Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #33

32. Selalu Salah Langkah

“Apa?” Thomas mengulang pertanyaan yang sama dengan nada tak percaya. Teror perlahan menyelinap di balik gurat wajahnya, membuat matanya membelalak kaku menatap sosok yang berdiri depannya. Ia seolah berharap bahwa indra pendengarannya baru saja salah menangkap arti kalimat tersebut.

“Kita nggak perlu ketemu lagi,” ulang Hannah sekali lagi. Suaranya terdengar dalam dan tegang, membawa getaran penuh gejolak emosi terpendam. Tidak ada keraguan dalam tatapannya, hanya ada ketegasan yang dingin. “Aku makasih atas semua bantuan kakak selama ini, aku tahu aku gak akan pernah bisa membalas semua kebaikan kakak, sebesar apapun aku berusaha, tapi, aku ngerasa terbebani sama perhatian kakak, aku ngerasa terganggu, dan kalau kakak ngelakuin semua itu karena kakak butuh aku balas budi, kasih tahu aku perlu bayar gimana.”

“Ba-bayar?” Saking kagetnya, mulut Thomas sampai terasa kaku untuk sekadar mengatup kembali. Ekspresinya melongo getir, seolah hatinya baru saja dihantam benda tumpul. “Aku nggak pernah mikir begitu—” Tubuhnya bergerak resah, bingung harus tetap duduk dan menunggu Hannah duduk juga seperti apa yang ia minta. Atau berdiri menyamai posisinya.

“Kalau bukan—” sela Hannah cepat, tidak membiarkan Thomas mencari celah untuk memberi penjelasan. Ia memajukan wajahnya sedikit, mengunci tatapannya lurus ke dalam bola mata Thomas dengan sorot yang tajam, menusuk, dan penuh ketegasan yang tak tergoyahkan. “Kalau semua perhatian kakak ini karena kakak suka sama aku, seperti yang aku bilang sebelumnya, kita nggak perlu ketemu lagi.”

Thomas mematung di tempat duduknya, seperti raga yang kehilangan nyawa dalam sekejap. Otaknya yang memang biasanya bekerja lebih lambat di pagi hari, kini terasa nyut-nyutan hebat hanya untuk memproses rentetan informasi yang datang terlalu kasar dan tiba-tiba ini.

Di pojok ruangan yang remang, mulut Indi mengatup rapat. Ia berdiri mematung dengan mata membelalak, tercengang mendengar ucapan Hannah barusan yang meluncur seperti pisau tajam. Sejak Thomas mendadak datang pagi-pagi buta dengan wajah berseri-seri sembari membawa buket bunga segar, lalu bersikeras menunggu Hannah di ruang tamu, perasaan Indi memang sudah tak enak. Ada firasat buruk yang mengganjal di dadanya.


Indi tahu betul bahwa Hannah sedang tidak dalam kondisi baik. Gadis itu benar-benar mengunci diri semalaman, bahkan kali ini situasinya terasa jauh lebih parah dari beberapa hari lalu. Hannah tak merespons sama sekali, seolah-olah ia telah lenyap di balik daun pintu kamarnya sendiri meski Indi sudah berkali-kali memanggil.

Puncaknya adalah saat mereka berpapasan di depan lemari es pagi tadi, ketika Indi baru saja menyelesaikan sesi yoganya dan hendak mengusir dahaganya dengan air dingin sudah menyunggingkan senyum. Hannah tak berkata sepatah kata pun. Ia hanya bergerak dalam diam yang menyesakkan, padahal biasanya sapaan ringan selalu meluncur dari bibirnya. Sosok Hannah yang biasanya secerah embun pagi, kini terlihat bak pusaran arus mematikan di balik ketenangan palsu air danau yang kelam; diam namun siap menelan apapun yang mendekat.

Maka saat Thomas—yang entah kenapa kelihatan begitu berapi-api pagi ini—malah mencecar Hannah dengan rentetan pertanyaan pribadi yang agresif, lalu bertindak seolah-olah sedang mengintrogasi alasan mengapa kemarin dia pulang diantar Leo, Indi sudah sangat khawatir. Ia tahu gadis ini pasti akan meledak. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa Hannah akan langsung mengambil langkah seekstrem itu dengan mengusir Thomas dari hidupnya seperti barusan. Bahkan bagi Indi sendiri yang memang tak pintar menahan emosi, cara Hannah menatap dan nada bicara yang digunakannya saat ini terasa cukup menyeramkan, seolah Hannah baru saja mematikan seluruh perasaan di dalam dirinya.

“Kalau nggak ada yang diomongin lagi, aku permisi mau berangkat kerja,” tutup Hannah dengan nada bicara yang konsisten tumpul, seolah ia baru saja menyelesaikan transaksi formal alih-alih sebuah perpisahan emosional. Ia bergerak keluar rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Thomas yang masih membeku di tempatnya berdiri, terserang badai dingin Hannah yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Indi mendekat dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut lantai yang ia pijak akan retak. Tangannya merambat pelan di bahu sofa sebelum akhirnya ia duduk di seberang Thomas yang kini menunduk dalam, menatap kosong ke arah buket bunga di atas meja yang kini tergeletak tak berarti.

“Lu... nggak apa-apa?” tanya Indi ragu, suaranya nyaris berbisik.

Thomas perlahan mengangguk, lalu wajahnya terangkat dengan senyum setengah yang dipaksakan—sebuah topeng rapuh untuk menutupi harga dirinya yang hancur. “Shit,” umpatnya lirih pada diri sendiri. “Gue gak nyangka bakal ditolak sebelum sempat nembak.”

Mata Indi berkedip lambat, iba dengan keadaan Thomas yang mengenaskan. Ia datang dengan keceriaan luar biasa, dan kini, hanya kelam yang tampak darinya.

Lihat selengkapnya