Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #35

34. Bersemayam di Memori

“Kemana itu anak, hilang lagi dia?” suara Mike menggelegar penuh emosi, memecah kesunyian lantai kantor. “Dari kemarin kerjanya hilang melulu, niat kerja nggak sih!”

Suara nyaring itu menembus dinding kaca ruangan Leo, namun pria itu bergeming. Seharian ini, sejak menapakkan kaki di kantor hingga jarum jam hampir menyentuh sejam terakhir waktu kerja, Leo tak beranjak dari kursi di ruangannya. Tatapannya tertancap pada satu titik: Hannah. Gadis itu kini bukan lagi sekadar teka-teki tak terjawab, melainkan seseorang yang semesta kirimkan untuknya melalui sebuah kerja sama yang rumit, melibatkan mendiang adiknya sendiri, Lara.

Bayang-bayang mimpi semalam masih mengikatnya dengan begitu erat. Rasanya berat dan sesak, namun di saat yang sama, memberikan pencerahan yang menyakitkan.

Semalam, Leo telah menjadi saksi bisu—atau lebih tepatnya, menjadi pemeran utama—dalam tragedi hidup Lian. Ia menyaksikan bagaimana dirinya, dalam raga Lian, menolak pernyataan cinta Hannah dengan begitu keras. Ia merasakan dinginnya hati Lian saat mengabaikan setiap panggilan dan pesan Hannah karena pikirannya yang takut akan banyak hal, membiarkan gadis malang itu kedinginan menunggu jemputan di pinggir jalan hingga lewat tengah malam.

Ia bahkan ikut merasakan bagaimana amarah Lian berkobar hebat saat mendapati Aleta malam itu. Lalu, puncaknya adalah rasa sakit yang tak terlukiskan: hantaman mobil pada tubuhnya, sensasi terbanting di aspal yang keras, dan deru nafas terakhir yang terasa begitu nyata hingga Leo ikut menderita secara fisik. Di detik-detik kematian itu, ia melihat Lara berdiri di sana—adiknya yang sudah lebih dulu tiada, seolah menjemput Lian di garis akhir kehidupannya.

Semua itu begitu menyiksa hingga Leo nyaris tak kuat meneruskan. Namun, mimpi itu mendadak berpindah ke momen yang lebih ganjil: masa di mana Lian pertama kali "meminjam" tubuhnya.

Dalam mimpi itu, ia melihat Lian yang tak sadar tengah mengendalikan raganya, berjalan menuju kamar mandi sementara kesadaran asli dirinya masih terlelap. Lian berdiri di depan wastafel, menatap cermin. Namun, tak seperti memori aslinya dimana kejadian itu berakhir dengan Lian membasuh mukanya lalu terpental keluar dari dirinya, kali ini bayangan di cermin itu berubah.

Semalam, bayangan di cermin itu bukanlah wajahnya. Di sana, di balik kaca yang dingin, Leo melihat wajah yang selama ini selalu menyatu dengan sudut pandangnya—wajah Lian yang sesungguhnya. Seorang pria dengan gurat kesedihan yang sama, menatapnya balik dengan sorot mata yang seolah menitipkan seluruh beban hidup dan cintanya yang belum selesai.

“Kamu,” Leo bisa mendengar suara dirinya sendiri. “Lian?”

Sosok di cermin itu mengangguk.

“Kamu, mencintai Hannah?”

Lian kembali mengangguk.

“Kamu rela, kalau Hannah aku jaga?”

Lian mengangguk lagi. Sambil tersenyum. Senyum yang terasa begitu menyakitkan. Dan sesaat kemudian, Leo terjaga. Ia membuka matanya perlahan, dengan tubuh yang terasa sakit di tiap sisi, dan dada yang sesak. Ia memejamkan matanya lagi, mencerna mimpi yang baru saja ia alami. Sadar, konfirmasi terakhirnya sudah terlaksana. Tak ada lagi keraguan tentang posisi dirinya, dan apa yang harus ia lakukan.


Sosok Hannah yang baru saja kembali ke mejanya seketika menyedot seluruh fokus Leo. Melalui dinding kaca ruangannya, Leo terus mengawasi gadis itu—gadis yang sejak tadi atau mungkin kemarin, tampak seperti raga tanpa jiwa, diam seribu bahasa dengan sorot mata kosong yang memilukan. Di luar sana, suara Mike masih terdengar sibuk mencerca, melampiaskan amarah pada Hannah yang hanya bergeming, menunduk dengan punggung yang menekuk dalam, seolah beban di pundaknya sudah terlalu berat untuk ditopang.

Lalu, dalam satu kedipan mata, pertahanan itu runtuh. Tubuh Hannah limbung, lunglai, dan ambruk ke lantai seperti benang yang diputus paksa.

Jantung Leo seakan berhenti berdetak. Ia berdiri dengan sentakan panik yang hebat, hingga kursinya terpental ke belakang. Tanpa memperdulikan wibawa atau tatapan bingung stafnya, ia berlari keluar ruangan dengan nafas memburu.

“Minggir!” perintahnya menggelegar, suara yang biasanya tenang dan berwibawa kini pecah oleh nada urgensi yang tak terbendung. Ia menerjang kerumunan karyawan yang mulai mengerubungi Hannah.

Seluruh ruangan seketika senyap, membeku dalam keterkejutan. Mereka membelalak tak percaya menyaksikan sosok Leo—sang Direktur Utama yang citranya selama ini tak tersentuh, dingin, dan selalu menjaga jarak—tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai, berlutut tanpa ragu di hadapan mereka semua.

Tanpa sepatah kata pun, Leo merengkuh tubuh Hannah yang tak berdaya ke dalam pelukannya. Tangannya gemetar saat menyentuh kulit gadis itu yang terasa sedingin es—sensasi yang persis ia rasakan dalam mimpinya saat Lian meregang nyawa. Dalam satu gerakan mantap yang dipicu oleh adrenalin dan ketakutan, Leo bangkit membopong Hannah di dadanya. Ia tidak lagi peduli pada gosip kantor atau tatapan penuh tanya ribuan pasang mata. Dengan langkah lebar dan nafas yang memburu, ia berlari meninggalkan ruangan itu seolah-olah sedang berpacu melawan maut yang pernah ia saksikan semalam.

***

“Kak Lian?” panggil Hannah parau.

Hannah mendapati dirinya berdiri di bawah pohon rindang yang sangat ia kenal. Begitu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sesak langsung memenuhi dadanya. Ini bukit di belakang rumah Ibu Mawar di kampung halamannya.

Semuanya masih sama persis seperti dalam ingatannya; indah, tenang, dan bau rumput basah yang menenangkan. Tempat ini menyimpan banyak kenangan bahagia. Dulu ia, Lian, dan Aleta banyak menghabiskan waktu bersama disini, saat hidup mereka masih terasa mudah, saat tawa dan canda menjadi satu-satunya yang mereka bagi.

Lian menoleh.

Ia memakai kemeja dan celana putih yang tampak agak kebesaran. Wajahnya terlihat sangat bersih dan cerah. Ia tersenyum lebar ke arah Hannah, menunjukkan barisan gigi rapinya yang begitu Hannah kenal. “Hannah, akhirnya ketemu juga!” serunya sumringah.

Lihat selengkapnya