“Aku udah kasih tahu ke Hannah.” Aleta mengirim pesan singkat itu kepada Rosy, jemarinya terasa sedikit kaku saat mengetik tiap hurufnya. Setelah menekan tombol kirim, ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas yang tergeletak pasrah di pangkuan.
Saat ini, ia berada di dalam bus yang membawanya pulang. Kepalanya bersandar lesu di jendela, membiarkan dahinya terantuk-antuk pada permukaan kaca yang berdebu akibat jalanan yang tidak rata. Namun, Aleta tidak peduli. Ia tidak menjauhkan kepalanya, seolah getaran itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa tetap berpijak di bumi.
Pikirannya kosong. Benar-benar kosong.
Ia baru saja melepaskan beban paling berat yang pernah ia panggul sepanjang hidupnya. Namun, anehnya, perasaan itu tidak benar-benar membawa kelegaan yang ia bayangkan sebelumnya. Ekspresi Hannah tadi—sorot mata yang hancur, wajah yang pucat pasi, dan tubuh yang gemetar hebat—terus membayangi kelopak matanya, menimbulkan rasa pilu yang menyayat.
Meski begitu, ia tak bisa memungkiri bahwa ganjalan besar yang selama ini menggelayuti batinnya telah sirna. Sesak yang biasanya menghimpit dadanya kini berganti menjadi ruang hampa yang luas. Sekosong langit malam tanpa bintang di atas sana.
Aleta memejamkan mata, membiarkan deru mesin bus menjadi latar suaranya merenung. Kalau nanti Hannah datang menuntut cerita lebih jauh, kalau Hannah bertanya kapan tepatnya semua hal ini bermula, akankah ia sanggup menjelaskan semuanya secara utuh? Menjelaskan jalinan kejadian yang sudah mengakar dan mengendap selama bertahun-tahun ini?
Saat berusia lima tahun, pada momen pertama kali sepasang kaki kecilnya menginjakkan kaki di Rumah Mawar, Aleta masih ingat dengan jelas bagaimana perasaannya kala itu. Ia ingat ketika Endah, ibunya, menyuruhnya untuk menyapa Ibu Mawar yang saat itu tampak bak putri kerajaan dalam buku dongeng yang sering ia baca. Rambutnya yang panjang dan legam, kulit seputih susu, serta baju sutra merah muda yang dikenakan wanita itu, benar-benar membuat Aleta kecil tertegun; wah, ternyata memang ada kecantikan seindah ini di dunia nyata. Pikirnya dalam hati.
Namun, kekaguman itu segera terkoyak oleh kalimat ibunya yang paling ia ingat hingga detik ini. “Mulai sekarang kamu tinggal di sini ya sama adikmu, nanti akan ibu jemput.”
Punggung dingin ibunya yang berpaling dan menjauh—yang tak pernah menoleh lagi hingga bertahun-tahun berlalu—meninggalkan bekas luka yang amat dalam di ingatannya. Bayangan itu sesekali muncul dalam mimpi buruk, menghantuinya dengan rasa takut akan ditinggalkan. Mimpi buruk yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, sekalipun kepada Hannah, adik kandungnya yang saat itu tak mengerti apa-apa.
Waktu bergulir hingga Lian datang ke Rumah Mawar. Saat itu Lian berusia sembilan tahun, sementara Aleta sudah menginjak usia sebelas tahun. Ia samar-samar mendengar obrolan para pengurus panti tentang latar belakang Lian; tentang kedua orang tuanya yang telah tiada, dan bagaimana ia dititipkan oleh pamannya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Tak begitu spesial, karena kurang lebih sama seperti anak-anak lain di panti ini.
Tapi kedatangan Lian membawa perubahan besar bagi Hannah.
Adiknya yang semula pendiam dan menutup diri, mendadak berubah menjadi ceria. Hannah mengekor Lian ke mana pun, menempel padanya seperti perangko. Melihat pemandangan itu, Aleta tersadar dengan getir; betapa bergantungnya Hannah pada Lian. Ada rasa berhutang budi yang besar kepada sosok anak laki-laki yang tenang dan ramah itu, karena Aleta merasa dirinya sebagai kakak kandung tak pernah mampu memberikan kehangatan dan perhatian serupa pada adiknya yang kesepian itu. Sejak saat itulah, ia bertekad untuk menganggap Lian juga sebagai adik kandungnya sendiri.
Jika anak-anak lain di Rumah Mawar bermanja-manja dan menggantungkan seluruh kasih sayangnya kepada Ibu Mawar, Aleta mengambil jalan yang berbeda. Ia mendekati Ibu Mawar bukan karena ingin bermanja, melainkan karena rasa terima kasih yang teramat dalam dan beban hutang budi yang ia rasa takkan pernah lunas. Namun, di sudut hatinya yang paling jujur, ia mengakui bahwa keegoisannya lah—keinginannya untuk menyatukan mereka dalam sebuah keluarga yang "utuh"—yang akhirnya membuat Lian dan Hannah terjebak dalam status persaudaraan di dalam kartu keluarga yang sama.
Pagi itu, udara di ruang tamu Rumah Mawar terasa lebih hening dari biasanya. Aleta berdiri mematung, sepasang matanya terpaku pada deretan foto yang terpajang di dinding kayu yang mulai menua. Di salah satu bingkai foto peresmian panti, jauh di barisan belakang keluarga Ibu Mawar, terdapat wajah para pengurus awal. Di sanalah ia ibu kandungnya berada.