Meski perasaannya masih penuh duka. Meski kejadian malam itu masih menghantuinya. Aleta tak bisa membiarkan dirinya untuk menunjukkan kesedihan—hidupnya bahkan tak mengizinkan dia untuk berkabung. Karena hari Ini adalah hari pertamanya bekerja di kantor baru, sebuah tempat yang terasa asing sekaligus menjanjikan baginya. Berkat 'kenalan'nya—pria yang disaksikan Lian pada malam tragis itu—Aleta berhasil mendapatkan posisi sebagai front office di sebuah yayasan seni. Berkali-kali, ia menarik ujung blazer merahnya, memastikan penampilannya serapi mungkin. Rambut sebahunya tertata apik, dibelah pinggir tanpa poni.
Ia melangkahkan kaki memasuki lobi kantor yang megah. Pintu masuknya adalah pintu kaca yang berputar, mengantarkannya ke ruangan yang sedikit mengingatkan pada studio TV yang pernah ia kunjungi. Lobi ini tidak terlalu berlebihan, namun memancarkan aura elegan dengan deretan lantai marmer hitam yang mengkilat.
Aleta mencermati sekeliling. Meskipun belum banyak staf yang datang sejak ia duduk dibalik meja resepsionis, wanita di sebelahnya—yang menjadi rekan kerjanya—sudah berulang kali mengingatkannya bahwa ‘Dia’ akan segera tiba. Aleta pun memilih berdiri, mempersiapkan diri untuk memberikan hormat yang sempurna saat Sang Direktur muncul.
Pintu lobi berputar kembali, dan beberapa orang masuk. Ada seorang wanita berkacamata yang menenteng tas, kemungkinan berisi laptop. Kemudian, ada pria paruh baya mengenakan topi lebar. Tepat di sebelahnya, berjalan seorang pria yang membuat Aleta sontak berseru dalam hati, “Ya ampun!” Ia segera menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Pria ini luar biasa tampan, nyaris seperti artis hollywood. Aleta menaksir, usianya pasti jauh lebih muda darinya. Di belakang mereka, mengikuti seorang petugas keamanan dan beberapa karyawan lain.
Rombongan itu melewati meja resepsionis. Mengikuti isyarat dari rekan di sebelahnya, Aleta segera membungkukkan tubuhnya sedikit, memberikan hormat, hingga mereka semua melewati meja marmer itu. Aleta kembali menegakkan tubuhnya.
“Maaf,” bisiknya seraya mendekati rekannya yang kini sudah duduk kembali sambil merapikan rambut. “Di antara mereka tadi, yang mana Direktur kita? Apa yang memakai topi hitam lebar?” tanya Aleta polos, matanya penuh rasa ingin tahu.
Cherin menggeleng. Sebagai senior, ia tampak ramah dan tak sombong, bersedia membimbing Aleta. “Yang di sebelahnya,” jawab Cherin.
“Ya?” Aleta terpekik, sedikit tidak mengerti. Ia berusaha mengingat kembali urutan orang yang masuk tadi.
“Pria bertopi hitam itu Hardian, salah satu komisaris dari pemegang saham utama di perusahaan yang terafiliasi sama yayasan ini. Tapi Direktur kita… itu yang jalan di sebelahnya.” Cherin terlihat memegang kedua pipinya, matanya menerawang dan berbinar-binar. “Direktur kami yang ganteng banget itu.”
Melihat ekspresi Cherin yang begitu terpesona, Aleta yakin yang dimaksud adalah pria yang ia kira masih muda tadi. “Bukankah pria itu baru berusia sekitar dua puluhan? Apa tidak terlalu muda?” Aleta mengkonfirmasi, keheranan.
Cherin tersenyum lebar, menurunkan tangannya dari pipi. “Dia pewaris tunggal yayasan sama perusahaan ini. Kedua orang tuanya meninggal, dan sekarang, dialah pemimpinnya. Direktur Leo-ku.”
“Oo…” Aleta mengangguk, menoleh ke arah lift tempat rombongan itu menghilang. “Ganteng banget,” gumamnya, bibirnya menyunggingkan senyum yang penuh perhitungan.
***
Aula Rumah Mawar mendadak disergap keheningan yang mencekam. Beberapa penghuni yang semula sibuk dengan kegiatan masing-masing kini berkumpul, mata mereka terpaku pada Hannah yang berdiri tegar di hadapan Ibu Mawar.
“Berhenti?” pekik Mawar, suaranya mengandung keterkejutan dan rasa dikhianati. Hannah baru saja menyatakan bahwa ia telah menyerahkan surat keterangan berhenti kuliah ke bagian administrasi universitasnya.
