Sesampainya di kantor, Leo tidak melangkah masuk ke dalam gedung. Ia hanya memanggil salah seorang karyawan, menyerahkan kunci mobil Thomas untuk dikembalikan ke kafe, dan memberikan sejumlah uang agar orang itu bisa kembali dengan taksi. Sambil merenggangkan ikatan dasi hitam di kerah kemeja biru mudanya yang mulai terasa mencekik, ia melepaskan jas hitamnya dan masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Begitu pintu tertutup rapat, Leo melemparkan jasnya ke jok samping. Ia terdiam cukup lama, memandang kosong lurus ke depan melalui kaca jendela yang dingin.
Hari ini tepat seminggu sejak kematian Lara. Pikirannya masih kacau balau, dan hatinya terasa diremas setiap kali bayangan kecelakaan itu melintas di benaknya.
Selama seminggu terakhir, Leo bahkan tidak sanggup menyentuh kemudi. Meski bangkai mobil yang hancur itu sudah disingkirkan dari pandangannya, ia tetap merasa lumpuh untuk mendekati mobilnya yang lain. Namun tadi, dorongan untuk menghindari Indi jauh lebih kuat daripada traumanya. Tanpa sadar, ia telah mengendarai mobil Thomas sampai ke parkiran ini.
Kini, saat tangannya kembali menggenggam kemudi, sebuah kesadaran menghantamnya: ia sudah bisa menyetir lagi. Dan satu-satunya tempat yang ingin ia tuju adalah tempat di mana sisa-sisa kebahagiaannya berada. Tempat di mana seluruh keluarganya kini bersemayam, membiarkannya bertahan hidup sendirian di dunia yang sunyi ini.
Leo memutar kunci, menyalakan mesin yang menderu pelan, dan perlahan membawa mobilnya bergerak keluar dari area parkir gedung menuju pemakaman.
Leo berhenti sejenak di tengah perjalanan untuk membeli tiga karangan mawar putih—bunga kesayangan mendiang ibunya. Setelah itu, ia memacu mobilnya meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta.
Mungkin terasa ironis, namun Leo justru merasakan kedamaian saat roda mobilnya mendekati area pemakaman. Perbukitan hijau yang membentang dan aliran sungai di bawah jalur yang ia lalui menciptakan suasana sunyi yang menyejukkan. Pemandangan ini, untuk sesaat, mampu meredam riuh rendah kekacauan di kepalanya.
Ia memperlambat laju mobilnya ketika menangkap sesosok wanita yang berjalan dengan langkah lunglai dan tergontai di tepi jalan dari arah berlawanan. Leo spontan menginjak rem saat melihat wanita itu tiba-tiba tersungkur ke tanah melalui kaca spion.
Ia terdiam sejenak, menimbang apakah ia harus turun dan membantu. Namun, wanita itu segera bangkit dan memaksakan diri untuk kembali melangkah. Di belakang wanita itu, Leo melihat seorang pria yang berjalan perlahan, seolah sedang mengawasinya dalam diam.
“Mereka pasti baru balik dari pemakaman,” gumam Leo lirih sembari kembali menginjak pedal gas. Ia tahu persis rasa lemas yang melumpuhkan sendi-sendi itu; rasa kehilangan yang membuat bumi seolah tak lagi berpijak.
Biasanya, Leo bukan orang yang peduli pada drama orang asing. Namun, kesadaran bahwa mereka mungkin baru saja mengunjungi "tetangga" keluarganya di pemakaman ini menciptakan ikatan batin semu yang aneh. Ia kembali melirik spion, ingin memastikan wanita itu tetap tegak dan tidak jatuh lagi.
Namun, matanya mendadak mengerjap. Leo menginjak rem dengan sentakan keras hingga mobilnya berhenti total. Ia menoleh ke belakang dengan dahi berkerut tajam.
“Ke mana cowok yang di belakangnya tadi?” gumamnya heran.
Padahal baru beberapa detik yang lalu ia melihat ada dua orang di sana. Sekarang, hanya wanita itu yang berjalan sendirian di tengah sepinya jalanan. Bayangan pria itu lenyap begitu saja tanpa jejak.
“Apa aku salah lihat?” Leo meraba pelipisnya. Mungkin efek dua butir obat penenang yang ia telan semalam mulai mengacaukan sarafnya. Otaknya mulai mengirimkan sinyal-sinyal eror yang tak masuk akal.
Di belakang Hannah, Lian menoleh, menatap mobil yang baru saja melintasi mereka. Seandainya ada satu orang saja yang bisa melihat atau mendengarnya, ia pasti akan menghentikan mobil itu dan memohon agar sang pengemudi membawa Hannah ke halte terdekat. Namun, ia hanyalah sunyi yang tak terdengar. Meski mobil itu sempat berhenti dua kali—seolah pengemudinya memastikan sesuatu—Lian tak berdaya untuk mencegahnya pergi lagi.