Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #21

20. Komplotan Tembus Pandang

"Di sini?" bisik Rosy sembari berjongkok rendah di balik rimbun semak di pinggir jalan. Tepat di seberang rumah Leo.

"Ya!" jawab Lian mantap dengan sebuah anggukan.

Rosy menoleh, menatap udara kosong di sampingnya dengan dahi berkerut bingung. "Kak Lian ngapain ikut ngumpet juga? Kan Kakak nggak kelihatan!"

Lian tersentak, lalu perlahan berdiri tegak. "Oh, iya bener juga," gumamnya kikuk. Ia begitu terbawa suasana hingga lupa bahwa statusnya sebagai arwah membuatnya tak kasat mata bagi siapa pun—kecuali bagi gadis di sampingnya ini.

Ini adalah pertemuan kedua mereka. Sebuah kelanjutan dari pertemuan pertama yang masih menyisakan rasa tak percaya bagi Lian, dan kecanggungan yang luar biasa bagi Rosy.

Lian tak pernah membayangkan ia akan terjebak dalam situasi seabsurd ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat bersyukur bahwa 'keunikan' Rosy—yang sering diceritakan Hannah sebagai lelucon ringan—ternyata adalah kenyataan yang kini menjadi satu-satunya harapannya. Meskipun ia tahu pasti, citranya sebagai 'kakak teman' yang berwibawa dan dewasa telah hancur berkeping-keping di mata Rosy, tepat saat ia harus berlutut dan memohon bantuan pada gadis itu di pertemuan pertama mereka dua hari lalu.

Di sisi lain, Rosy menyimpan rahasia kecil yang ia jaga rapat-rapat. Sejak pertama kali bertemu di masa lalu, ia menaruh hati pada Lian. Bukan cinta yang mendalam, melainkan sebuah kekaguman besar yang menempatkan Lian di posisi teratas dalam daftar pria idamannya. Karena alasan itulah, Rosy tak pernah meremehkan perasaan Hannah yang mencintai Lian secara diam-diam; ia paham betul pesona apa yang dimiliki pria itu.

Kini, berdiri berdampingan dengan Lian yang nyatanya bukan lagi manusia, Rosy menyadari satu hal yang ironis: rasa canggung dan debaran halus saat berada di dekat pria idaman ternyata tetap tidak hilang, bahkan ketika pria itu sudah menjadi sosok tembus pandang. Namun tetap saja, ia berada disini untuk membantu, tak sepantasnya terbawa suasana terhadap kisah masa lalu.

"Semalam Kak Lian nggak masuk ke badannya?" Rosy mengonfirmasi, memastikan rencana mereka tetap pada jalurnya.

Lian menggeleng dengan wajah lesu. "Karena kamu bilang bakal antar aku ketemu Hannah, aku merasa nggak perlu lagi numpang tidur di dalam badannya."

Rosy mengangguk paham. Beberapa saat kemudian, pintu pagar tinggi itu terbuka. Sebuah sedan putih mewah dengan logo trisula yang mencolok meluncur keluar dengan suara mesin yang halus namun bertenaga.

"Itu mobilnya?" Rosy melirik Lian, yang langsung dibalas dengan anggukan penuh keyakinan.

Tanpa mengulur waktu, Rosy keluar dari persembunyiannya dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Lian bergerak lebih cepat—ia menembus pintu mobil begitu saja dan langsung mengambil posisi di kursi penumpang tepat di sebelah Rosy.

Rosy, yang hari ini mengenakan pakaian serba hitam longgar dan topi berwarna senada, sempat tersentak kecil. Sering melihat arwah tetap saja tidak membuatnya terbiasa dengan pemandangan benda padat yang ditembus begitu saja. Ia selalu bingung bagaimana para arwah ini bisa memilih kapan harus menembus dan kapan harus menyentuh benda.

"Kak Lian... itu beneran duduk di kursi?" tanyanya penasaran sembari menyalakan mesin mobil.

Lian menoleh bingung. "Nggak, aku cuma ambil posisi duduk terus diam di tempat," jawabnya jujur.

"Ahhh!" Rosy mengangguk-angguk. Akhirnya satu rasa penasarannya terjawab. Selama ini ia selalu menghindari arwah, tak ingin terlibat, apalagi sampai ketahuan bisa melihat mereka. Ia sudah cukup lelah dicap aneh oleh orang-orang, sehingga ia berusaha keras untuk terlihat normal. Sampai tak pernah punya kesempatan untuk bertanya hal receh seperti ini.

"HEHHHHH! SIAPA ITU?" pekik Rosy tiba-tiba. Suaranya melengking hingga ia nyaris melompat dari kursi kemudi.

Ia menoleh ke kursi belakang dengan mata membelalak. Di sana, seorang gadis kecil duduk tenang sambil menatapnya datar. Sekali lihat saja, Rosy tahu anak ini adalah penghuni alam yang sama dengan Lian.

"Eh! Dari mana saja kamu!" tegur Lian, ikut menoleh ke belakang.

Lihat selengkapnya