Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #9

8. Alasan Bertahan

Di sofa putih yang dingin, Leo duduk terdiam kaku. Di hadapannya, di atas meja kaca, tergeletak sebuah botol kecil transparan berisi tablet obat. Sejak tadi, pandangannya terus terpusat pada benda rapuh itu.

Ia telah lama menolak kembali ke rumah sakit tempat ia dulu menjalani rehabilitasi. Ia menghindar untuk duduk di hadapan Indi sebagai pasien lagi. Bahkan untuk kontrol rutin sebelum dinyatakan sembuh total, butuh kerja ekstra dari Thomas untuk membujuknya pergi.

Tapi kali ini, segalanya berbeda.

Leo sendiri yang datang—seorang diri—ke rumah sakit tempat dulu dirawat, menemui psikiater lamanya—professor Indi di kampusnya. Tujuannya hanya satu: meminta obat penghilang rasa sakit yang menggerogoti kepalanya, sekaligus pil penenang yang bisa membantunya tidur. Sudah hampir empat puluh delapan jam matanya terjaga, dipaksa melawan kantuk.

Berhari-hari, setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia terus dihantui bayangan-bayangan buruk. Semakin ia berusaha menghindar, semakin jelas bayangan kematian orang tuanya dan Lara muncul dalam ingatannya. Kepalanya terasa berdenyut hebat setiap kali bangkit dari kasur, dan rasa sakit itu akan terus menyiksa hingga ia kembali merebahkan diri di malam hari.

Leo benar-benar hancur dan berantakan. Ia memang pribadi yang dingin sejak kecil, tetapi kini ia berubah menjadi sosok yang beku membatu, terperangkap dalam duka.

Di balik tembok, tak jauh dari ruang tamu, Harti memperhatikan punggung berat Leo dengan cemas. Ia tahu betul, obat di depan Leo itu tidak bisa didapatkan sembarangan. Dokternya telah melakukan pemeriksaan intensif pada Leo kemarin—dan Harti menemani.

Obat itu diberikan dengan ‘catatan khusus’ yang tegas: tidak boleh dikonsumsi lebih dari satu kali sehari, dan tidak boleh melebihi dua tablet dalam sekali minum. Salah satu komposisi obat itu memang dapat membuatnya merasa lebih tenang. Namun, pemberian itu bukannya tanpa resiko. Dokter menekankan bahwa obat ini memiliki efek samping serius jika dikonsumsi berlebihan, mulai dari gangguan halusinasi hingga yang terparah, melemahkan kerja otak. Harti kini memikul beban untuk benar-benar mengawasinya, tahu betul rasa tersiksa yang Leo rasakan akan membuat pria itu menelan obatnya tak sesuai anjuran.

***


Lara, yang baru saja mencicipi kehidupan selama tiga belas tahun, kini sudah hampir seminggu terperangkap dalam sebuah dimensi yang tak pernah terjamah oleh imajinasinya. Ia tak pernah berandai, apalagi mendengar cerita, tentang adanya suatu eksistensi yang mengambang di antara garis tipis kehidupan dan kematian, seperti yang dialaminya saat ini.

Seumur hidupnya, ia adalah penakut ulung, bahkan tak pernah sanggup menonton film horor. Apakah kenyataan yang mencekam ini—dimana ia bisa melihat namun tak tersentuh, mendengar namun tak terdengar—adalah kisah yang biasa dipertontonkan di layar kaca? Apakah orang-orang yang masih bernafas mengetahui rahasia mengerikan ini? Atau, jangan-jangan, ia tak memahami apapun karena terlalu dini meninggalkan dunia? Ia menduga-duga, mungkin saja hanya jiwa-jiwa yang mencapai usia kedewasaanlah yang punya pemahaman akan misteri setelah kematian ini.

Maka, didorong oleh kebutuhan yang mendesak akan jawaban, Lara menghabiskan hari-hari yang terasa tak berujung itu untuk mengembara tanpa arah. Ia berjalan, menelusuri setiap sudut kota, berusaha keras menemukan sosok bayangan lain yang mungkin memiliki nasib serupa. Berhari-hari, tanpa merasa lelah. Ia berusaha mencari jawaban. Namun, pencariannya hanyalah kesunyian yang memekakkan. Tak ada petunjuk, tak ada jawaban. Ia tak menemukan siapapun yang bisa membantu.

Pada akhirnya, dengan hati yang hampa, ia kembali ke sisi Leo. Ia berdiri di dekat kakaknya, sepasang mata beningnya terpaku pada sosok itu. Ditatapnya Leo yang hari demi hari kian kehilangan gairah hidup, seolah jiwanya ikut terkikis bersamanya, menyisakan kesedihan yang tak terucapkan di ruang hampa Lara.

Leo tengah menatap sebuah foto berbingkai hitam di atas meja kerjanya. Di dalam foto ada tiga orang yang tengah mengenakan baju wisuda dan topi toga. Ketiganya terlihat tengah tertawa lepas karena bahagia ketika foto tersebut diambil.

Dua pria, satu wanita.

Yang paling kiri adalah Thomas. Di dalam foto itu ia terlihat membuka mulutnya lebar, badannya sedikit membungkuk, dan kedua tangannya memamerkan ijazah sarjana yang baru saja mereka terima. Yang paling kanan adalah Indi, yang juga sahabat mereka sejak lama, dengan rambut panjang hitam dan tak berponi ia mengenakan topi toga yang hampir terjatuh karena terlalu miring dari kepalanya. Bibirnya berwarna merah muda, ia tersenyum lebar hingga matanya tak terlihat sama sekali.

Di tengah, mengenakan topi toga dengan sempurna, satu-satunya yang berdiri tegak namun tak menatap lensa kamera. Leo, dengan tangan kirinya yang setengah melingkar di punggung Indi. Dengan senyuman lebar itu, matanya masih terlihat meskipun dari samping. Ia tengah menatap Indi.

Sebuah rahasia yang Leo pendam sendirian, tentang kebenaran hari itu. Sebelumnya ia sudah berjanji pada Thomas, di hari wisuda itu, dirinya akan menyatakan perasaannya ke Indi. Namun ternyata ia—yang bahkan sudah membeli sebuah kalung sebagai hadiah pun—mengurungkan niatnya. Bukan karena ia pengecut, tapi karena ia tak yakin dengan perasaannya sendiri.

Aneh memang, tapi Leo memang orang yang penuh perhitungan. Ia memikirkan segala hal dengan mendalam dan matang. Dan yang membuatnya mengurungkan niatnya hari itu—bahkan sampai saat ini adalah—karena dia belum juga selesai menghitung; Seberapa besar rasa sukanya hingga harus diungkap?; Seberapa harus dirinya memperjuangkan Indi untuk hidup bersamanya?; Apakah dia benar-benar ingin hidup selamanya bersama Indi?

Ia masih tak menemukan hasil bulat dari perhitungannya yang ganjil.


Lihat selengkapnya