Mereka duduk berdampingan, di pinggir trotoar, di depan rumah Leo, titik temu biasa.
Rosy terus memandang ke sisi kirinya, tempat Lian duduk. Tatapannya nanar, campuran antara ketidakpercayaan dan kepasrahan. Ia sudah melihat hal ini berkali-kali selama hidupnya, ia juga sudah tahu kalau cepat atau lambat ia akan melihat hal ii terjadi pada Lian. Tapi saat sekarang, waktunya telah tiba, saat sekarang, di hadapannya, Lian terlihat hampir-hampir transparan seperti hologram, dadanya terasa perih. Sampai-sampai ia tak bisa mengucap sepatah kata pun untuk memulai obrolan mereka. Padahal sudah hampir lima menit sejak ia sampai dan duduk di samping Lian.
“Aku udah pamit sama Hannah,” ucap Lian, akhirnya memilih untuk membuka percakapan. Akan tetapi suaranya terdengar samar, bergetar, seolah frekuensinya tak selaras dengan telinga Rosy.
Saking gemetar—merasakan duka yang datang lebih awal, karena tahu sosok di hadapannya ini bisa segera tak terlihat lagi, meninggalkan dunia ini untuk selamanya, Rosy tak mampu merespon dengan kata apapun.
“Lara, udah pergi tadi pagi,” sambung Lian, entah itu benar-benar kelanjutan dari ucapan sebelumnya, atau karena Rosy tak mendengar kalimat penghubung diantaranya.
Lian mengangkat wajahnya, menatap langit sambil tersenyum, ekspresinya sendu, namun tak bisa dipungkiri ada kelegaan dan ketenangan di sorot matanya, sesuatu yang sudah sejak lama tak tampak di wajahnya.
“Semalam, Leo bener-bener ngerawat Hannah, dia bahkan gak geser sedikit pun dari tempat duduknya,” Lian mengambil jeda untuk tersenyum pedih dan menundukkan pandangannya ke aspal jalanan yang panas oleh sinar matahari terik siang ini. “Kalau dilihat-lihat kayaknya Leo bahkan jauh lebih protektif daripada aku.”
Dia lalu menoleh, memperhatikan raut wajah Rosy dengan seksama. “Kamu, denger kan aku ngomong?” Ia memastikan, karena sejak tadi gadis ini diam seribu bahasa sambil menatapnya terus menerus.
“Em.” Angguk Rosy, air matanya menetes di pipi.
“Eh, kamu—” pekik Lian, tangannya reflek hendak memegang lengan Rosy. Namun kemudian ia tercekat, sadar, tangannya hilang timbul, bahkan dari pandangannya sendiri.
Ia langsung menatap Rosy lagi, baru sadar, kenapa sejak tadi Rosy terlalu hening. Rupanya, dalam penglihatan Rosy sejak tadi, mungkin dirinya mirip dengan Lara beberapa waktu lalu.
“Maaf, Rosy, gara-gara aku kamu jadi ngalamin kayak gini.” Sesalnya tulus.
Rosy menggeleng cepat, langsung mengusap pipinya kasar dan menghapus jejak air mata yang keluar tanpa permisi tadi. “Kak Lian, tahu gak? Sebenernya aku dulu naksir, Kak Lian.”
“Ha?” Lian ternganga, pengakuan ini terlalu acak dan tiba-tiba. “Serius?”
“Em.” Angguk Rosy sungguh-sungguh. “Kak Lian itu tipe ideal aku, dan ada di list nomor satu!” Ia mengangkat jari telunjuknya ke udara. Lalu tertawa pelan. “Jadi, aku berterima kasih Kak Lian minta bantuan aku, aku berterima kasih dikasih kesempatan untuk bisa punya momen ini bareng Kak Lian.”
Sekarang Lian yang tak bisa berkata-kata, ucapan Rosy barusan mengejutkan, sekaligus menyenangkan untuk didengar. Sungguh ironi, merasa senang karena hal seperti ini saat dirinya yang bahkan hanya berwujud arwah, sudah mulai kehilangan bentuknya.
“Makasih, Rosy.” Akhirnya hanya kata itu yang mampu dia ucap. “Makasih.” Ia tersenyum.
Rosy tersenyum. Ia tahu, upayanya untuk mengalihkan pembicaraan barusan, pasti kelihatan canggung dan konyol. Akan tetapi melihat Lian bisa tersenyum lagi, meski samar, meski penampakannya berpendar, ia cukup bersyukur akan pilihannya untuk mengungkapkan perasaannya barusan. Meskipun jujur, sedikit terasa memalukan untuk dirinya sendiri.
“Rosy,” ucap Lian lagi, suaranya makin terdengar jauh. “Bisa antar aku?”
***
“Kamu udah siap-siap?” tanya Leo dari ambang pintu. Ia hanya meninggalkan Hannah beberapa menit untuk mengurus administrasi keluar rawat inap, tapi begitu kembali ke kamar, gadis ini sudah mengganti bajunya. Ia sudah berdiri tegak di samping kasur, menenteng tasnya dengan tenang, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.