Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #24

23. Rahasia yang Terbongkar

Dua minggu berlalu sejak wawancara itu. Leo sudah tak pernah mengkonsumsi obat-obatannya lagi dan memilih melakukan berbagai cara untuk membuat badannya kelelahan—dari olahraga sampai kerja tanpa ingat waktu—agar tidurnya bisa terjadi secara alami, saking tubuhnya kelelahan.

Namun mimpi-mimpi itu ternyata masih datang hampir tiap malam. Bayang-bayang wajah wanita itu bahkan masih muncul dalam benaknya pada saat-saat acak di siang hari, saat dirinya sama sekali tak mengingat-ingat atau memikirkannya. Jelas sudah, mimpi-mimpi itu tak ada kaitannya dengan obat-obatan yang ia konsumsi.

Bahkan kadang ada satu titik, saat ia merasa seperti sedang adu kekuatan dengan sosok tak kasat mata. Dalam mimpi yang coba ia kuasai dengan ilmu-ilmunya untuk melakukan Lucid Dream, seperti sosok seperti menahannya, mengekang, dan membuatnya kehilangan kendali lagi dan lagi. Ia akhirnya seperti orang yang diikat di kursi bioskop dan dipaksa menonton film yang sama berulang-ulang. Sungguh frustasi yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat.

Ia pun sudah berhenti konsultasi dengan Dokter Roy, baginya menjelaskan apa yang ia alami, dan berusaha mencari jalan keluar dengan Dokter—yang tak juga paham seberapa magis dan misteriusnya hal yang ia rasakan ini—cuma menambah lelah.

Dan kini, saat dia mendatangi kantor pusat Yayasannya, Arunika, yang fokus pada karya seni terutama lukisan untuk didistribusikan ke museum-museum yang menjadi rekanannya. Ia akhirnya melihat gadis itu lagi.

Di depan mesin fotokopi, Hannah berdiri dengan kemeja biru langit dan celana kulot putih yang tampak sangat rapi. Gadis itu terlihat kebingungan, jemarinya ragu-ragu menekan tombol mesin yang sepertinya sedang macet.

Leo menarik nafas dalam-dalam, membiarkan oksigen memenuhi dadanya yang tiba-tiba menyempit. Ia sudah tidak lagi panik. Ia tidak lagi kewalahan menyaksikan bagaimana detail mimpinya menjelma menjadi kenyataan yang bernapas. Meski sebenarnya untuk bisa berdiri setenang ini, Leo harus melakukan simulasi di kepalanya ribuan kali. Saat ia menandatangani kontrak kerja karyawan baru minggu lalu dan tahu gadis ini masuk ke jajaran yang diterima, ia sudah mempersiapkan mental untuk momen ini.

Padahal, jauh di lubuk hatinya, Leo merasa situasi ini sangatlah ironis.

Ia adalah Leo Witama. Pria yang dikenal dingin, yang bahkan tidak berminat menghafal nama jajaran manajernya karena menganggap interaksi manusia tak begitu penting. Namun kini, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya hanya untuk bisa berjalan melewati seorang karyawan baru tanpa terlihat gemetar. Ia, yang biasanya tidak peduli pada siapa pun, kini terobsesi untuk terlihat "normal" dihadapan satu gadis yang menghantui tidurnya.

“Pagi, Pak!” sapa Hannah sopan. Ia segera memutar tubuhnya menghadap Leo, sedikit membungkuk dan menurunkan pandangannya—sebuah gestur hormat yang lazim dilakukan karyawan baru agar tidak terlihat lancang menatap langsung sang atasan.

Leo tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya berjalan lurus, melewati Hannah seolah gadis itu hanyalah bagian dari dekorasi kantor yang tak bermakna. Namun, saat ia melintas, aroma parfumnya yang tak terlalu menyengat—perpaduan antara citrus yang tajam dan nuansa aquatic yang dingin—merebak di udara, menyapu indra penciuman Hannah.

Tanpa sadar, Hannah menarik nafas lebih dalam. Ia menghirup aroma yang menyegarkan itu lebih lama, membiarkan wangi tersebut menenangkan debaran jantungnya yang sempat memacu karena rasa sungkan.

Langkah Leo akhirnya sampai di depan pintu ruangannya. Jemarinya sudah menggenggam gagang pintu yang dingin, namun gerakannya terhenti di. Ia bergeming ragu, haruskah ia membantu gadis yang kesulitan dengan mesin fotokopi itu? Sebuah perasaan dan pemikiran yang hampir tak pernah ada dalam benaknya saat melihat orang asing kesusahan. Namun, ia segera tersadar bahwa ragu-ragu di depan pintu seperti ini sudah merupakan tingkah di luar batas normal yang selama ini ia jaga dengan ketat.

Leo memejamkan mata sejenak, menguatkan tembok pertahanannya. Dengan satu dorongan tegas, ia membuka pintu ruangannya, melangkah masuk, dan menutupnya kembali. Ia memilih untuk menghindar, mencoba melarikan diri dari realita yang mulai terasa lebih magis daripada mimpi-mimpinya sendiri.

***


"Keluar!" seru Aleta tiba-tiba. Suaranya membelah kesunyian gang sempit yang diapit dinding-dinding kusam itu. Ia berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah sudut gelap di balik tumpukan kayu. "Gue tahu lu udah ngikutin gue selama beberapa hari ini. Keluar sekarang, atau gue teriak maling!"

Suasana mencekam sejenak. Angin sore yang lembab seolah berhenti berhembus. Perlahan, sosok yang bersembunyi itu menarik diri dari kegelapan. Ia melangkah ragu dengan bahu yang merosot, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik topi hitam yang ditarik rendah hingga menutupi dahi.

Aleta tidak memberi ruang untuk melarikan diri. Dengan langkah tergesa dan nafas yang memburu, ia mendekat. Tanpa ragu, tangannya terulur menyambar ujung topi hitam itu dan mengangkatnya ke udara dengan satu hentakan kasar.

Begitu wajah di baliknya terekspos, bola mata Aleta nyaris loncat keluar. Nafasnya tertahan di tenggorokan.

Lihat selengkapnya