Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #23

22. Terlambat Jatuh Hati

Pintu kaca restoran berayun pelan, membelah suasana sore yang tenang. Dari balik bingkai pintu itu, sosok yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya muncul.

Hannah melangkah masuk dengan balutan blazer dan celana bahan berwarna baby pink yang membalut tubuh mungilnya langsingnya dengan elegan. Rambut coklatnya terikat rapi dalam kuncir kuda, bergoyang mengikuti ritme langkahnya yang energik. Sebuah tas kulit hitam yang mengkilap bersih tergantung manis di bahunya, memantulkan cahaya temaram lampu restoran. Ia melambaikan tangan ke arah meja mereka, mempercepat langkah hingga bunyi ketukan sepatu pantofel hitamnya berdetak ritmis di atas lantai. Senyumnya merekah cerah, jauh lebih terang dan hangat daripada semburat matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.

Di samping Rosy, Lian yang sedari tadi duduk bersandar lesu seketika tersentak. Ia menegakkan tubuhnya dengan kaku, seolah ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengat sukmanya.

Di dalam rongga dadanya—tempat di mana jantung seharusnya berada—muncul sebuah sensasi berdenyut yang samar namun nyata. Sebuah anomali yang mustahil bagi sosok yang sudah tak bernafas lagi. Mata Lian melebar tanpa berkedip, pupilnya terkunci sepenuhnya pada sosok Hannah. Dunia di sekelilingnya mendadak melambat, suara bising restoran memudar menjadi hening, menyisakan Hannah sebagai satu-satunya objek yang memiliki warna dan cahaya di matanya.

Lian terpaku. Ia kehilangan seluruh kata-kata. Ada rasa sakit sekaligus haru yang membuncah; melihat Hannah dalam balutan pakaian yang begitu cantik, begitu hidup, dan begitu dekat, membuatnya sejenak lupa bahwa ia hanyalah bayang-bayang yang tak bisa menyentuh kenyataan itu. Ia menatap Hannah dengan binar yang rapuh—sebuah tatapan jatuh cinta yang terulang kembali, jauh lebih dalam dan menyesakkan daripada saat pertama saat mereka bertemu di dunia nyata dulu.

“Sorry telat, agak macet tadi arah ke sini!” ujar Hannah sambil menarik kursi di hadapan Rosy, tidak menyadari bahwa di samping sahabatnya, ada sepasang mata yang menatapnya dengan seluruh sisa jiwa yang ia miliki.

“Nggak apa-apa, gue juga baru sampai,” dusta Rosy pelan, karena Lian tak henti-hentinya mendesak agar mereka buru-buru sampai, Rosy sudah duduk mematung di restoran ini sejak setengah jam yang lalu.

Ia melirik Lian dari sudut matanya, merasa sedikit terkejut melihat bagaimana pria itu menatap Hannah—seperti seorang pria yang rela menukar keabadiannya hanya untuk satu detik bisa menyentuh jemari gadis itu. Sekarang terjawab sudah pertanyaan yang Rosy telan diam-diam, ia tahu tatapan ini. Meski tak banyak pengalaman asmara, bagaimana cara Lian menatap Hannah saat ini, lebih masuk akal disebut sebagai cinta ketimbang kasih sayang saudara.

Pemandangan yang Rosy dapati saat ini terasa menyakitkan. Melihat bagaimana Lian menatap Hannah—dengan pemujaan yang begitu tulus sekaligus putus asa—membuat hati Rosy terasa seperti tergerus.

Bukan karena ia patah hati menyadari pria idamannya ternyata begitu mencintai sahabatnya, melainkan karena fakta pahit yang baru saja terungkap: cinta Hannah selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka saling mencintai dengan kedalaman yang sama, namun takdir telah menarik salah satu dari mereka ke balik tirai kematian tepat sebelum mereka sempat saling mengaku.

Apa yang akan terjadi jika Hannah tahu? batin Rosy perih. Sanggupkah dia menanggung kenyataan bahwa orang yang ia cintai ada di sini, menatapnya dengan hancur, namun tak bisa ia sentuh? Tanpa sadar, Rosy meremas dadanya yang terasa sesak karena beban rahasia ini.

“Ros, lu kenapa?” Hannah, yang sebelumnya sedang asyik menelaah buku menu, mendelik khawatir melihat perubahan raut wajah sahabatnya.

“Nggak... nggak apa-apa. Cuma laper banget aja,” dusta Rosy lagi. Ia merasa ngeri menyadari betapa lancarnya kebohongan demi kebohongan mengalir dari mulutnya sejak ia terlibat dalam urusan Lian.

“Oh, ya udah! Kalau gitu lu mau makan apa? Biar gue yang traktir!” Mata Hannah berbinar terang, memancarkan kebahagiaan yang tulus. “Gue hari ini baru tanda tangan kontrak, Ros! Mulai minggu depan gue bakal resmi jadi anak kantoran!” jelasnya dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.

“Wah, congrats!” ujar Rosy. Ia berusaha keras memaksa bibirnya melengkung ke atas dan matanya menunjukkan semangat, meski fokusnya terus terpecah. Di sampingnya, Lian masih mematung. Pria itu seolah telah kehilangan kemampuan untuk melakukan hal lain selain memandangi Hannah, seakan-akan Hannah adalah satu-satunya sumber cahaya yang tersisa di dunia yang kini gelap baginya. “G-gue... gue pilih duluan kalau gitu!”

Rosy buru-buru menarik buku menu dari tangan Hannah, menjadikannya tameng untuk menutupi wajahnya yang mungkin mulai menunjukkan gurat kesedihan.


Hannah, yang benar-benar percaya bahwa tingkah aneh Rosy hanyalah efek dari rasa lapar yang ekstrim, hanya tersenyum maklum. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Rosy dengan kasih sayang seorang sahabat.

Namun, senyuman Hannah itu justru menjadi serangan terakhir bagi pertahanan Lian. Pria itu terisak tanpa suara. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi pucatnya. Entah apakah arwah benar-benar bisa menghasilkan air mata atau itu hanyalah proyeksi dari kepedihan sukmanya yang paling dalam, yang jelas, saat ini Lian sedang menangis sejadi-jadinya.

Ia menangis karena lega. Selama ini, ia terus-menerus didera kecemasan tentang di mana Hannah sebenarnya berada. Ia takut Hannah akan melakukan hal nekat karena terpuruk dalam duka, atau lebih buruk lagi, Hannah harus menderita sendirian di luar sana tanpa ada satupun tangan yang merangkul dan membantunya. Melihat Hannah bernapas lega di hadapannya adalah jawaban dari doa-doa sunyinya selama ini.

Lihat selengkapnya