Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #13

12. Benang Merah

Tak jelas kemana kakinya melangkah. Begitu melenggang keluar dari motel, uangnya sudah tipis, ia kembali ke realita pahit, sebagai seseorang yang hidup sebatang kara tanpa tujuan. Andai saja Rosy berada di Jakarta, ia pasti sudah mendatangi rumahnya sejak kemarin. Namun sahabatnya itu masih liburan di Korea, dan ponselnya tak bisa dihubungi. Jadi jelas, Hannah hanya luntang lantung di jalan tanpa arah.

Lagi-lagi ia harus menjinjing beberapa tasnya di depan umum, menarik banyak tatapan mata yang terasa menghakimi sepanjang jalan yang ia lalui. Ia tak punya tempat tinggal, tak punya keluarga, bahkan teman dekat pun nihil. Tanpa Lian, segalanya terasa sepi dan hampa. Ia sudah berhenti menangis, namun sebagai ganti, hatinya terasa kosong. DI bawah terik matahari pun, ia merasa kedinginan.

“Kakak, aku kangen,” gumamnya sambil menunduk, menunggu lampu penyeberangan berubah menjadi hijau.

Makin hari, rasa rindu bukannya semakin berkurang, malah terus bertambah dan menggerogoti jiwanya. Wajahnya memucat, di sekitar matanya terdapat lingkaran hitam yang tebal. Meski tak bernafsu makan, tubuhnya mengirim sinyal bahwa ia lapar, ia lelah terus berpindah-pindah, dan kini pandangannya mulai terasa kabur. Bahkan saat lampu penyeberangan menyalakan siluet orang berjalan dan berubah warna jadi hijau, ia tak menyadarinya. Ia baru mengangkat wajahnya ketika seorang wanita di belakangnya lewat dan menyenggol bahunya cukup keras, membuat tubuhnya sedikit terdorong maju.

“Ah, maaf!” seru wanita muda bertubuh kurus tinggi itu sambil menganggukkan kepalanya. Hannah balas sedikit anggukkan mafhum, sambil memegangi bahunya yang tadi tersenggol. Wanita berkaos gombrong selutut itu kini sudah berlari kencang menyeberangi zebra cross.

Saat hendak bergerak, mata Hannah menangkap sebuah benda, dompet hitam tergeletak di permukaan jalan, tepat di sebelah tasnya yang terlepas dari tangannya akibat senggolan tadi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, namun tidak ada siapa-siapa yang terlihat mencari. Hannah menarik pandangannya, mengangkat tasnya, dan berpura-pura tak melihat apa pun. Tetapi begitu ia hendak melangkah, lampu penyeberangan sudah kembali merah; kendaraan yang sudah sejak tadi sudah tak sabar, langsung melaju deras di depannya. Menghela nafas panjang, ia kembali berdiri tegak, memegang tas beratnya dengan kedua tangan.

“Permisi, Mbak! Ini, dompetnya jatuh.” Pria berkacamata dengan kemeja rapi—yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya—mengulurkan dompet hitam itu ke arahnya.

Hannah mengulurkan tangannya ragu-ragu. “Ini bukan…” Belum sempat Hannah menyelesaikan kalimatnya, pria rapi tadi langsung pergi menyeberangi jalan. Hannah baru sadar lampu sudah berwarna hijau, dan dengan terburu-buru ia menyeberang, sebelum lampu kembali merah. Ia terus menggenggam dompet asing itu di tangannya tanpa sadar.

Sesampainya di seberang jalan, ia memilih berhenti sejenak untuk membuka dompet asing di tangannya. Begitu terbuka, langsung terlihat foto seorang wanita muda dan seorang pria. Hannah mencoba mengingat-ingat wajah si wanita. Wajah tirus berlesung pipi itu terasa familiar.

“Ah, bener!” serunya begitu ingat. Memori segar langsung muncul di otaknya. Wanita di foto ini sama dengan wanita yang menyenggol bahunya beberapa saat lalu.

Ia menilik ke kartu tanda penduduk yang ada di dalam dompet. “Alamatnya gak jauh dari sini,” ucap Hannahnya seranya menimbang-nimbang.


Tanpa uang yang memadai dan dengan perut yang berkeroncong hebat, Hannah terpaksa menyusuri jalan. Ia mencari alamat rumah seseorang yang sama sekali tak ia kenal, hanya demi mengembalikan dompet yang sebenarnya tidak ia inginkan berada di tangannya.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, kakinya yang lelah akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih setinggi pinggang. Rumah itu terlihat mungil namun terawat, halamannya seluas sekitar sepuluh meter, dihiasi rumput hijau dan pot berisi pohon berbunga warna-warni di sepanjang sisinya.

Hannah melongok ke sekeliling pekarangan, tidak ada seorang pun yang terlihat. Ia kemudian memutuskan untuk membuka pagar yang tidak terkunci, lalu melangkah masuk. Kakinya reflek berhenti saat pintu rumah bergerak terbuka. Ia diam di tempat, menunggu.

Seorang wanita tinggi semampai dengan aura anggun keluar dari dalam rumah. “Siapa, ya?” tanyanya dari ambang pintu.

“Halo!” Hannah sedikit menundukkan kepalanya. “Nama saya Hannah.”

Indi, si pemilik rumah, membungkukkan tubuhnya sedikit. “Apa kamu mau sewa kamar di sini?” ia berjalan mendekat, tatapannya menyiratkan pertanyaan.

“Ya?” Mata Hannah membulat, bingung.

Indi melirik ke tas-tas yang dibawa Hannah. “Mau menyewa kamar di sini?” ulangnya, sedikit ragu, lalu menunjuk ke arah pagar rumahnya.

Hannah menoleh ke arah yang ditunjuk Indi. Di depan pagar, di dekat pohon berbunga merah, ada sebuah papan kayu tergantung. Hannah menyipitkan mata untuk membaca tulisan yang ada di papan itu dengan lebih jelas: ‘Menyewakan kamar kos untuk wanita.’

“Aaaa…” Angguk Hannah samar, tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya. Tadi, di depan pagar, ia sama sekali tidak melihat tulisan itu. Sekarang ia menatap tas-tas yang dijinjingnya. Senyumnya semakin kaku. Ia paham mengapa wanita ini salah sangka.

“Sebenernya…” Hannah kembali membuka mulutnya, merasa sungkan.

Indi memperhatikan Hannah yang kini merogoh saku jaket kuningnya.

“Ini.” Hannah mengulurkan tangannya yang memegang dompet hitam itu.

Indi memperpendek jarak di antara mereka, matanya terpaku pada dompet di tangan Hannah. “Ya ampun!” pekiknya, refleks langsung menarik dompet hitam itu dari tangan Hannah. “Ini punya aku!” ujarnya sumringah, membuka-buka dompetnya yang ternyata masih terisi lengkap. Tak ada satu pun isinya yang hilang.

“Aku nemu di jalan,” terang Hannah. “Tadi waktu kamu nabrak punggung aku, di lampu merah.” Hannah menambahkan, memperagakan gerakan saat bahunya tersenggol.

“Ya ampun!” Lagi-lagi Indi memekik heboh, kali ini menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Ya ampun, maaf, benar-benar maaf, dan juga terima kasih.” Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hannah, membuat Hannah membalasnya dengan kikuk.

“Iya, sama-sama,” sahut Hannah pelan. “Kalau gitu saya pamit.” Hannah mulai bergerak membalikkan badan.

Lihat selengkapnya