Nafas Leo terhenti seketika. Paru-parunya seolah mendadak membeku, menolak untuk menghirup oksigen. Saat pelamar kedua melangkah memasuki ruangan, ia merasa dunianya seakan ditarik paksa dari porosnya. Sosok itu... wajah itu. Ia seperti sedang melihat hantu yang keluar dari mimpi buruk paling indah dalam hidupnya. Wajahnya seketika pucat pasi, bibirnya bergetar hebat menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada.
“Silakan perkenalkan diri,” suara Charles, Kepala Departemen Personalia, terdengar sayup-sayup seperti gema dari kejauhan.
Jantung Leo berdentum berat dan lambat, memberikan sensasi nyeri yang menusuk di setiap ritmenya. Ia terpaku menatap gadis yang kini duduk di seberang. Gadis itu mengenakan kemeja putih bersih yang kontras dengan celana kulot biru dongker, terlihat formal namun rapuh. Saat bibir gadis itu mulai bergerak untuk bersuara, tangan Leo di bawah meja mengepal begitu kencang hingga kuku-kukunya memutih.
“Selamat pagi. Saya Hannah Dahlia. Umur dua puluh satu tahun.”
Rahang Leo mengeras seketika. Pembuluh darah di lehernya tampak menonjol, berdenyut tegang seiring dengan giginya yang mengatup rapat. Suara itu... nada itu. Semuanya identik.
“Kamu lulusan SMA?” tanya Charles, matanya tetap tertuju pada tumpukan berkas Curriculum Vitae di atas meja.
Hannah mengangguk kecil, jari-jarinya saling bertaut erat di atas pangkuan—sebuah gestur kegelisahan yang sangat dikenali Leo dari mimpinya. “Sebenarnya saya mahasiswi semester dua jurusan Seni Lukis, tapi karena alasan pribadi, saya memutuskan berhenti kuliah.”
Tenggorokan Leo terasa seperti dicekik oleh tangan tak kasat mata. Matanya mulai memerah, memanas oleh rasa perih yang tak terjelaskan. Wajahnya perlahan membiru; aliran darahnya seolah tersendat karena nafasnya yang tertahan di kerongkongan.
Kenapa? Kenapa dia nyata? jerit batinnya. Kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya sama persis dengan informasi yang dia lihat dalam mimpi-mimpinya? Kepala Leo mulai terasa kaku dan kram. Suara-suara di sekitarnya perlahan memudar, digantikan oleh dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan di telinganya.
“Agh!” Leo mengerang tanpa sadar, kedua tangannya mencengkram kepalanya sendiri.
“Mas Leo? Mas Leo baik-baik aja?” Charles menoleh dengan raut panik, menyadari sang Direktur sedang kesakitan.
Kepala Divisi Marketing di sampingnya ikut menengok khawatir. Hannah pun, yang tadinya sedang fokus menjawab pertanyaan, otomatis mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk di tengah panel pewawancara tersebut. Sepasang mata cokelat yang selama ini hanya Leo lihat dalam bayang-bayang tidur, kini menatapnya langsung dengan penuh keheranan.
“Nggak... nggak apa-apa. Lanjut aja,” jawab Leo terbata. Suaranya serak dan pecah, seolah pita suaranya baru saja terkoyak.
Charles berdehem, mencoba mengembalikan suasana formal meski ketegangan masih menggantung di udara. “Alamat di KTP dan formulir kamu berbeda. Kalau boleh tahu, kenapa?”
“Ah,” Hannah menyentuh tengkuknya canggung. “Saya baru pindah.”
“Rumah Mawar,” Charles membaca dengan dahi berkerut. “Alamat di KTP kamu tertulis Rumah Mawar. Ini tempat apa?”
Perut Leo serasa dipelintir kuat, dadanya menyempit hingga ia sulit menemukan ruang untuk bernafas. Nama itu. Tempat yang telah menjadi rumah keduanya selama sebulan terakhir, kini disebut oleh orang lain di bawah cahaya lampu kantor yang benderang. Bukan lagi mimpi. Bukan lagi delusi.
“Itu panti asuhan. Saya besar di sana,” sahut Hannah lirih. Ada gurat ketidaknyamanan saat ia harus mengungkap latar belakangnya di depan orang asing, namun ia mencoba tetap tegar demi pekerjaan ini.
“Oh,” Charles mengangguk paham. “Mbak Dian, ada pertanyaan?” Kelihatan jelas sungkan untuk melanjutkan, jadi memilih melemparkan kesempatan bertanya ke orang lain.
Dian, Kepala Divisi Marketing, melirik berkas Hannah dengan ragu. “Maaf, tapi di data keluarga, kamu mencantumkan nama ibu dan saudara... tapi kamu dari panti asuhan?”
Hannah tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang sanggup menghancurkan pertahanan terakhir Leo—karena ia kenal betul senyum itu, dan ia tahu jelas apa artinya. “Saya diadopsi oleh pemilik panti. Jadi secara hukum, saya punya keluarga.”
Dada Leo mencelos sepenuhnya. Rasa mual yang hebat mendadak naik dari lambung menuju pangkal tenggorokannya, membawa rasa asam yang membakar. Ia tak sanggup lagi. Dengan gerakan kasar, ia menutup mulutnya dan berdiri tegak secara tiba-tiba.
Kursinya berdecit nyaring di atas lantai, membuat seisi ruangan tersentak kaget. Tanpa sepatah kata pun, Leo merangsek keluar dari ruang rapat, meninggalkan para stafnya dan Hannah yang terdiam dalam kebingungan.
Ia berlari menuju toilet terdekat, mencengkram pinggiran wastafel dan terbatuk-batuk hebat. Ia berusaha memuntahkan rasa sesak dan mual yang menyiksa, namun tak ada yang keluar selain air mata yang mulai menggenang. Leo membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin yang mengalir deras, mencoba memadamkan api yang membakar wajahnya yang merah menyala. Nafasnya tersengal-sengal, matanya berkedip liar, sementara di dalam cermin, ia melihat pantulan pria yang kini tak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang sekadar bayangan.
Tangan Leo bergetar hebat saat ia merogoh saku celana kain hitamnya. Dengan gerakan kikuk, ia nyaris menjatuhkan ponselnya sebelum berhasil mencari kontak Dokter Roy. Nafasnya masih menderu pendek-pendek. Sambil menunggu nada sambung, ia menyandarkan punggungnya pada dinding luar bilik toilet yang dingin, seolah dinding itu adalah satu-satunya hal yang bisa menopang tubuhnya agar tidak luruh ke lantai.
"Halo, Leo? Ada apa?" Suara Roy terdengar di seberang sana. Nada suaranya segera berubah waspada; ia tahu betul bahwa pasien yang menghubunginya di luar jam konsultasi berarti sedang berada dalam kondisi darurat psikis.
"Dia nyata... dia benar-benar nyata!" Leo memotong tanpa salam, suaranya pecah dan penuh kepanikan. "Gadis itu... dia ada di depan mataku sekarang. Namanya, suaranya, bahkan latar belakang hidupnya... semuanya sama persis dengan yang ada di mimpi itu, Dok! Nggak ada yang meleset sedikit pun—"