Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #29

28. Pertemuan Tak Terduga

“Nanti pulang jam berapa?”

“Besok berangkat jam berapa?”

“Udah makan siang?”

“Mau makan malem bareng?”


Pesan-pesan dari Thomas terus masuk ke ponselnya, masing-masing berisi perhatian yang awalnya terasa manis, namun terasa menyesakkan karena makin intens berdatangan akhir-akhir ini. Kepalanya pening, bukan hanya karena Thomas, tapi juga karena tumpukan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Secara refleks, ia memijat pelipisnya dengan tangan bertumpu di permukaan meja yang berantakan oleh dokumen-dokumen yang sedang ia rapikan.

“Hannah! Sudah selesai belum?”

Suara tajam Mike, sang manajer yang terkenal judes, memecah fokus Hannah. Dari sorot matanya, Mike secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan melihat Hannah berdiam diri meski sejenak. Baginya, gestur lelah Hannah barusan terlihat tanda malas-malasan baginya.

Hannah tersentak, langsung menurunkan tangannya dan mempertegak posisi duduknya. “Sebentar lagi, Mbak. Tinggal yang periode Oktober sampai Desember tahun lalu,” jelasnya dengan nada sesopan mungkin.

“Ya sudah, cepat ya! Sebelum pulang harus sudah rapi!” tuntut Mike. Ia berbalik badan dan melenggang pergi begitu saja, tanpa sedikit pun mengapresiasi kerja keras Hannah yang sejak pagi bergelut dengan dokumen-dokumen lima tahun kebelakang.

Hannah hanya bisa menghela napas berat, merasakan dadanya sesak oleh tekanan kerja dan perih di jemarinya yang masih terbalut perban. Ia kembali menyusun file di tangannya, mencocokkan tanggal demi tanggal dengan telaten.

Di balik punggung Hannah, Lian berdiri dengan kepalan tangan yang mengeras. Sorot matanya menajam menatap punggung Mike yang menjauh. Ia benci melihat Hannah diperlakukan seperti itu, namun ia tahu ia tak bisa melakukan apapun.

Lian menoleh ke arah ruang kerja Leo yang pintunya tertutup rapat. Ia tahu Leo masih di dalam. “Ngapain aja sih dia!” keluhnya gemas, tak melihat ada langkah konkret dari cowok itu yang membuat dirinya sebagai ‘pembimbing’ bangga.

Padahal di dalam ruangannya yang berdinding kaca itu, Leo sedang mati-matian berjuang melawan dirinya sendiri.

Ia sudah mulai hilang kendali atas kelakuan dan keputusannya sendiri.

Padahal biasanya ia rutin berputar dari satu kantor ke kantor lain untuk supervisi keberlanjutan, tapi sudah beberapa hari ini, ia terus bekerja di kantor pusat yayasannya ini. Dan di dalam ruangan yang biasanya ia pilih untuk turunkan tirainya agar tak melihat kegiatan para karyawannya di luar—atau sebaliknya—ia malah membiarkan dinding bening itu membentang tanpa penghalang. Apalagi alasannya kalau bukan ia perlu mengecek Hannah lagi dan lagi. Terlebih saat ia sadar, selama beberapa hari ini ia mengawasi, gadis itu tak pernah sekalipun istirahat untuk makan siang, dan Mike, atasannya—yang sekarang Leo ingat namanya padahal saat ia cek di data karyawan orang itu sudah tiga tahun bekerja disini—terus menerus menekan dengan pekerjaan yang diburu-buru. Membuat Leo gemas ingin turun tangan menghentikan penindasan itu.

Tetapi lagi-lagi, logikanya menjegal.

Atas dasar apa ia mendadak menjadi pahlawan bagi satu karyawan, sementara selama ini ia tak pernah memperdulikan nasib karyawan lainnya? Bagaimana ia bisa menegur Mike tanpa terlihat subjektif, padahal selama ini ia tak pernah meninjau kinerja manajer itu secara langsung? Dan yang terpenting, bagaimana cara menyelamatkan Hannah dari tumpukan dokumen itu tanpa membuat tindakannya terasa janggal di mata seisi kantor?

Mata Leo menyisir meja kerjanya hingga akhirnya tertuju ke kalender di layar laptopnya. Seulas binar muncul di matanya saat ia menyadari bahwa satu jam lagi ia memiliki jadwal meninjau kesiapan lukisan untuk pameran minggu depan.

Sebuah denting seolah berbunyi di kepalanya. Rencana itu terbentuk seketika.

Ia terlonjak bangun, menyambar jas yang tersampir di punggung kursi dan tasnya yang ada di samping meja dengan gerakan tangkas. Lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar, matanya terkunci pada satu titik: meja Hannah.

“Hannah!” panggilnya. Suaranya terdengar sedikit terlalu kencang dan berapi-api, mungkin karena ini pertama kalinya ia benar-benar memanggil nama itu.

Lihat selengkapnya