Lian berharap ia bisa merasakan kelelahan fisik setelah berjam-jam mondar-mandir di sekitar air mancur bundaran Hotel Indonesia. Namun, ia justru mendengus bosan. Keadaan tanpa rasa membuatnya tak mengenal lelah, atau lebih tepatnya, hidup sebagai arwah membuatnya terpisah dari sensasi yang seharusnya dirasakan manusia—sebuah siksaan yang membuatnya serba salah.
Ia bangkit dari tempat duduknya, menjauhi kolam air mancur, dan mulai melangkah tanpa tujuan, hingga akhirnya mencapai trotoar pinggir jalan. Entah sudah berapa kilometer ia berjalan hari ini. Kini, ia kembali lagi ke jalan besar, salah satu akses utama menuju Rumah Mawar.
Dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil putih melaju kencang. Tanpa berpikir panjang, Lian melangkah maju beberapa langkah. Ia berhenti, mematung di tengah jalur, menatap lurus ke arah mobil yang semakin mendekat itu. Rasa penasaran yang absurd menguasainya: Apa yang akan terjadi? Apakah ia akan mati untuk kedua kalinya, atau tubuh non-fisiknya akan menembus mobil itu seperti dalam film-film? Saat mobil itu kian mendekat, Lian memejamkan mata.
Di dalam mobil, Leo panik. Ia menginjak rem sedalam-dalamnya. Berkat sabuk pengaman, kepalanya tidak sampai menghantam kemudi. Matanya terkejut, kemudian melotot, memandangi jalanan di depan mobilnya. Garis-garis wajahnya mengeras dan tegang. Napasnya bahkan tersendat karena keterkejutan yang luar biasa.
Ia melepaskan sabuk pengamannya, membuka pintu mobil, dan melompat keluar, langsung mengitari bagian depan mobil. Dengan hati-hati, ia menyapu pandangan pada permukaan jalan yang disinari lampu mobil. Kosong. Benar-benar tidak ada apa-apa di sana.
“Tadi jelas ada orang,” gumamnya bingung, lalu berjongkok, melongok ke kolong mobil untuk memastikan. Tidak ada apa-apa. Ia kembali berdiri, menoleh ke segala arah. Tidak ada tanda-tanda benda tertabrak atau terpental di sekitar mobilnya. Leo menggeleng, menyeka keringat dingin yang tiba-tiba mengalir di dahinya. Padahal di bar tadi dia tak minum alkohol, dia kesana hanya karena ingin merasakan kebisingan yang mendistraksi kesunyiannya, dengan membership Thomas dia masuk. Meski akhirnya keluar lagi karena diganggu oleh wanita asing.
Dia juga belum minum obatnya hari ini. Jadi, apa otaknya benar-benar sudah error dan terus menerus halusinasi?
Tepat di samping Leo, Lian berdiri tercengang. “Lu, tadi lihat orang?” tanyanya pada Leo. “Nggak, lu tadi lihat gue?” koreksinya buru-buru.
Namun, jelas tidak ada jawaban. Leo tak mampu menangkap kehadirannya.
Leo memegangi pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggaruk-garuk dahi yang tidak gatal. “Benar-benar aneh!” Sekali lagi ia melongok kolong mobilnya, dan sekali lagi ia mengedikkan kepala karena ketiadaan apapun.
“Hei! Lu benar-benar bisa lihat gue? Tadi lu lihat gue?” Lian, tanpa sadar, mengikuti Leo masuk ke dalam mobil, bergerak cepat ke kursi penumpang sebelum Leo menutup pintu. Ia masih berusaha keras, berharap pria ini benar-benar bisa melihatnya—setidaknya ia punya seseorang untuk diajak bicara.
Leo menghembuskan nafas dari mulut, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila sebelum menyalakan mesin mobil kembali.
Lian terdiam, menatap kosong ke jalanan di depan matanya. Berada di sebelah orang asing, di dalam mobil yang melaju entah ke mana, bukanlah hal yang perlu dipikirkannya saat ini.
