Lian belum sepenuhnya mencerna teka-teki Lara, namun satu hal yang ia yakini: ia butuh bantuan. Jika Leo adalah kunci seperti yang dikatakan bocah misterius itu, maka ia harus menemukan pria itu sekarang. Didorong oleh tekad untuk menemukan Hannah, Lian berlari kembali menuju rumah Leo. Sebagai arwah, ia tak lagi mengenal lelah; jarak seolah melumat dibawah langkahnya yang tak menapak.
Tepat saat ia tiba di depan gerbang, mobil hitam Leo pun sampai. Lian refleks menggeser tubuh—trauma kecelakaan itu masih membekas kuat di memorinya. Dari balik kaca, ia melihat Leo tidak pulang sendirian. Ada sesosok wanita di kursi penumpang.
“Ah, cewek,” ia mengangguk, seolah paham dengan mudah.
Ia menunggu wanita itu turun sendiri, namun yang terjadi justru Leo yang turun dari pintu supir, lalu memutari mobil dan membuka pintu penumpang. Pria itu menunduk, melepaskan safety belt dan mengulurkan tangan ke dalam, merengkuh, dan memapah wanita itu. Dengan tangan kiri, Leo membuka pintu gerbang, sementara tangan kanannya merangkul pundak wanita itu dan membimbingnya berjalan.
Lian mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Memperhatikan punggung Leo yang memapah wanita itu dengan hati-hati. Wajah wanita itu tertunduk, tersembunyi di balik helai rambut yang berantakan. Pacarnya? tebak Lian dalam hati.
Harti membukakan pintu dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya besar. Ia mematung, menatap bingung saat Leo melangkah masuk sambil membopong seorang wanita tanpa sepatah kata pun. Dari sudut ruangan, Lian yang memperhatikan ekspresi Harti segera menyadari bahwa dugaannya salah; wanita ini jelas bukan kekasih Leo, apalagi saat pembantunya ini bertanya...
“Siapa ini, Leo?” Saat Leo merebahkan tubuh wanita itu di atas sofa ruang tamu.
Leo tidak menjawab. Ia terus melangkah lurus menuju tangga, seolah-olah beban di lengannya tadi hanyalah benda mati yang tidak memerlukan penjelasan. Harti memandangi wanita asing di sofa itu sejenak, lalu beralih menatap punggung Leo yang mulai menaiki anak tangga. Dengan dahi berkerut dalam, ia memutuskan untuk mengejar majikannya. “Leo! Tunggu!”
Di balik sofa putih yang besar itu, Lian terus mengamati dengan rasa penasaran yang membuncah. Wajah wanita itu masih tersembunyi di balik untaian rambut yang berantakan karena posisi tidurnya yang miring. Lian membatin, siapa pun wanita ini, ia pasti tidak mengenalnya. Lagipula, ia tidak punya kaitan pribadi dengan kehidupan Leo. Jadi dia memilih untuk tetap diam, duduk di sandaran sofa, mengawasi dengan saksama dalam kesunyian yang mencekam.
Tiba-tiba, wanita itu mendengus kecil. Tangannya bergerak lemah, meraba kepalanya yang mungkin terasa berputar. Perlahan, ia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, dengan mata yang masih terpejam rapat.
Lian tercekat.
Dunianya seolah berhenti berputar. Matanya membelalak lebar, dan dadanya berdesir hebat oleh rasa keterkejutan yang menghantam.
“Ha... Hannah?” bisiknya tak percaya. Suaranya nyaris hilang, tertahan di kerongkongan.
Lian segera bangkit dan melesat mendekat, memastikan penglihatannya tidak menipis. “Hannah?” Suaranya bergetar hebat saat ia mengenali setiap lekuk wajah itu. “Hannah, gimana bisa kamu ada di sini? Kamu... kamu mabuk?”
Dada Lian mendadak terasa sesak luar biasa, sebuah ironi bagi sosok yang tak lagi bernafas. Ia berdiri linglung, menatap sekeliling ruang mewah yang asing itu, sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya—berlutut di lantai tepat di samping wajah Hannah. Ia ingin memeluknya, namun ia tak tahu harus berbuat apa.
“Kakak...” gumam Hannah lirih dalam tidurnya. “Kakak...”
Air mata mengalir deras dari sudut kelopak mata Hannah yang tertutup, membasahi pelipis dan bantal sofa. Mata Lian bergetar melihat kepedihan itu. Meski tahu tangannya hanya akan menembus udara, ia tetap menggerakkan jemarinya, seolah sedang membelai lembut wajah Hannah.
“Aku di sini, Hannah. Aku di sini,” bisik Lian pilu.
“Kakak...”
“Maafin Kakak, Hannah. Seharusnya Kakak masih ada buat jaga kamu. Seharusnya kamu gak sampai hancur kayak gini. Gimana bisa kamu berakhir di tempat ini, Hannah?”
Dan tiba-tiba, Lian terdiam kaku.
Kata ‘Maaf’ yang baru saja ia ucapkan mendadak menjelma menjadi kekuatan yang menghantam seluruh ingatannya. Ia terhenyak. Jawaban dari pertanyaan yang selama ini menyiksanya akhirnya muncul ke permukaan. Alasan mengapa ia masih tertahan di dunia ini, dalam keadaan yang menyedihkan sebagai arwah, tak lain adalah Hannah.
Ya, penyesalan terakhir sebelum hembusan nafas terakhirnya. Adalah permintaan maafnya untuk Hannah, dan keinginannya untuk membahagiakan gadis ini.
Kini, Lian ingat segalanya. Perasaannya pada Hannah—cinta yang lebih dalam dari sekadar persaudaraan—adalah jangkar yang menahannya untuk tidak meninggalkan dunia ini sepenuhnya.
“Siapa perempuan di bawah? tuntut Harti dengan nada tajam, berdiri kokoh di ambang pintu kamar Leo.
“Kenapa gak ketuk pintu dulu, sih?” protes Leo ketus. Ia buru-buru menarik kembali kaosnya yang baru saja setengah terangkat.
“Kamu sendiri yang gak nutup pintunya!” balas Harti tak mau kalah. “Cepat bilang, siapa perempuan itu?”
“Aku gak tahu!” Leo menggerutu, menjatuhkan diri di pinggir tempat tidur sambil melepas kaos kakinya dengan kasar.
“Apa? Gak tahu?” Suara Harti meninggi, dipenuhi rasa tidak percaya. “Terus kenapa kamu bawa ke sini?”