“Hai!”
Kepala Thomas tiba-tiba muncul dari balik punggung Hannah, tepat saat gadis itu sedang tenggelam dalam konsentrasi penuh melipat tumpukan tisu makan. Hannah tersentak hebat, bahunya mencuat naik ke atas saking kagetnya.
“Duh, kaget aku!” pekik Hannah sambil refleks mendekap dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang mendadak berpacu.
Thomas tertawa lepas melihat reaksi itu. Cowok dengan kulit sawo matang dan alis tebal itu meletakkan sebuah kantong plastik berisi sandwich hangat di atas meja bar yang mengkilap.
Hampir setiap hari Thomas melakukan aksi jahil yang sama, namun Hannah selalu saja memberikan reaksi yang menurutnya menggemaskan.
Hannah hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Ia memicingkan mata ke arah bosnya itu—sebuah tatapan protes yang pura-pura tajam. Meski masih belum sepenuhnya terbiasa dengan sapaan Thomas yang selalu muncul secara tiba-tiba, Hannah mulai merasa cukup nyaman untuk menunjukkan sedikit perlawanan kecil seperti ini.
“Kamu belum sarapan, kan?” tebak Thomas, sambil menggeser posisi plastik berisi sandwich itu lebih dekat ke arah Hannah.
“Buat aku?” tanya Hannah sungkan.
“Em.” Angguk Thomas, sambil bersandar miring di meja bar.
Denting pintu kafe yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan pagi. Langkah terburu-buru dari sepatu heels setinggi tujuh sentimeter berdentum keras di atas lantai kafe, menciptakan gema yang menuntut perhatian. Sontak, Hannah dan Thomas menoleh serempak. Kafe belum waktunya beroperasi, dan tamu yang datang seolah-olah sedang mengejar sesuatu adalah hal yang jelas tidak mereka harapkan di jam sepagi ini.
Ternyata, itu Indi. Ia berjalan cepat dengan wajah ditekuk, memancarkan aura kekesalan yang kental. Di belakangnya, Lucky—pria berkacamata dengan tubuh tambun yang baru seminggu ini Hannah ketahui sebagai tunangan Indi—tampak tergopoh-gopoh menyusul langkah cepat calon istrinya itu, atau lebih tepatnya hampir istri.
“Hannah! Kenapa kamu malah transfer uang sewa kamar?” todong Indi tanpa basa-basi. Ia menyodorkan ponsel di tangannya tepat di depan wajah Hannah, seolah benda itu adalah sebilah pisau yang siap menghunus.
Hannah hanya bisa nyengir kuda, memutar tubuhnya untuk menghadapi Indi dengan tenang. “Aku kan udah dapet gaji pertama, Kak. Ya aku bayar, lah.”
“Tapi kan perjanjiannya sebulan pertama kamu nggak perlu bayar dulu!” protes Indi, suaranya naik satu oktaf.
Di saat yang sama, Lucky akhirnya sampai di hadapan mereka dengan napas terengah. Ia sempat memberikan senyum dan anggukan singkat yang sopan kepada Thomas, sebagai tanda maaf atas keributan yang dibawa tunangannya.
“Uangnya kan bisa kamu pakai untuk keperluan lain dulu, Han. Nggak usah buru-buru bayar sewa!” keluh Indi lagi, menatap Hannah dengan pandangan yang tajam dan menuntut penjelasan.
Hannah tertawa kecil, lalu dengan luwes mengalungkan tangannya ke lengan Indi, mencoba meredam amarah wanita itu. “Kak, aku itu berterima kasih sekali sama Kakak. Sudah dikasih tempat tinggal, diberi rekomendasi kerja di sini... Masa aku nggak dibolehkan bayar sewa? Aku kan pengen merasa lega, Kak. Bisa kasih sesuatu, bukan terima melulu.”
Bibir Indi langsung mengatup rapat. Protes yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak sirna. Alasan Hannah—keinginan untuk merasa "lega"—adalah argumen yang tak mungkin ia bantah. Ia tahu betul bahwa bagi seseorang yang sedang berjuang menata hidup kembali seperti Hannah, kemandirian adalah bentuk harga diri.
“Ya sudah.” Indi mengerucutkan bibirnya sedikit, tanda ia terpaksa menyerah. “Kalau begitu, aku terima uangnya.”
“Nah, begitu dong!” seru Hannah riang. Ia melepaskan lengan Indi dan kembali berdiri tegak di sisi Thomas.
Tanpa sadar, Thomas memandangi Hannah dengan senyum tipis yang tertahan di sudut bibirnya. Ia merasa kagum. Hannah memiliki cara unik untuk menyuarakan isi hatinya dengan berani tanpa sedikitpun melukai perasaan lawan bicaranya. Bahkan Indi—sosok yang terkenal keras kepala dan pantang mengalah dalam debat—bisa dibuat bungkam hanya dalam satu "pukulan" kata-kata yang jujur itu. Hannah tersenyum lebar, merasa menang dalam debat kecilnya dengan Indi. Dalam suasana hati yang sedikit lebih ringan itu, secara alami ia menoleh ke arah Thomas yang berdiri di sampingnya—mungkin untuk mencari dukungan atau sekadar berbagi tawa atas kekalahan Indi.
Namun, Hannah tidak menyangka apa yang akan ia dapati.