Aleta mengetuk pintu kayu itu dengan gerakan amat pelan, seolah takut getarannya akan melukai keheningan di dalam. Tanpa menunggu jawaban, ia mendorong daun pintu perlahan-lahan. Bunyi berderit tipis yang menyayat timbul dari engsel yang mulai mengering, seirama dengan rasa ngilu yang merayap di hati Aleta saat menatap sosok di atas ranjang.
Langkah kakinya yang nyaris tak bersuara memasuki ruangan tetap saja membangunkan Ibu Mawar. Kelopak mata wanita tua itu berkedut samar; nampaknya ia baru saja terlelap dalam tidur yang dangkal, dan kehadiran Aleta segera menariknya kembali ke alam sadar.
“Aleta?” panggil Ibu Mawar lirih. Ia membuka matanya yang terasa berat, mencoba menjernihkan bayangan buram yang ditangkap oleh penglihatan yang kian dimakan usia.
“Iya, Bu, ini aku,” jawab Aleta lembut. Ia segera bersimpuh di samping ranjang, merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan sosok yang telah menjadi sandarannya selama ini.
Perlahan, Ibu Mawar mencoba bangkit untuk duduk. Tubuh rentanya yang mulai rapuh itu tampak kesulitan untuk sekadar mengubah posisi. Sambil menghela nafas panjang, ia mengulurkan tangan yang gemetar untuk membelai rambut Aleta.
“Kamu baru pulang?” tanyanya, sebuah pertanyaan sederhana yang sarat akan kekhawatiran seorang ibu.
“Hm,” Aleta hanya mengangguk kecil. Jemarinya bergerak memijat perlahan lutut Ibu Mawar, bagian tubuh yang akhir-akhir ini sering kali meradang sakit, seolah ingin memindahkan rasa perih itu ke dalam dirinya sendiri.
“Kabar Ibumu gimana?” tanya Ibu Mawar, suaranya terdengar begitu hangat, membungkus ruangan temaram ini dengan ketenangan yang luar biasa. Namun, justru kelembutan itulah yang menjadi belati bagi pertahanan Aleta. Air mata yang sejak tadi sudah dipelupuk akhirnya luruh, jatuh membasahi pipi. Ia tertunduk pilu.
Tanpa perlu sepatah kata penjelasan pun, Ibu Mawar sudah paham sedalam apa luka yang sedang dipikul gadis itu. Aleta, anak yang sejak kecil lebih memilih mengemban tanggung jawab daripada bermain, yang selalu bekerja keras melampaui batas kemampuannya, dan tak pernah membiarkan keluhan lolos dari bibirnya—kini tampak begitu rapuh. Ia telah mencapai titik jenuh dalam memanggul bebannya sendirian.
“Kamu yakin, masih nggak mau terima uang itu?” tanya Ibu Mawar. Tangannya kembali membelai kepala Aleta, meski dalam hati ia sudah tahu pasti apa jawabannya.
Seperti dugaan, Aleta menggeleng kuat dalam tunduknya. “Nggak, Bu. Adik-adik masih butuh biaya banyak, aku nggak mau Ibu tambah kesusahan karena aku.” Ia berusaha menghapus air matanya dari pipi.
“Tapi—”
“Aku bakal kasih tahu Hannah, Bu,” potong Aleta tiba-tiba. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Ibu Mawar yang kini melebar seketika karena terkejut.
“K-kamu yakin?” suara Ibu Mawar sedikit bergetar, memastikan keteguhan hati di balik mata yang sembab itu.
Aleta mengangguk mantap.
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuannya dengan Rosy, namun gelombang kegelisahan di dalam dada Aleta belum juga surut. Ia masih berada di persimpangan antara logika dan rasa; masih sulit mempercayai penuturan Rosy bahwa Lian belum benar-benar pergi, namun ia juga tak sanggup mengabaikan fakta bahwa Lian mungkin memang masih ada di suatu tempat, mengawasinya.