Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #34

33. Ritual Konfirmasi

“Kenapa Mas Leo tanya ini ke saya?” tanya Aleta. Tatapannya lurus dan tajam, tak lagi memberi celah bagi siapapun untuk mengintimidasi. “Kenapa saya harus cerita tentang hal pribadi adik saya, ke Mas Leo?” tegasnya sekali lagi.

Sosok Aleta yang tersimpan dalam ingatan Leo—wanita yang selalu menunduk dalam, dan menunjukkan kehati-hatian yang berlebih tiap kali mereka berhadapan—kini hilang tak berbekas. Di depannya saat ini, yang ada hanyalah seorang kakak yang sedang memasang perisai paling kokoh. Keberaniannya muncul dengan siaga penuh, seolah-olah sedang menjaga satu-satunya harta berharga yang ia miliki dari ancaman luar. Di sofa lobi yang sepi ini, dia duduk begitu tegak, seolah menunjukkan ketegasannya yang tak bisa digempur paksa.

Leo terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan perubahan aura wanita di hadapannya. Ia bisa merasakan ada dinding api yang dibangun Aleta untuk melindungi Hannah.

“Karena saya perlu tahu,” sahut Leo dengan nada yang diusahakan tetap tenang, meski ia tahu kata-katanya mungkin akan memicu ledakan lain. “Alasan saya dihantui Lian.”

Mendengar nama Lian disebut, pertahanan di mata Aleta tampak goyah dan tersesat sesaat. “Lian?” tanyanya lirih. Di matanya ada kilatan luka lama dan ketidakpercayaan yang menyeruak, namun dengan kecepatan yang luar biasa ia menutupnya kembali dengan ekspresi dingin yang sama. “Kenapa Mas Leo bisa kenal Lian?”

Leo menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya sudah semakin gila, melenceng jauh dari kepribadian rasional yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. Tapi, setelah pernah mengungkapkan hal ini sebelumnya kepada Thomas, kali kedua ini terasa tidak terlalu berat bagi lidahnya.

“Kalau aku bilang aku mimpiin Hannah terus menerus dari point of view Lian, kamu bisa percaya?”

Aleta tertegun. Namun, responnya justru jauh lebih tenang dari apa yang Leo bayangkan sebelumnya. Leo mengira ia akan dimaki habis-habisan, atau paling tidak dicibir sebagai pria gila yang sedang melantur. Sebaliknya, wanita di hadapannya ini hanya termenung, seolah tengah berpikir dalam dan mempertimbangkan kata-kata yang seharusnya terdengar konyol itu dengan sangat serius.

“Sejauh mana Mas Leo tahu tentang Lian dan Hannah?” tanya Aleta kemudian, matanya menatap penuh selidik, mencoba mencari celah kebohongan di sana.

Kini giliran Leo yang terhenyak. Ia tak menyangka pembicaraan yang ia anggap terlalu berisiko dan memiliki peluang berhasil yang sangat kecil ini, malah berjalan jauh lebih lancar dari yang ia kira. “Sejauh yang Lian kasih lihat ke saya.”

“Sebentar—” tahan Aleta tiba-tiba. Wajahnya menegang. Ia langsung meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja dengan gerakan terburu-buru.

Tangannya bergerak cepat di atas layar, seolah sedang mencari sesuatu yang sangat krusial untuk membuktikan kebenaran di balik klaim mistis Leo. Keheningan di antara mereka mendadak terasa mencekam, hanya diinterupsi oleh suara ketukan jari Aleta pada layar ponselnya. Leo menunggu dalam diam, membiarkan Aleta melakukan apa pun yang perlu ia lakukan untuk memvalidasi ucapannya.

“Halo, Rosy?” ucap Aleta dengan ponsel menempel erat di samping telinga. Tanpa membuang waktu, ia segera berdiri dan melangkah menjauh, meninggalkan Leo yang duduk menunggu tenang..

Leo hanya diam, matanya terpaku mengamati punggung Aleta. Dari kejauhan, ia bisa melihat wanita itu terlibat dalam percakapan yang sangat serius. Bahunya tampak tegang, dan suaranya terdengar mendesak meski Leo tak bisa menangkap detail pembicaraannya. Ia tak tahu siapa yang bicara diseberang saluran, dan sama sekali tak menduga bagaimana orang asing itu bisa menjadi kunci untuk mengonfirmasi klaim "gila" yang baru saja ia lontarkan.

Namun, belum sampai satu menit berlalu, Aleta sudah kembali. Kali ini, gurat wajahnya tampak lebih bersahabat, meski ada ketegangan mendalam yang masih terselip di sana—sebuah urgensi yang tak lagi bisa ditunda.

Lihat selengkapnya