Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #15

14. Asing Sekaligus Familiar

Sejak melangkah keluar dari mobil, keraguan sudah menggerogoti Leo. Namun, langkahnya telah terlanjur membawanya hingga ke ambang pintu klub malam yang bising itu. Dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangan—Thomas. Sahabatnya itu seolah sudah mengendus kedatangannya bahkan sebelum Leo sempat menapakkan kaki di lantai.

Dengan decit kesal, Leo memaksakan diri masuk. Ia menyeberangi ruangan yang sesak oleh tubuh-tubuh yang bergoyang tak beraturan di bawah lampu kelap-kelip, mengikuti dentuman musik yang memekakkan telinga. Ia menuju sofa VIP di pojok—titik strategis yang selalu menjadi favorit Thomas di tempat seperti ini.

“Selamat datang, Kawan!” sambut Thomas dengan tangan terbuka lebar. Di kanan dan kirinya, dua wanita berpakaian minim melempar senyum menggoda menyambut kedatangan Leo.

“Ini yang lu sebut pesta?” sindir Leo sembari menyapu pandangan ke sekeliling. Selain kedua wanita itu, tak ada satupun wajah yang ia kenal.

“Kenapa? Ini memang pesta! Dimanapun ada waktu luang buat senang-senang, di situlah letak pestanya!” jawab Thomas santai.

Leo mendesis kesal. Seharusnya ia sudah menduga tabiat Thomas dan tak usah positif thinking dengan undangan pesta yang jelas-jelas berlokasi di sini.

Ia menyandarkan punggung di sofa, berusaha mengabaikan sorot mata genit dari wanita-wanita di samping sahabatnya itu. Salah satu wanita itu kemudian berbisik di telinga Thomas—mungkin meminta izin ke toilet—sebelum akhirnya beranjak pergi. Leo menggeleng, tak habis pikir dengan kelakuan Thomas yang tak pernah berubah ini. Ia meneguk minuman non-alkoholnya sambil memalingkan muka, tepat saat Thomas mulai berpelukan mesra dengan wanita yang tersisa.

Pandangan Leo terhenti pada sosok yang berdiri sekitar lima meter di depan bar. Awalnya, ia mengira itu seorang pria karena topi hitam yang dikenakannya. Namun, saat orang itu melepas topinya, rambut coklat lurus seketika tumpah ke bahu. Wanita itu tertawa menatapi gelas kosong di hadapannya—tawa itu terdengar seperti jeritan kesedihan yang disamarkan.

Leo kembali menggeleng. Semua orang disini tampak konyol baginya. Meski jarang berkunjung, ia bisa membedakan mana pengunjung reguler dan mana yang bukan. Wanita itu tampak "salah tempat". Ia tidak mengerti mengapa orang seperti itu datang sendirian ke tempat semacam ini, padahal Leo sendiri sudah menyesal berada di sana.


Di sisi lain, Dinda mempercepat langkahnya. Tadi ia hanya meminta izin ke toilet, namun tujuannya yang sebenarnya adalah mencari Aleta. Meninggalkan tamu loyal seperti Thomas terlalu lama adalah ide buruk, namun memberi tahu Aleta tentang kehadiran Leo jauh lebih penting.

“Eh, Aleta!” teriak Dinda saat melihat Aleta berdiri kaku di dekat pintu toilet. Dinda berlari mendekat, tak menyadari raut wajah Aleta yang pucat pasi dan tampak terguncang.

Tanpa menunggu respons, Dinda langsung membanjirinya dengan kata-kata: “Direktur lu ada di sini! Ayo cepat ikut, ini kesempatan emas untuk mendekatinya!” Dinda menarik tangan Aleta dengan paksa.

Di sudut lain, dengan mata berkunang-kunang akibat pusing yang belum hilang, Hannah mengikuti pergerakan dua wanita yang melintas di sampingnya. Ia melihat Aleta berusaha menutupi wajahnya, sementara pergelangan tangannya digenggam erat dan ditarik paksa oleh wanita di depannya. Hannah terpaku; ia mengenali sosok yang ditarik itu, dan perhatiannya jelas tertumbuk di sosok itu.

.

“Halo!” sapa Aleta. Suaranya gemetar, sementara kepalanya menunduk sedalam mungkin demi menyembunyikan identitasnya.

Thomas membalas sapaan itu dengan ramah, tersenyum pada Dinda yang sudah kembali merapat di sisinya. Namun, Leo berbeda. Ia hanya melemparkan pandangan sekilas yang sedingin es, seolah kehadiran Aleta hanyalah gangguan kecil yang menambah runyam suasana..

Bingung dan tertekan, Aleta melirik Dinda yang tengah merangkul lengan Thomas. Dinda memberikan isyarat halus dengan mengangkat dagu, mendesak Aleta untuk segera beraksi. Aleta menelan ludah dengan susah payah; ia paham bahwa dalam dunia ini, ia harus "melayani" untuk bertahan. Terlebih ia sudah kepalang tanggung berdiri disini.

“Permisi,” ucap Aleta pelan pada Leo yang masih enggan menatapnya. “Boleh saya duduk di sini?”

Jemari Aleta menunjuk ruang kosong di samping Leo. Ia mencengkeram gelas di tangannya begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa malu yang membakar dada.


“Nggak!” tolak Leo datar, tanpa basa-basi.

Thomas merasa tidak enak melihat kecanggungan itu. “Nggak apa-apa, Nona, silahkan duduk aja,” potong Thomas sembari menyodorkan segelas minuman pada Aleta. Tindakan ramah itu langsung dibalas oleh tatapan tajam dan mematikan dari Leo.

“Ya, silakan duduk,” gerutu Leo sembari bangkit berdiri dengan kasar. “Gue pulang!” serunya pada Thomas yang kini melotot kesal karena acaranya dirusak.

“Jangan! Saya aja yang pergi!” tahan Aleta buru-buru, diliputi kepanikan.

Lihat selengkapnya