Ia kembali tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri. Tentang kondisinya, tentang tujuan, alasan, dan gunanya—seorang yang sudah jelas meninggal dunia, namun masih berkeliaran tanpa arah. Ia ingin menyerah, karena tak ada yang bisa diingatnya. Ia tak bisa mengingat apapun, bahkan detik-detik kematiannya sendiri.
Lian menoleh ke arah Leo yang terdiam, serius mengemudi. “Ini cowok ganteng,” gumamnya, sebuah pengakuan yang tiba-tiba. “Dan ia masih hidup sebagai manusia,” tambahnya. “Normal,” tambahnya lagi, rasa benci terhadap keadaannya sendiri kian mendalam.
Setelah puluhan menit di samping Leo, Lian mulai menyadari keanehan ini. Kenapa ia mengikuti orang yang sama sekali tak dikenal? Alasan logis nya, Lian tak tahu. Yang jelas, ia penasaran. Ia ingin tahu apakah pria ini benar-benar bisa melihatnya dan apakah itu akan membawa bantuan. Di samping itu, ada magnet tersendiri yang membuat Lian terus membuntuti. Seolah suatu energi dan semangat berdatangan, memasuki tubuhnya yang semula hampa, membuatnya terasa lebih bertenaga. Sebuah pemikiran bodoh yang justru semakin memicu rasa ingin tahunya.
Keduanya kini memasuki sebuah rumah yang dipagari tembok tinggi dan berpintu kayu. Mereka menaiki tangga yang terbuat dari batu-batu alam. Lian bisa melihat taman kecil di sebelah kiri, dilengkapi meja dan bangku kayu, dengan rumput hijau segar yang disinari lampu taman. Ia terus melangkah naik, membuntuti Leo yang kini membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Ketika memasuki rumah dua lantai bernuansa putih ini, “Waa…” Lian berseru kagum. Begitu melewati pintu, ia disambut tiga anak tangga menuju ruang tamu minimalis yang lantainya lebih rendah. Di sana, tiga sofa putih mengelilingi meja kaca, beralaskan karpet berbulu berwarna putih tulang yang terawat bersih. Leo terlihat mengganti sepatu sneakers-nya dengan sandal rumah.
Sambil berjalan melewati ruang tamu, Leo membuka jasnya lalu melemparkannya sembarangan ke salah satu sofa. Lian berhenti mengikuti, matanya terpaku pada sebuah akuarium berisi ikan-ikan kecil yang 'terselip' rapi di dalam tembok, di belakang salah satu sofa.
Tak lama kemudian, Leo terlihat lagi, kini hanya mengenakan kaos dalam hitam dan menggenggam segelas air mineral. Ia tidak kembali ke ruang tamu, melainkan berjalan menjauh dan menaiki tangga menuju lantai dua, ke arah kamarnya. Lian, yang baru sadar bahwa ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, segera berlari menyusul Leo hingga ke dalam kamar.
Kamar Leo berukuran sedang, dengan tempat tidur yang cukup besar, dan bernuansa serba putih, seperti ruang tamu. Di pojok kiri, tak jauh dari balik pintu, terdapat rak putih berisi deretan buku dan CD, serta beberapa kaktus kecil dalam pot putih. Tak sampai satu meter dari rak, tergantung LCD TV berukuran besar. Di bawahnya, rak kayu berwarna coklat menampung DVD player dan perangkat lainnya. Semuanya terlihat mewah dan elegan.
Leo kini duduk di pinggir kasur, mengeluarkan sebotol obat dari laci lemari kecil di samping tempat tidurnya. Ia belum minum obat hari ini, dan otaknya sudah error, jadi kenapa tak sekalian minum dua butir lagi? Biarkan saja efek sampingnya nanti. Yang penting dia bisa tidur dulu malam ini.
Sambil menyapu pandangan ke setiap sisi kamar, Lian duduk di salah satu sofa kecil di samping meja kerja. Sama seperti sebelumnya, ia seolah tak memusingkan tindakannya. Tanpa sadar dirinya terjebak di tempat asing tanpa petunjuk, Lian justru kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kenapa? Kenapa berada di dekat orang ini dia merasa seperti ‘hidup’ lagi? Ada sensasi aneh yang menyeruak di tubuhnya, seperti kesegaran, seperti ‘terisi’. Kenapa?