Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #26

25. Satu Langkah Maju

“Nggak jadi bungkus souvenirnya. Tanaman yang ini ternyata gampang layu, gue harus pesan ulang jenis lain,” ucap Indi begitu Thomas sampai di depan rumah untuk mengantar Hannah pulang.

Ia berdiri tegak dengan tangan bersedekap, memperlihatkan sisi dominannya yang biasa ia gunakan untuk menginterogasi Thomas. “By the way, lo nggak mau kasih tahu gue ada apa? Hannah kenapa?”

Biasanya, Thomas akan langsung menyerah. Sisi dominan Indi jarang sekali gagal mengorek rahasia apa pun yang berusaha disembunyikan Thomas. Namun kali ini, pertahanan Thomas tidak goyah sedikit pun. Ia hanya menggeleng pelan.

“Nanti gue ceritain lagi. Sekarang gue harus pergi dulu,” jawab Thomas singkat.

“Ke mana?” tanya Indi buru-buru, saat Thomas langsung berbalik dan melintasi halaman rumahnya.

“Nanti gue jelasin,” ulang Thomas. Nada bicaranya yang misterius terasa sangat asing bagi Indi. Di ambang pagar, Thomas sempat menoleh sekali lagi. “Jangan ngomong apa-apa dulu ke Hannah kalau dia nggak cerita duluan. Biarin dia istirahat.”

Kalimat itu lebih terdengar seperti perintah yang tak boleh dibantah daripada sebuah permintaan.

Indi tercenung. Sambil perlahan melepas lipatan tangannya, ia hanya bisa mengangguk pelan dan tak mengatakan apapun saat Thomas masuk ke mobilnya dan melesat pergi begitu saja. Bulu kuduk di tengkuknya mendadak meremang. Ia bergidik ngeri, entah karena sosok Thomas yang tiba-tiba terlihat menyeramkan—begitu serius dan tertutup—atau karena embusan angin malam yang mendadak terasa menusuk tulang.

Indi pun masuk ke dalam rumah sambil mengusap-usap lengannya yang kedinginan, tidak menyadari bahwa di belakangnya, Lian diam-diam mengekor.

Sesampainya di dalam rumah Lian segera meninggalkan sisi Indi. Sejak awal, ia memang tidak tertarik mencari tahu lebih dalam tentang wanita itu; tujuannya tetap berada di dekatnya sejak tadi hanya ingin mendengar apa yang akan dikatakan Thomas. Dan satu hal yang pasti, amarah di mata pria itu sama sekali belum padam.

Sejak mereka meninggalkan rumah Leo, menemani Hannah memeriksa luka tangannya di rumah sakit, hingga pergi lagi barusan, Lian melihat konsistensi emosi yang sama di mata pria itu. Ada emosi tertahan yang meluap-luap dan butuh segera disalurkan. Lian yakin, Thomas pasti sedang menuju kembali ke rumah Leo. Sebagai sesama laki-laki, Lian sangat paham gelagat itu—gelagat seseorang yang sedang bersiap untuk sebuah konfrontasi besar.

Kini, Lian terdiam sejenak di depan pintu kamar Hannah. Ia mematung, didera keraguan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Meskipun ia bisa saja langsung menembus kayu pintu itu, ada rasa sungkan yang menahan langkahnya. Ia takut Hannah sedang mengganti pakaian atau melakukan hal pribadi lainnya. Sebagai arwah, ini adalah pertama kalinya ia merasa harus menghormati privasi orang lain layaknya saat ia masih hidup dulu.

"Hannah, sudah makan malam belum?"

Suara Indi tiba-tiba memecah keheningan. Lian tersentak, baru menyadari bahwa wanita itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Ia reflek menggeser tubuhnya ke samping.

"Nggak lapar, Kak. Aku mau tidur saja," sahut Hannah dari dalam kamar, suaranya terdengar letih dan sedikit serak.

"O-oke. Kalau nanti mau makan, ada di kulkas, ya. Hangatkan saja di microwave."

"Iya, Kak."

Indi mengangguk-angguk kecil sebelum akhirnya berbalik menuju kamarnya sendiri.

Lian menatap punggung Indi yang menjauh dengan perasaan lega yang menyusup ke dadanya. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya bagaimana nasib Hannah setelah ia tiada. Kini, melihat Hannah tinggal di rumah yang hangat, bersih, dan nyaman ini—terlebih ditemani oleh seseorang yang begitu perhatian seperti Indi—Lian merasa bebannya sedikit terangkat.

Ternyata, Hannah tidak sendirian. Ia dijaga oleh orang-orang baik, meski Lian tetap merasa bahwa penjagaan itu belum cukup jika dibandingkan dengan apa yang bisa ia berikan seandainya ia masih bernafas. Tapi setidaknya, Hannah tak sendirian dan kesepian.

Lihat selengkapnya