Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #8

7. Orang yang Mencintai

Mengenakan kemeja putih lengkap dengan jas dan dasi hitam, Leo bergeming di dalam mobilnya yang terparkir di depan gerbang sekolah menengah pertama. Ponsel yang menempel di telinga mengeluarkan suara samar dari seberang saluran. Ekspresinya datar; ketenangannya hanyalah topeng yang menutupi gejolak hebat di dalam diri.

"Lu yakin gak dateng? Gimana pun juga, dia sahabat kita, Leo," desak Thomas dari seberang telepon.

Alih-alih menjawab, Leo menurunkan ponselnya, memutus panggilan dan, melemparkannya ke kursi belakang. Tangan kirinya menekan pelipis yang berdenyut-denyut, sementara tangan kanannya meremas kuat kemudi. Ia selalu tersiksa tiap kali merasa frustasi, dan hari ini, ia kalah telak oleh rasa ini.

Saat kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat empat tahun silam, dunia Leo runtuh. Ia tenggelam dalam depresi yang hanya bisa ia bagikan dengan psikolog-nya, Indi, yang juga wanita yang ia suka sejak kuliah. Sosok yang setia menemani setiap sesi terapi, hingga dia hampir sembuh sempurna dari PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)-nya. Namun besok, wanita itu akan mengucap janji suci, menikah dengan pria lain—sosok asing yang nyaris tak dikenal Leo seumur hidupnya.

Luka cinta bertepuk sebelah tangan itu terasa memuakkan. Ia enggan hadir, namun semakin ia menimbang alasan, semakin dalam ia terjebak dalam sakit kepala yang menghimpit.

Tok! Tok!

Ketukan di kaca mobil memutus lamunannya. Di luar, seorang gadis kecil tersenyum riang. "Kakak!" serunya.

Leo segera membuka pintu. "Lara, udah selesai?" Ia membelai lembut kepala adik semata wayangnya itu dengan lembut. Sosok hangat Leo hanya untuk adiknya, semua orang di dunia ini hanya bisa mendapat perlakuan dinginnya, tak terkecuali.

"Udah, Kak!" sahut Lara penuh semangat.

Kehadiran Leo di depan sekolah langsung mencuri perhatian. Dengan postur tegap lebih dari 180 sentimeter, ia adalah magnet bagi mata para siswi yang baru keluar gerbang. Meski begitu, daya tariknya dibalut peringatan: tatapan mata Leo selalu tampak lelah namun tajam dan dingin, seolah mampu membenamkan siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama ke dalam pusara kegelapan tak berujung.

"Ayo, masuk ke mobil," ajak Leo buru-buru. Ia benci menjadi pusat perhatian.

"Iya, Kak. Ada yang mau aku kasih lihat!" seru Lara antusias. Gadis tiga belas tahun itu mengangkat selembar kertas. "Kakak, aku dapat peran utama di drama sekolah! Aku bahkan mengalahkan Jeni!"

Leo hanya memberikan senyum tipis yang nyaris tak kasat mata tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sisa-sisa kehangatan yang bisa ia berikan ke adiknya, karena pikirannya masih terperangkap pada undangan pernikahan besok.

Melihat tanggapan datar itu, senyum Lara perlahan memudar. Ia bisa merasakan awan kelabu yang menyelimuti kakaknya yang memang jarang terlihat bahagia itu. Ia memeluk tasnya erat, menatap profil tegang Leo dengan tekad kecil yang sudah lama mengendap dalam benaknya: ia ingin membuat kakaknya bahagia lagi, seperti saat orang tua mereka masih ada. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Jadi seperti biasa, ia memilih diam, seraya Leo mulai mengendarai mobil menjauh dari sekolahnya.


Di persimpangan jalan, lampu lalu lintas berganti merah. Leo menghentikan mobilnya, namun nafasnya terasa berat, seolah oksigen di dalam kabin mendadak menipis. "Mungkin Thomas bener... bagaimanapun dia sahabat lama," gumamnya parau. Kepalanya berdenyut hebat, menciptakan kilatan cahaya di sudut matanya yang membuat pandangannya mulai kabur dan terdistorsi.

"Kak, lampunya udah hijau! Ayo!" seru Lara, menyentuh lengan Leo guna menyadarkannya dari lamunan yang kelam.

"Ah, iya." Leo mengerjap, memaksakan fokusnya kembali. Ia melepas rem tangan dan menginjak pedal gas.

Namun, tepat saat mobil mereka meluncur ke tengah persimpangan, sebuah raungan mesin motor memecah kesunyian. Dari arah kiri, sebuah motor merah melesat bagai peluru, memotong jalur mereka dengan kecepatan gila tanpa sedikit pun mengerem.

Lihat selengkapnya