Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #17

16. Bibit Delusi

“Jadi, kamu masih memimpikan orang yang sama?”

Roy, psikiater kepercayaan Leo, selalu membuka sesi mereka dengan pertanyaan yang sama selama hampir sebulan terakhir. Suaranya tenang, terukur, dan profesional—kontras dengan badai yang berkecamuk di kepala pasiennya.

Leo mengangguk pelan. Kelopak matanya tertutup rapat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kursi terapi yang dirancang khusus untuk kenyamanan pasien. Ia masih mengenakan kemeja dan celana bahan formal; ia datang langsung dari kantor, tak ingin melewatkan satu menit pun dari sesi yang menjadi satu-satunya pegangannya pada realitas.

“Dan kamu tetap tidak yakin siapa gadis itu?” tanya Roy lagi, sembari menyiapkan pena di atas papan klipnya.

Leo menggeleng dalam posisi terbaring. “Saya gak yakin. Tapi perasaan saya bilang saya benar-benar pernah ketemu sama dia, meski sampai sekarang saya gak ingat dimana dan kapan,” sahutnya, masih enggan membuka mata.

Roy mencatat setiap kata dengan saksama. “Beberapa waktu lalu, kamu sempat gak bermimpi sama sekali. Saat itu kamu merasa bingung dan linglung. Apakah kamu mengalami sensasi yang sama selama seminggu terakhir ini?”

Mendengar itu, kelopak mata Leo terangkat perlahan. Cahaya lampu ruangan yang terang seketika membanjiri pupil matanya, memaksa kesadarannya kembali sepenuhnya ke masa kini. Ia menatap langit-langit ruangan yang putih bersih, teringat kembali pada hari yang sunyi itu—saat mimpi itu mendadak menghilang, meninggalkan lubang hampa yang justru jauh lebih mengerikan daripada mimpi buruk mana pun.

Awalnya, fenomena itu terasa sangat menyebalkan. Mimpi-mimpi itu membuatnya bingung, sesak, dan tertekan. Ia terus bertanya-tanya mengapa satu sosok yang sama selalu muncul dalam tidurnya—seorang gadis yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyatanya. Terlebih lagi, setiap kali ia terseret ke alam bawah sadar itu, ia merasa jiwanya dibajak. Ia bertindak, bicara, dan berpikir dengan cara yang asing; ia menjadi orang lain dengan kepribadian yang jauh berbeda dari dirinya yang asli.

Namun lambat laun, Leo mulai menikmati sensasi "bertualang" dalam kehidupan lain itu. Dirinya yang tertutup, dingin, dan apatis, mulai dipaksa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Di dalam mimpi yang sering kali bercampur dengan fragmen kenangan pribadinya sendiri, ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia temukan di dunia nyata.

Setiap kali membuka mata—saat sisa-sisa mimpi itu masih menempel tipis sebelum akhirnya memudar—Leo akan terdiam melakukan kilas balik. Ia membandingkan mimpinya dengan kehidupannya sendiri. Ia mulai bertanya-tanya: Seindah itukah kehidupan jika aku tidak sekaku ini? Akankah segalanya berbeda jika aku tidak memilih jalan yang sepi ini? Dalam hatinya yang kosong, memori-memori kecil dari mimpi itu mulai tumbuh seperti bunga.

Leo yang selalu kesepian mulai merasa menyatu dengan alter-ego dalam mimpinya. Sosok yang ramah, murah senyum, dan dikelilingi banyak orang itu memberikan kehangatan yang menjalar di dadanya setiap kali ia terjaga. Di sana, ia tinggal di sebuah rumah yang hiruk-pikuk—bukan rumah besar yang sunyi seperti miliknya—melainkan tempat di mana banyak orang memanggilnya "Kakak" dan anak-anak kecil berlarian riang menyambutnya. Sebuah kehidupan penuh kasih yang tak pernah ia miliki.

Dan yang paling krusial adalah sosok yang baru saja ditanyakan Dokter Roy: Hannah. Begitulah Leo meyakini namanya. Dari potongan-potongan mimpi yang ia usahakan untuk diingat—bahkan ia catat sesaat setelah bangun agar tidak lenyap—nama itulah yang paling sering meluncur dari bibirnya.

Gadis bermata cokelat dengan kulit putih bening itu adalah sumber cahaya. Kecerahannya mampu menggetarkan hati siapapun yang memandangnya. Senyumnya yang tulus dan tatapannya yang penuh perhatian adalah paket lengkap yang membuat pria manapun di sampingnya merasa bahagia hanya dengan melihatnya.

Meskipun di dalam mimpi gadis itu sering kali terjerumus dalam masalah karena ulah orang lain, atau bahkan karena kenakalannya sendiri yang tak terduga, Leo menyadari satu hal: ia sangat ingin melindungi gadis itu.

Pertemuan antara logika medis dan obsesi emosional ini menempatkan Leo pada posisi yang sangat rentan. Ia mulai menyadari bahwa kebahagiaan barunya hanyalah istana pasir yang dibangun di atas fondasi bahan kimia obat tidur, namun ia terlalu takut untuk meruntuhkannya.

Hari demi hari, mimpi itu berubah menjadi rutinitas yang menambal retakan di hati Leo. Perasaannya yang semula suram perlahan membaik. Bunga-bunga yang tumbuh karena sosok Hannah—sosok yang bagi Leo terasa sangat nyata namun bagi Dokter Roy hanyalah bibit delusi—mulai bermekaran. Leo yang sebelumnya layu dan kehilangan keinginan untuk hidup, kini merasa jiwanya kembali terisi.

Namun, seperti peringatan Dokter Roy, keindahan itu bisa jadi hanyalah fatamorgana.

Lihat selengkapnya