Melihat Hannah, Leo seolah sedang bercermin pada bayangannya sendiri.
Cara gadis ini diam seribu bahasa, menelan bulat-bulat pilu yang ia rasa, serta termenung dengan tatapan kosong sementara langkah kakinya terus bergerak tanpa arah—semuanya terasa sangat familiar. Leo mengenali gestur itu; sebuah bentuk pertahanan diri saat dunia baru saja hancur berkeping-keping.
Karena itulah, Leo memilih untuk tidak melakukan apa pun. Ia tidak menawarkan kata-kata penghiburan yang klise atau mencoba memaksa Hannah untuk bercerita. Ia adalah orang yang paling tahu bagaimana rasanya ingin menyendiri di tengah pikiran dan perasaan yang terasa begitu menyesakkan. Ia paham betul bahwa dalam kondisi seperti ini, tak ada rangkaian kalimat seindah apa pun yang mampu meringankan beban yang tengah menghimpit dada.
Maka, ia memilih untuk tetap diam seribu bahasa.
Leo berjalan di belakang Hannah, menjaga jarak yang cukup agar kehadirannya tidak terasa mengganggu privasi duka gadis itu. Namun, ia juga memastikan jarak tersebut tetap cukup dekat dan aman untuk segera meraih tubuh yang tampak ringkih itu jika sewaktu-waktu Hannah jatuh atau kehilangan tumpuan.
Gadis itu sepertinya benar-benar kehilangan kesadaran akan sekelilingnya. Ia telah berjalan lebih dari dua kilometer tanpa tujuan yang jelas, melintasi trotoar dan kebisingan kota yang seolah teredam oleh badai di kepalanya. Tadi, di lobi, ia bahkan tidak menyahut sepatah kata pun saat Leo bertanya; ia hanya berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ada, lalu melangkah keluar gedung dengan pandangan kosong yang sesak.
Leo sempat dilanda bimbang sejenak—haruskah ia mengambil mobilnya dulu atau tetap menjaga gadis ini? Namun, melihat bahu Hannah yang tampak begitu rapuh, ia akhirnya memilih untuk tetap mengekor di belakangnya, berjalan kaki di bawah langit yang kian meremang.
Kini, Hannah tiba-tiba berhenti. Ia mematung, menatap ujung sepatunya sendiri yang mungkin sudah kotor oleh debu jalanan. Keheningan yang janggal menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya interupsi suara kendaraan di kejauhan yang terdengar.
Perlahan, kepala Hannah bergerak. Ia menoleh ke belakang, dan saat matanya menangkap sosok tegap Leo yang berdiri di dekatnya, kekosongan di matanya perlahan mulai terkikis oleh kesadaran yang kembali pulih. Seakan tak mengizinkan dirinya sendiri untuk terkejut atau merasa takut, ekspresi di wajah Hannah dengan cepat berganti menjadi rasa sesal yang mendalam.
Ia menghela napas sunyi, matanya terpejam rapat sejenak seolah merutuki kekacauan yang baru saja ia perbuat. Dengan cepat, ia membalikkan badan sepenuhnya sambil menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang masih sembab.
“Maaf, Mas,” ucapnya lirih, suaranya parau dan penuh rasa sungkan. Ia baru sadar telah membiarkan seorang Direktur berjalan kaki mengikutinya seperti orang hilang.
Leo tidak terlihat marah ataupun keberatan. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang tulus, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
“Kasih tahu alamat rumah kamu, aku antar pulang,” sahut Leo tenang sambil melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka.
Saat Hannah menyebutkan alamat tempat tinggalnya, sebuah keraguan halus sempat menyelinap di benak Leo. Ia merasa lokasi itu tidak asing, namun ia belum berani meyakini bahwa tempat yang ia tuju adalah rumah yang sangat ia kenal letaknya.
Sepanjang perjalanan, kesunyian kembali menyelimuti kabin mobil. Bukan diam yang canggung atau kikuk sebagaimana lazimnya atasan dan bawahan yang tiba-tiba berada dalam satu kendaraan, melainkan diam yang tentram. Seolah frekuensi batin mereka sedang berada di gelombang yang sama, heningnya terasa begitu damai, hingga Leo tak sadar roda mobilnya telah melintasi jalanan yang semakin familiar.
Begitu mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan gerbang pendek dan halaman yang dipenuhi bunga, Leo tersentak pelan. Dugaannya tepat sejak awal.
Hannah langsung turun dari mobil dengan gerakan pelan, ia mengucap terima kasih dan menganggukkan kepalanya sopan tanpa berani menatap mata Leo terlalu lama. Sementara itu, Leo masih tercekat di balik kemudi, sedang memproses tumpang tindih takdir yang baru saja ia sadari.
Lalu, sosok familiar yang selama ini mati-matian ia hindari, muncul dari balik pintu. Wanita itu berdiri dengan tatapan heran sekaligus menyelidik.
“Hannah, kamu baru pulang?” tanya Indi, keningnya berkerut melihat kondisi Hannah.
Hannah, yang sudah tak memiliki sisa energi untuk berkomunikasi dengan siapapun, hanya mengangguk lemah dan langsung melesat masuk ke dalam rumah tanpa penjelasan. Pandangan Indi pun sontak beralih, tertuju tajam ke arah mobil Leo yang masih terparkir. Ia melipat tangannya secara defensif, menunjukkan gestur tak senang melihat Leo masih berdiam diri di sana tanpa niat memberi penjelasan.
Leo, yang paham betul karakter Indi, memilih untuk menurunkan kaca jendela mobilnya, lalu melongok keluar sedikit. “Gue pulang dulu. Kapan-kapan saja kalau mau ngobrol!” serunya dengan nada dingin yang khas.
Jawaban itu sukses membuat tangan Indi jatuh ke samping badan sambil mengepal gemas. “Kebiasaan!” serunya ketus dengan mata melotot galak.
Namun, Indi tahu tak ada gunanya mendebat pria itu sekarang. Leo yang sedingin es jelas tak akan sudi membeberkan alasan mengapa ia bisa mengantar Hannah pulang. Indi pun menoleh ke arah pintu yang terbuka di belakang punggungnya. Ia mulai merasa cemas; keadaan Hannah hari ini mirip seperti beberapa hari lalu saat diantar pulang oleh Thomas. Gadis itu pasti akan kembali mengunci diri di kamar dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.