Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #18

17. Kembalinya Sang Penyihir

Pintu kaca besar dengan bingkai kuningan itu berdenting saat Rosy mendorongnya masuk. Aroma biji kopi Arabika yang dipanggang sempurna segera menyambutnya, berpadu dengan kehangatan desain interior Intercontinental yang memukau. Kafe milik Thomas ini bukanlah sekadar tempat minum kopi biasa; langit-langitnya yang tinggi menampilkan instalasi lampu gantung berbahan kristal ala bistro Paris, sementara dindingnya menggunakan aksen batu bata ekspos yang dipadukan dengan panel kayu berwarna gelap khas perpustakaan Inggris. Meja-meja marmer putih dan kursi-kursi kulit berwarna hitam kemerahan tertata rapi di atas lantai ubin monokrom berpola geometris, memberikan kesan mewah namun tetap membumi.

Rosy berdiri sejenak di ambang pintu, tampak sangat kontras dengan kemewahan kafe tersebut. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang memberikan kesan tangguh, dipadukan dengan celana jeans selutut dan ankle boots hitam senada. Rambutnya sedikit berantakan terkena angin kota, namun matanya tetap tajam mencari satu sosok.

Di sudut ruangan dekat meja bar, seorang gadis yang sedang menyapu lantai mendadak berhenti. Hannah mendongak, dan sapu di tangannya nyaris terlepas. Ia berdiri tegak, mematung dengan mata membelalak saat menyadari siapa yang berdiri di sana.

“Rosy?” bisiknya tak percaya.

Hannah segera menyandarkan sapunya ke dinding dan menghampiri sahabatnya itu. Wajahnya yang tampak lebih tirus dari sebulan lalu dihiasi senyum canggung. “Lu... Lu beneran ke sini?”

Rosy hanya menatapnya tanpa kata selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela nafas panjang. “Lu tahu gue penasaran banget!” ungkapnya.

 Hannah tersenyum sambil menggeleng, ia paham betul sahabatnya ini. “Ayo!” Ia segera menuntun Rosy menuju salah satu bangku kosong di pojokan yang lebih privat.


“Gila, Han,” Rosy memulai pembicaraan setelah mereka duduk. Ia meletakkan tasnya di atas meja marmer yang dingin. “Waktu lu bilang di telepon kalau lu kerja di sini, gue pikir lu cuma bercanda buat ngerjain gue.”

Sejam lalu, begitu turun dari pesawat, rasa penasarannya akibat sengaja menghindar selama liburan ini langsung menghantui. Ia tak menunda lagi untuk menemui Hannah, dan mengecek keberadaan Lian di sekitarnya. Tapi waktu dia bilang akan mampir ke Rumah Mawar, Hannah mencegah. Dia bilang nanti dia akan bercerita, tapi sekarang dia sedang bekerja di kafe. Saat bertanya dimana Hannah bekerja, Rosy tak benar-benar berencana untuk datang mengecek keadaan temannya ini. Tapi sudah jelas, sepanjang perjalanannya menuju rumah, rasa penasarannya tentang Lian makin menjadi-jadi, jadi dia putar balik, mengubah arah tujuannya, dan akhirnya sampai disini.


Rosy menatap Hannah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tertuju pada celemek yang melilit pinggang sahabatnya itu—pemandangan yang sangat asing baginya. “Lu kerja full time di sini? Hampir sebulan ini?”

Hannah mengangguk kecil, jemarinya memilin ujung celemek dengan gerakan gugup yang tak bisa ia sembunyikan. “Iya. Gue butuh duit buat makan sama sewa rumah.”

“Bentar, sewa rumah?” Rosy mencondongkan tubuh, suaranya merendah penuh kekhawatiran. “Lu nggak tinggal di Rumah Mawar lagi? Serius?”

Hannah menunduk, menatap pantulan lampu kristal yang berpendar di permukaan meja marmer. “Gue nggak bisa, Ros,” jawabnya lirih. “Setiap sudut Rumah Mawar, setiap suara tawa anak-anak di sana... semuanya bikin gue ingat sama Kak Lian. Gue merasa tercekik setiap kali bangun tidur di kamar itu. Gue merasa bersalah karena masih bisa bernafas di tempat dia pernah hidup.”

Rosy kembali menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang dingin. Ia paham betul rasa sakit itu. Meski Hannah tak pernah mengatakannya secara terang-terangan, Rosy selalu tahu rahasia terbesar sahabatnya: Hannah mencintai Lian secara sepihak. Semuanya terbaca jelas dari cara Hannah memandang Lian selama ini.

“Tapi kalau lu kerja full time di sini, kuliah gimana?” tanya Rosy sambil menyilangkan kakinya di bawah meja.

Hannah menarik nafas panjang, mencoba menstabilkan getaran di suaranya. “Gue berhenti.”

“HA?” Rosy melongo sempurna. Rahangnya jatuh, bola matanya hampir melompat dari soketnya. “L-lu serius?”

“Hm.” Hannah mengangguk datar, seolah keputusan itu adalah hal paling logis di dunia. “Gue nggak punya biaya buat makan, apalagi kuliah. Selama ini gue selalu dapat bantuan dari Ibu Mawar, dari Aleta... dan gue jelas nggak mau semua itu lagi. Terlebih—”

Ia menggantung kalimatnya, menelan kembali rasa kesal yang sempat mencuat terhadap Aleta. “Ya, lagi pula,” ia melanjutkan dengan nada skeptis, “Pelukis nggak punya masa depan. Lu tahu sendiri, banyak pelukis terkenal yang seumur hidupnya miskin, dan baru diakui setelah meninggal karena sakit jiwa.” Hannah menyunggingkan senyum getir. “Profesi seniman cuma buat orang berduit. Buat orang miskin kayak gue, nggak punya channel, nggak ada harapan buat sukses. Mau makan apa?”

Lihat selengkapnya