Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #30

29. Fakta Menyakitkan

Sambil berjalan di belakang Hannah, Aleta terus menimbang-nimbang setiap langkahnya. Perlukah ia mengatakannya sekarang? Ia memang sudah membulatkan tekad untuk mengungkapkan segalanya, namun keraguan tetap saja merayapi benaknya. Haruskah rahasia sebesar itu tumpah di sini? Di tengah lobi kantor yang megah, dalam suasana formal saat mereka berdua masih mengenakan atribut kerja?

Namun, begitu Hannah menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan sorot mata yang membeku dan dagu yang terangkat kaku, Aleta tahu ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya. Ia sangat mengenal Hannah; ia terlalu paham betapa keras kepala dan kesal adiknya ini padanya. Jika bukan sekarang, Hannah mungkin akan menutup pintu komunikasi selamanya. Ia yang sudah memutuskan pergi bahkan tak sekalipun menginjakkan kakinya lagi di Rumah Mawar, sama sekali tak ada jaminan kalau dia bersedia bertemu lagi untuk berbicara empat mata. Mumpung Hannah "terjebak" di sini sembari menunggu Direktur yang membawanya, Aleta harus segera memulainya.

Aleta menarik nafas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

“Pertama-tama, aku minta kamu jangan bicara apapun dulu. Tolong dengerin semua yang mau aku bilang sampai selesai,” ucap Aleta. Suaranya gemetar halus, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.

Hannah mengerutkan dahi samar. Ia merasa heran sekaligus tersinggung; mengapa Aleta harus memulai percakapan dengan nada memerintah seperti itu? Namun, bibirnya tetap terkatup rapat. Bukan karena ia patuh, melainkan karena ia memang merasa tidak ada lagi kata-kata yang ingin diucapkan untuk merespon.

Di samping kanan Hannah, di atas sofa yang sama, Lian yang sejak tadi mengekor Hannah dan Leo, duduk terdiam. Ia memandang Hannah dengan tatapan yang begitu sendu, sarat penderitaan yang tak terlukiskan. Ia tahu persis apa yang akan keluar dari mulut Aleta, dan ia tahu betapa hancurnya Hannah begitu kebenaran itu terungkap.

Lian ingin menyentuh tangan Hannah, ingin membisikkan kata-kata penenang, namun jemarinya hanya menembus udara dingin. Ia hanya bisa menjadi saksi bisu atas runtuhnya dunia yang selama ini Hannah yakini.

“Dulu, ada salah satu pekerja Rumah Mawar, salah satu pekerja awal, sejak Ibu masih gadis dan bangun panti asuhan itu bareng orang tuanya...” Aleta memulai dengan suara yang rendah dan hati-hati. “Tapi dia harus berhenti untuk merawat suaminya yang sakit, tepat saat dia hamil anak keduanya.”

Hannah menyimak dengan tenang, meski matanya masih menyipit skeptis.

“Suaminya meninggal tepat saat dia melahirkan anak kedua itu. Kondisi ekonominya tragis, dia bahkan gak mampu memenuhi kebutuhan susu untuk bayinya. Lebih parahnya lagi, kesehatannya juga menurun drastis. Karena merasa gak sanggup merawat kedua anaknya, dia akhirnya terima tawaran Ibu buat titip anaknya di Rumah Mawar. Saat itu, anak pertamanya berusia lima tahun, dan anak keduanya baru tiga tahun.”

Tatapan Hannah yang sebelumnya keras dan kaku, sontak melunak. Sorotnya yang semula penuh kecurigaan kini berubah menjadi antisipasi yang mencekam. Sebuah perasaan ganjil mulai merayap di dadanya.

“Beberapa hari sebelum kematian Lian,” Aleta melanjutkan, suaranya kini sedikit tercekat.

Hannah tersentak hebat. Ia tak menyangka nama Lian akan muncul begitu cepat dalam narasi ini. Fokusnya kini menajam, matanya tertumbuk ke wajah Aleta.

“Lian gak sengaja denger obrolan tentang kedua anak yang ternyata bersaudara kandung itu, dibicarakan oleh Tante Desi dan Tante Devi di dapur. Dari sana, dia akhirnya tahu fakta bahwa ada saudara kandung di antara kita bertiga. Tapi dia gak bener-bener tahu siapa sebenarnya yang benar-benar memiliki hubungan darah.”

Wajah Hannah mendadak tegang. Matanya membelalak lebar sementara nafasnya seolah tersangkut di tenggorokan, perih dan menyesakkan. Ia tak menyangka kalau arah pembicaraan akan melesat cepat ke arah ini. Saudara kandung antara mereka bertiga? Lian tahu? Bagaimana mungkin semua hal ini tak pernah sekalipun ia dengar?

Lihat selengkapnya