Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #22

21. Batas Waktu

Rosy dan Lian sama-sama terdiam. Keduanya duduk bersisian di bangku halte yang dingin dengan tatapan kosong dan nafas yang terasa berat, sementara malam mulai makin pekat.

Hari ini adalah estafet pengintaian yang menguras energi. Mereka telah mengikuti Leo dari Yayasan Arunika hingga ke beberapa kantor cabang lainnya—hanya untuk menyadari betapa luasnya jaring kekuasaan pria itu. Namun, kejutan terbesar justru datang saat mereka mendapati Aleta ternyata bekerja sebagai resepsionis di salah satu gedung milik Leo. Fokus mereka seketika beralih; mereka membuntuti Aleta yang sepulang kerja langsung menuju ke lingkungan kumuh itu lagi. Masuk ke rumah gubuk misterius yang sama, menemui wanita yang tampak sakit parah itu.

Namun, tetap nihil. Tak ada satupun petunjuk tentang hubungan atau sejarah antara Aleta dan wanita itu. Selama disana, Aleta hanya sibuk bersih-bersih dan menyiapkan makanan dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya pulang kembali ke Rumah Mawar.

Setelah semua kegiatan tanpa jeda itu—bahkan sampai membuat Rosy melewatkan makan siang setelah tak sempat sarapan di pagi hari—mereka baru teringat akan keberadaan Lara. Gadis kecil itu sejak awal mengekor tanpa suara, seolah-olah ia hanyalah bayangan di kursi belakang.

Tepat sebelum Lara berpamitan untuk pergi lagi, Lian menahannya. Ia teringat satu pertanyaan yang belum terjawab sejak pagi tadi: Kemana sebenarnya Lara menghilang selama ini?

Jawaban yang keluar dari mulut kecil itu ternyata membawa informasi yang jauh lebih menyakitkan daripada kelelahan fisik yang mereka rasakan.

Lara menjelaskan bahwa ia mengikuti arwah bernama Ola, gadis yang satu sekolah dengannya, yang meninggal dua bulan sebelumnya. Ia menghabiskan waktu bersama Ola, mengawasi dan mempelajari hukum alam yang berlaku bagi mereka yang telah tiada. Ia mencari informasi, untuk diterapkan dalam misinya sendiri.

Lalu, ia menyampaikan sebuah kesimpulan yang membuat nyali Lian menciut dan punggung Rosy meremang.

“Aku dengar dari Ola,” ucap Lara datar, matanya yang besar menatap Lian dengan sorot yang teramat tua untuk anak seusianya. “Aku juga lihat sendiri apa yang terjadi sama Ola saat hari keseratusnya tiba. Dan sepertinya itu benar... kalau kita,” ia menjeda, seolah memberi ruang bagi Lian untuk bersiap. “Maksimal cuma seratus hari bisa bertahan di sini. Mau keinginan kita terpenuhi atau nggak, kita pasti pergi.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Seratus hari.

Lian menghitung dalam hati, dan rasa panik seketika menjalar di sekujur tubuhnya yang tak berdarah. Satu bulan sudah berlalu sejak kecelakaan itu. Artinya, jam pasir miliknya sudah kehilangan sepertiga bagian. Waktunya untuk melindungi Hannah, mencari tahu apa hubungan dirinya Leo, dan memperbaiki kekacauan ini ternyata tidaklah abadi. Ia sedang berlari melawan waktu yang bahkan tak bisa ia lihat. Sungguh ironi. Padahal sebenarnya, ia ingin buru-buru siksaan sebagai sosok yang tak mampu berbuat apapun untuk diri sendiri ini, berhenti dengan segera, namun disisi lain, ia merasa tak rela untuk benar-benar pergi untuk meninggalkan dunia ini sepenuhnya, terlebih sebelum semua hal yang mengganjal ini terselesaikan.

Rosy menoleh, menatap wajah pucat Lian yang tampak semakin jelas tak bernyawa karena gurat kesedihan yang mendalam. “Jadi gimana, Kak?”

Sambil menatap langit malam yang kelam, Lian menimbang masak-masak. Waktu seratus hari yang kian menipis memaksanya untuk memilah mana yang terpenting. Ia menoleh ke belakang, menatap jejak-jejak kegagalannya selama ini, hingga ia sampai pada satu kesimpulan mutlak.

“Pertama, kita harus selesain masalah Aleta dulu,” ucap Lian sambil menatap Rosy tajam. Dia merasa hal ini yang lebih mudah untuk dicari tahu dan lebih cepat diselesaikan.

Dahi Rosy berkerut halus. “Mau bagaimana caranya?”

“Kita ikuti dia sekali lagi. Kalau masih gak ada informasi juga, kita tanya langsung.”

“HA?” pekik Rosy, nyaris melompat dari duduknya. “Tanya langsung gimana?”

“Kamu kasih tau apa adanya ke Aleta.”

Lihat selengkapnya