“Iya,” angguk Hannah. Ekspresi wajahnya tampak terlampau tenang, sebuah topeng ketenangan di atas badai emosi. “Aku juga mau hidup sendiri mulai sekarang,” ucapnya ringan, seolah Ibu Mawar yang terperanjat di depannya bukanlah figur ibu yang membesarkannya.
“Kau mau keluar dari sini? Kamu mau ninggalin Ibu?” ratap Mawar, suaranya melankolis, berharap tatapan Hannah bisa melunak dan mengurungkan niatnya.
“Gak ada alasan buat aku untuk tetap di sini,” sahut Hannah singkat. Ia lalu menundukkan kepalanya singkat. “Aku pamit. Terima kasih atas semua yang Ibu kasih selama ini. Aku janji akan balas semampu aku.” Ia kembali menunduk, meraih semua tasnya yang telah disiapkan, dan mulai berjalan menuju pintu utama.
“Kamu ini anakku. Sama seperti Aleta dan Lian.” Seruan Ibu Mawar berhasil menahan langkah Hannah sesaat, ia terpaku di ambang pintu.
Tanpa menoleh, Hannah menyahut dengan suara yang dingin dan final. “Secara hukum, mungkin aku memang anak ibu. Tapi kenyataannya, aku ini sebatang kara.” Selesai berucap, ia kembali melangkah.
Keputusannya ini mungkin kelihatan mendadak dan menyakitkan, bahkan untuk dirinya sendiri. Tapi selama dua hari ini Hannah telah memikirkannya matang-matang: ia tak akan lagi tinggal di sini. Tempat ini kini terasa seperti penjara yang dibangun dari kenangan Lian, dan itu terlalu menyakitkan. Di sini, ia tak sanggup bernafas, karena setiap sudut ruangan, setiap udara yang ia hirup, selalu mengingatkannya pada Lian.
Ini bukan usaha untuk melupakan, namun sebuah usaha untuk bertahan. Ia jelas menyakiti Ibu Mawar, ia mungkin akan menyesali keputusannya ini suatu saat nanti, tapi ia merasa tak ada jalan keluar lain selain kabur dari sini. Ia merasa sesak dan tercekik. Terus menerus berharap mati. Dan ia tahu, Lian tak akan senang melihat kondisinya yang seperti ini. Jadi untuk meneruskan hidup, ia perlu rehat, beristirahat sejenak, dari lingkungan tempatnya tubuh besar ini, dari lingkungan yang menyimpan terlalu banyak kenangan ini.
Ia berjalan menuju pagar, melewati taman tempat ia bermain bersama Lian dan Aleta semasa kecil. Kenangan itu kini terbayang sangat jelas, menusuk batinnya: pohon yang dulu sering dipanjat Lian kini terlihat menua dan merapuh. Ia teringat saat pulang sekolah, Aleta mengayuh sepeda merah mudanya, dan Hannah selalu duduk di kursi penumpang sepeda Lian, memeluk pinggangnya—kebiasaan yang berlanjut hingga Lian membeli motor pertamanya. Kini, rutinitas indah yang dilakukan setiap hari itu tak akan pernah terulang lagi. Lian sudah pergi. Tangisan jenis apa pun tak akan mampu mengembalikannya.
“Maaf, Kak, aku harus pergi dari sini. Tanpa kakak, tempat ini cuma penjara kenangan. Dan aku gak sanggup,” ujarnya dalam hati, air matanya menetes lagi, saat melewati gerbang. Ia menoleh untuk kali terakhir. “Selamat tinggal,” ucapnya lemah, menundukkan kepala, memberi hormat pada bangunan tempat ia dibesarkan. Juga pada Ibu Mawar, ibu angkatnya yang ia sakiti di dalam sana.
“Hannah...?” gumam Aleta. Ia baru saja pulang kerja dan tak menyangka akan langsung melihat Hannah berjalan keluar pagar dengan semua tas besar yang dijinjingnya. Ia pun segera mempercepat langkah, tiba di hadapan Hannah yang tampak tak acuh dengan kehadirannya.
Hannah tak menyapa. Ia hanya menatap dingin, dan kembali melangkah pergi.
“Eh! Kamu mau kemana?” Aleta menahan pergelangan tangan Hannah, tetapi tangan itu dihempas dengan kasar. “Kamu belum menjawab, kamu mau kemana?” desak Aleta. Hannah membalasnya dengan helaian napas panjang, seolah pertanyaan Aleta adalah hal paling membosankan di dunia.