Di ruang kerjanya, sudah hampir sejam Leo tak melakukan kegiatan apapun selain berpikir. Orang yang sedikit bicara ini memutar video di tv yang tergantung di dinding, video debut salah satu penyanyi solo yang berada di bawah naungan perusahaan-nya. Dengan musik pop jazz, penyanyi barunya ini dikabarkan mendapatkan sambutan cukup baik. Posisi Direktur Utama di usia muda dan dikelilingi para komisaris dan pemegang saham yang sangat kompetitif, bukanlah hal yang mudah. Ia harus bekerja lebih keras daripada orang-orang disekitarnya yang punya jabatan sama. Dia yang aslinya pendiam, makin hari makin jarang bicara karena terlalu sibuk berpikir.
“Heeeeeey!” teriakan kencang yang mengagetkan muncul, seiring pintu ruangannya yang terjerembab terbuka. Thomas dengan cardigan berwarna pink peach melapisi kaos hitam berkerah V melangkah masuk. Tertawa lebar menunjukkan gigi putihnya, seakan tak melihat Leo yang melotot kesal.
“Pergi sana!” usir Leo dingin.
Thomas malah tertawa geli, ‘Wahh, sombong amat!” Tanpa malu ia langsung duduk di hadapan Leo.
“Lu gak ada kerjaan, ya?” Leo mendelik sinis. Dan lagi-lagi Thomas tertawa.
Sudah biasa tak ditanggapi Leo, beberapa menit kemudian Thomas hanya duduk bersandar di kursinya sambil memain-mainkan pulpen di tangannya, sesekali melirik Leo yang sekarang sibuk dengan komputernya.
“Leo!” panggil Thomas.
“Apa?” sahutnya tanpa menengok.
Thomas berdehem, merapikan jasnya dan mempertegak posisi duduknya. Wajahnya berubah serius. “Kemarin, kenapa lu pergi gitu aja?”
“Kapan?” sahut Leo pendek.
Mendengus kesal, “Ge jelas-jelas udah kasih kesempatan biar lu ngobrol sama dia. Kenapa malah pergi?” protes Thomas.
“Oh.” Leo mengangkat wajahnya santai. “Karena gak ada yang perlu diomongin.”
“Huaaa benar-benar! Lu nih terbuat dari batu ya?” umpat Thomas kesal.
“Emang kenapa?” balas Leo dingin.
“Ah udah, lah!” Thomas menyerah lagi kali ini, berunding dengan Leo bukanlah hal yang mudah. “Nanti malam gue ada pesta di tempat biasa, jangan lupa dateng!” Langsung bangkit dari tempat duduk, sambil melambaikan tangan pergi meninggalkan ruangan Leo begitu saja. Datang dan pergi semaunya.
***
Cangkir bening berisi teh hijau di hadapannya mengepulkan asap yang menyerbak wangi. Hannah menatap wanita di depannya yang tadi baru memperkenalkan dirinya dengan ramah.
Indi, tengah menaruh sepiring kecil bolu coklat di sebelah cangkir tehnya, Hannah menganggukkan kepalanya sedikit untuk mengucap terima kasih.
“Jadi,” Indi duduk setelah menaruh cangkir teh untuknya di atas meja, “Kamu tinggal dimana? Jauh dari sini?” Ia melirik tak kentara ke beberapa tas yang Hannah bawa.
“Lumayan,” dusta Hannah, menaruh kedua telapak tangannya di atas lutut “Di Bandung,” sambungnya dusta.
“Ooohh.” Angguk Indi, “Terus di Jakarta lagi ngapain? Mengunjungi keluarga?”
“Ya?” Mata Hannah menyembunyikan kebingungan.
“Ah, maaf.” Indi tertawa kaku. “Aku terlalu banyak nanya ya.”
Hannah menyunggingkan senyum kikuk lalu menyesap segelas teh hijau-nya. Hangatnya teh menjalar ke kerongkongan dan perutnya yang belum diisi apapun selama hampir 15 jam terakhir.