng. “Gak mungkin! Kakaaak!” teriaknya, suara kepedihan yang menusuk malam. “Kakaaak!”
Ia menjatuhkan diri, memeluk jasad Lian erat-erat, di tangannya tubuh Lian terasa seperti batu, tak ada lagi kehangatan. Dingin, terasa menusuk di permukaan kulitnya. Mawar mendekatinya, merangkul punggungnya dengan erat, berusaha mengangkat tubuh Hannah yang ambruk di tanah. Namun Hannah menolak, ia menangis kencang, mengguncang-guncangkan jasad Lian yang ia peluk kuat-kuat.
“Kakak bangun! Kau gak boleh begini! Kakaaaak! Banguuuuuun!” teriaknya, histeris.
Mawar tak sanggup lagi menahan tubuh Hannah yang terus meronta, ia pun melepaskan dekapannya agar tak menyiksa badan Hannah yang terus menolak tangannya, ia berdiri tepat di sampingnya, kembali tenggelam dalam kesedihan yang meremukkan jiwanya..
“Kakak, kamu janji kan gak bakal ninggalin aku!” Hannah memegang wajah Lian dengan kedua tangannya. Tak ada jawaban. Wajah Lian terasa teramat dingin, kaku, dan pucat. “Kakak, kamu gak bisa kayak ini! Kamu gak boleh ninggalin aku! Kamu udah janji, Kak! Kakak bangun!”
Tak jauh dari sana, di ambang pagar Aleta berdiri membeku, ia masih tak percaya saat mendapat telepon sejam lalu, tapi kini, saat menyaksikan penderitaan Hannah yang amat tersiksa, ia tahu, kenyataan pahit itu melukai semua orang, tak terkecuali dirinya.
Ia tak bisa berkata apa-apa. Hatinya sendiri masih menolak percaya bahwa Lian telah tiada, hanya berselang beberapa jam setelah pertengkaran hebat di antara mereka. Rasa sesal yang menghantui mencekiknya.
“KAKAK!!” Hannah berteriak, sampai dadanya terasa sesak, ia semakin sulit bernafas. “Kenapa semua hanya diam saja?” teriaknya pada orang-orang di sekitarnya. “Cepat bawa Kakak ke rumah sakit! Cepat bawa!” perintahnya pada siapapun yang berani menatapnya.
Matanya melotot merah, ia marah pada dunia. Ia marah pada Lian yang hanya terdiam di atas tandu, tak mau menggubrisnya. Ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang disebabkan oleh pikirannya yang terlalu kacau, ia meyakinkan diri.
Mawar mendekap Hannah erat-erat, semua yang menyaksikan adegan itu semakin terisak. Mereka semua tahu: Lian adalah separuh hidup Hannah. Mereka saling membutuhkan dan tak terpisahkan.
“Kakak, Kakak,” ujar Hannah terus menerus, suaranya kian meredup, hingga akhirnya ia tak lagi bertenaga untuk berbicara, hanya membiarkan air mata mengering di pipi jasad kakak, sekaligus pria yang ia cintai.