Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #37

36. Keyakinan Kuat

Hannah terus berjalan, mengabaikan denyut nyeri di kakinya yang masih lemah serta lebam kebiruan di pergelangan tangannya yang baru lepas dari jarum infus. Ia menembus gang-gang sempit tanpa arah, seolah semakin jauh ia melangkah, semakin jauh pula ia bisa lari dari kenyataan pahit yang baru saja menamparnya telak.

“Hannah!” seru Leo sekali lagi. Kali ini ia berhasil meraih bahu Hannah, menghentikan langkah paksa gadis itu. “Kau mau ke mana? Kamu baru pulih. Kita balik ke mobil, ya?”

Hannah bergeming. Punggungnya naik-turun, nafasnya tersengal seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Leo perlahan menurunkan tangannya dari bahu Hannah, lalu bergerak memutar agar bisa menatap gadis itu dari depan.

Di bawah temaram lampu jalanan yang mulai berpijar kuning, Leo membeku. Wajah Hannah merah padam, basah kuyup oleh air mata yang tak kunjung surut. Ia memang tak pintar dalam berkata-kata, namun melihat tangisan ini ia sepenuhnya tersesat. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menghadapi wanita yang menangis sehebat ini. Satu-satunya memori tentang tangisan yang ia hadapi hanya dari Lara—yang jelas masih anak-anak.

Dipandang begitu dalam tanpa kata-kata, pertahanan Hannah runtuh. Ia merosot, berjongkok di atas aspal kasar jalanan dengan kedua tangan menutupi wajah. Isak tangisnya pecah, menyayat kesunyian malam. Leo didera kebingungan hebat. Berbeda dengan situasi semalam yang terasa mendesak dan naluriah, saat ini ia merasa tidak berdaya untuk langsung memeluk Hannah lagi. Terlalu canggung, terlalu sungkan.

Ia akhirnya memilih untuk ikut berjongkok di hadapan Hannah sembari memeluk lututnya sendiri. “Kamu mau aku pergi dulu, atau tetap di sini?” tanyanya pelan.

Hannah tetap menangis, tak memberikan jawaban. Ia tak ingin diganggu, namun sejujurnya ia pun tak ingin sendirian. Ia lelah sendirian, lelah pura-pura kuat dan baik-baik saja.

Leo menunggu beberapa saat dalam hening. Ia tak akan benar-benar meninggalkan Hannah sendirian di gang seperti ini, namun ia sangat paham rasanya ingin menyendiri saat dunia terasa runtuh.

Perlahan, Leo berdiri. “Aku tunggu di mobil,” ucapnya.

Namun saat ia hendak berbalik, sebuah tangan dingin terulur, menahan ujung jarinya. Langkahnya terhenti seketika. Ia tertegun, menatap Hannah yang perlahan mengangkat wajahnya yang sembab.

“Aku harus gimana?” tanya Hannah lirih, tatapannya penuh dengan keputusasaan yang murni. “Aku harus gimana?”

Leo kembali berjongkok, membiarkan ujung jarinya tetap dalam genggaman Hannah yang gemetar. “Kamu maunya gimana?” tanyanya balik dengan suara rendah.

Leo sengaja bertanya begitu karena ia tahu persis rasanya menjadi Hannah. Bagi dirinya—pria yang sudah terbiasa memendam sakit seorang diri—hal yang paling menyiksa bukanlah luka itu sendiri, melainkan kebingungan yang meronta di dalam dada. Saat ia tak mampu memetakan perasaan, saat ia tak tahu langkah apa yang harus diambil untuk menghadapi situasi yang menghimpit, dan yang paling menyakitkan: saat tidak ada satupun orang yang peduli untuk sekedar bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan.

Selama ini, dunia hanya menuntutnya untuk kuat, untuk memimpin, dan untuk sembuh dengan sendirinya. Namun di depan Hannah, ia tak ingin menjadi bagian dari orang-orag itu, ia tak ingin menuntut. Ia ingin menjadi pendengar yang tak pernah ia miliki.

“Aku masih marah sama Aleta, tapi dia kakakku. Aku nggak kenal wanita itu, tapi dia ibuku,” ucap Hannah parau, suaranya pecah di tengah kalimat.

Leo tak langsung menjawab. Matanya yang biasanya sedingin es kini menatap lurus dengan binar lembut penuh simpati. Ia melepaskan pegangan Hannah di jarinya hanya untuk melepas jas biru dongker yang ia kenakan. Dengan gerakan sangat hati-hati—seolah tubuh Hannah adalah kaca tipis yang akan hancur jika tersenggol sedikit saja—ia menyampirkan jas itu menutupi tubuh Hannah. Ia merapatkan ujungnya di depan leher gadis itu, memastikan kehangatan tubuhnya tertinggal di sana.

“Kamu nggak perlu memaksa diri,” ucap Leo pelan namun tegas. “Kalau kamu mau marah, marah aja. Kalau kamu merasa gak kenal, jangan paksa diri kamu seolah-olah kamu kenal. Kamu punya hak atas perasaan kamu sendiri.”

Hannah terdiam. Tangisnya mulai mereda menjadi isak tanpa suara. Matanya masih terpaku pada Leo—sosok yang entah bagaimana tak bisa ia singkirkan sejak kemarin sekalipun ia ingin.

Ia tahu, tak sepantasnya sekarang ia bersandar pada orang asing yang dalam semalam mendadak terasa begitu akrab—hingga tahu bagian kehidupannya yang paling kelam yang bahkan dia sendiri tak tahu keberadaannya sebelumnya. Ia tahu ada batasan profesional yang harus dijaga. Ia tahu, tak seharusnya pria dan wanita tanpa hubungan jelas, terus bersama seperti ini. Apapun alasannya. Seharusnya ia menjauhi Leo, bahkan lebih kuat daripada saat ia menjauhkan Thomas kemarin. Namun, keberadaan pria ini—yang kokoh namun memilih diam, yang menemani tanpa mengganggu—terasa begitu menenangkan.

“Aku mau pulang,” bisik Hannah akhirnya, menyerah pada rasa lelah yang menghantam terus menerus.

Lihat selengkapnya