Waktu sudah menunjukkan jam istirahat makan siang ketika Leo akhirnya tiba di kantor. Pagi yang ia lewati terasa begitu sesak dan melelahkan. Membuka diri dan membagi rahasia yang selama ini ia tutup rapat—bahkan dari logikanya sendiri—terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Sekalipun Thomas adalah sahabat lamanya, sekalipun pria itu tak menunjukkan respon negatif apapun saat mendengar penjelasannya. Tapi proses itu, begitu menguras fisik dan batinnya.
Leo masih ingat jelas bagaimana raut wajah Thomas tadi pagi. Wajah sahabatnya itu sempat membeku dan pucat pasi; matanya menerawang dengan mulut setengah terbuka karena syok. Tapi ia tak menyela sedikitpun, tak menyanggah apapun, seluruh penjelasan Leo dan konfirmasi dari Dokter Roy—yang sama terkejutnya dengan Thomas—ketika mendengar bahwa sosok gadis di mimpi Leo benar-benar nyata, ia dengar dengan seksama. Ia bersungguh-sungguh pada ucapannya kemarin, upaya kerasnya untuk percaya tergambar jelas dari seberapa frustasi dirinya berusaha tetap tenang saat menerima semua informasi itu.
“Siang, Mas!” sapa Hannah dengan senyuman hangat.
Leo tersentak dari lamunannya, langkahnya terhenti seketika. Ia mengira ruangan itu kosong karena sebagian besar karyawan sedang pergi makan siang. Namun, orang yang paling tidak ia harapkan kehadirannya saat ini justru berdiri di sana, menyapanya dengan nada yang sangat sopan.
Hannah kembali memfokuskan perhatian pada mesin fotokopi di depannya. Tangan kanannya bergerak lincah di panel tombol, sementara tangan kirinya—yang beberapa jarinya terbalut perban putih—menahan lembaran kertas yang hendak ia salin.
Dia baru saja menyapa? batin Leo, tak percaya.
Setelah kejadian kasar dan pengusiran semalam, ia mengira Hannah akan ketakutan, canggung, atau setidaknya menunjukkan gurat kebencian. Namun, gadis itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyapa dengan ketenangan tanpa beban.
“S-siang,” jawab Leo kaku.
Jawaban itu terlambat beberapa detik, namun Hannah, yang tampaknya sangat menjunjung tinggi norma kesopanan, tetap menyempatkan diri menoleh. Ia tersenyum lagi dan menganggukkan kepala singkat sebagai respons, sebelum kembali berkutat dengan tumpukan dokumennya.
Kata-kata Thomas saat mereka melangkah keluar dari ruangan Dokter Roy tadi mendadak terngiang kembali, menghantam kesadaran Leo di tengah deru mesin fotokopi yang monoton.
“Gue mengerti kenapa lu pikir diri lu gila, karena gue sekarang pun merasa sudah nggak waras,” ucap Thomas saat itu. Ia yang sebelumnya menatap kosong ke ujung sepatu, tiba-tiba menoleh ke arah Leo dengan tatapan penuh keyakinan, seolah baru saja mendapat wahyu dari langit. “Gue memikirkan satu kemungkinan yang bisa jadi penyebab lu ngalamin semua ini.”
“Apa?” tanya Leo cepat. Rasa penasarannya jujur dan mendesak.
“Sebelum itu,” Thomas menegakkan punggungnya, sorot matanya berubah serius. “Gue mau kasih tahu lu kalau gue belum nyerah buat deketin Hannah. Ya, gue suka sama dia, dan gue nggak akan mundur hanya karena lu terikat secara alam bawah sadar dengan dia.”
Pengakuan tiba-tiba itu meluncur begitu saja tanpa aba-aba. Leo yang tak punya waktu untuk terkejut—apalagi hal ini sudah ia duga sebelumnya—hanya bisa mengangguk pelan dengan mata berkedip lambat.
“Lu tahu sosok yang lu bilang lu tumpangi badannya di dalam mimpi itu? Yang namanya Lian... lu tahu dia siapa?” Thomas memastikan.
Meski sesungguhnya masih bingung dengan hubungan yang ia saksikan dalam mimpinya, Leo menjawab berdasarkan pengamatannya selama ini. “Dia orang yang tinggal satu panti asuhan sama Hannah.”
Thomas mengangguk perlahan. Ia menelan ludah, bersiap mengungkapkan inti dari pembicaraan mereka. “Dia saudara angkat Hannah. Setahu gue, secara hukum mereka itu sekeluarga.”
“H-ha?” Leo tercengang.
Mimpi yang ia saksikan memang selalu menampilkan betapa eratnya ikatan mereka. Namun, dari perasaan yang tersalurkan, pikiran yang tertangkap, dan cara memandang yang ia rasakan selama menjadi "Lian", semua itu sama sekali tidak merujuk pada hubungan saudara. Mengapa mereka bersaudara? Dan kenapa sebagai saudara, hubungan mereka justru terasa seperti romansa yang begitu dalam?