Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #25

24. Kenangan yang Kembali

Dengan ponsel yang masih menempel di telinga, Thomas kembali masuk mobil dan duduk dibalik kemudi. Ia sudah menunggu sepuluh menit di area lobi sebelum akhirnya ditegur satpam dan diarahkan ke tempat parkir. Rencananya untuk memberi kejutan dengan menjemput Hannah tanpa kabar sepertinya sedikit berantakan.

Hari ini, ia, Hannah, dan Indi sudah berjanji untuk makan malam bersama sambil membantu Indi mengemas souvenir pernikahannya. Puluhan tanaman hias hidup itu harus dibungkus, diikat pita satu per satu dengan hati-hati. Sejak jauh hari, Indi sudah mewanti-wanti agar Thomas tidak mangkir dengan alasan apapun.

Saat memutar setir keluar dari area lobi, panggilannya akhirnya tersambung.

“Halo, Kak Thomas?” sapa Hannah di seberang saluran.

“Kamu masih di kantor?” tanya Thomas sembari memarkirkan mobilnya di bahu jalan terdekat. Ia menyalakan lampu hazard sebagai dalih seandainya ada petugas yang menegur.

“Nggak, aku lagi tugas di luar,” sahut Hannah. Di latar belakang, terdengar suara bising kendaraan yang berlalu lalang.

“Tugas di luar? Kamu ke mana? Di mana?” Thomas mengerutkan dahi, mulai merasa resah. Tak menyangka seorang staf admin yang baru kerja dua hari dapat penugasan luar.

“Aku diminta ke rumah Direktur, minta tanda tangan buat berkas penting yang kelewat. Soalnya benar-benar dibutuhin besok pagi kata atasan aku.”

“Direktur? Leo?” pekik Thomas. Suaranya sedikit melengking, kehilangan wibawa biasanya.

“Iya, ke rumah Mas Leo. Ini udah sampai di depan rumahnya.” Suara Hannah menjauh, disusul bunyi bel pagar yang ditekan.

“T-tunggu, aku kesana sekarang. Tunggu aku!” ujar Thomas panik, namun suaranya tak lagi terdengar oleh Hannah yang sudah menurunkan ponsel untuk menyapa Bi Harti, pengurus rumah Leo yang keluar untuk membukakan pagar.

Thomas segera memasang sabuk pengaman dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia adalah tipe pria yang sangat mengandalkan naluri, dan selama ini naluri itu jarang meleset. Ada rasa tidak nyaman yang terus mengusik sejak Indi menyarankan Hannah melamar ke kantor Leo. Diam-diam ia sempat berharap gadis itu tidak lulus wawancara—sebuah pikiran picik yang ia akui sendiri—hanya karena ia ingin menjaga Hannah tetap di dekatnya.

Begitu Hannah diterima di Arunika, Thomas otomatis memasang mode waspada. Ia berusaha mengarahkan Hannah sebisa mungkin agar tidak terlalu sering berurusan dengan Leo. Thomas tidak ingin Leo menyadari keberadaan gadis manis itu.

Meski kepribadian Indi dan Hannah sangat berbeda, Thomas yakin akan satu hal: seleranya dan Leo terhadap wanita ternyata identik. Ia tidak mau terjebak dalam cinta segitiga lagi, apalagi harus bersaing dengan Leo. Sahabatnya itu punya segala hal yang bisa membuatnya menang tanpa banyak berjuang; penampilan, kekayaan, dan aura dingin yang entah mengapa justru sering menarik perhatian wanita. Cukup sekali persaingan itu ia rasakan, ia tidak ingin mengulanginya.

Ia harus segera sampai di sana. Ia ingin berdiri di samping Hannah, menunjukkan kehadirannya, dan secara tersirat mendeklarasikan ketertarikannya sebelum Leo menaruh perhatian pada gadis itu. Atau setidaknya, ia ingin memastikan sikap dingin Leo yang sering menyengat itu tidak sampai melukai Hannah yang tak lain adalah bawahannya.


Di dalam kediaman Leo, Hannah duduk di salah satu sofa putih yang berjajar membentuk formasi huruf U di ruang tamu yang luas itu. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang mengisi kehampaan ruangan ber marmer dingin tersebut. Bi Harti datang membawa cangkir teh hangat beraroma melati yang mengepul, meletakkannya dengan perlahan di atas meja di hadapan Hannah.

Saat Hannah mendongak, tersenyum, dan mengangguk sopan, Bi Harti mendadak mematung. Wanita paruh baya itu berdiri diam sambil mengeratkan pegangan pada nampan kosongnya. Matanya menyipit, menatap wajah Hannah dengan raut serius yang penuh selidik.

“Kayaknya... Mbak pernah ke sini, ya?” tanya Bi Harti penasaran.

Alis Hannah tersentak. Pertanyaan itu seolah menyentuh sisi otaknya yang tersembunyi. Sejak melangkah masuk melewati pintu depan tadi, entah mengapa ia merasa pernah berada di sini. Sudut-sudut ruangan dan letak perabotannya terasa familier, meski ingatannya terlalu samar dan meragukan untuk dijadikan pegangan. Lagi pula mana mungkin ia pernah menginjakkan kaki di rumah Direktur yang sama sekali tak pernah ia kenal ini.

Leo muncul di puncak tangga, langkahnya tertahan saat melihat siapa yang duduk di bawah sana. Sudut matanya mengeras, tatapannya menajam. Dalam hati ia menyumpah; dari sekian banyak staf di kantor, kenapa harus Hannah yang dikirim ke rumahnya? Saat Rudi, kepala kurator, mengirim pesan tadi bahwa ia akan mengirim orang untuk mengantar berkas penting, Leo sama sekali tidak menduga akan melihat gadis itu duduk di ruang tamunya.

Langkah Leo yang semula tenang mendadak berubah kasar, tiap hentakan sandalnya di atas lantai marmer terdengar seperti gertakan.

“Mana berkasnya?” todongnya tak ramah. Ia berjalan mendekat tanpa basa-basi.

Hannah tersentak. Ia langsung kikuk, jemarinya merogoh isi tas dengan panik. Namun, gerakan yang terburu-buru itu justru membuat tali tas di bahunya melorot, hingga tas kulitnya merosot jatuh ke lantai. Hannah segera menunduk untuk memungutnya, tapi karena kurang perhitungan, kepalanya justru membentur ujung meja kayu yang keras.

“Au!” erang Hannah spontan, tangannya refleks memegangi dahi yang mulai terasa nyut-nyutan.

Lihat selengkapnya