Pikiran Hannah benar-benar kacau. Semalaman ia terjaga, tak berani memejamkan mata walau sedetik pun. Selain karena pikirannya yang terlalu penuh. Ada ketakutan luar biasa yang menghimpit dadanya hingga jantungnya terus berpacu dan enggan mengistirahatkan tubuhnya. Ia takut, takut jika saat ia bangun dan menyadari bahwa Lian tak lagi mampir ke dalam mimpinya, atau jauh lebih buruk—takut jika ia bermimpi, namun Lian menunjukkan sorot mata kecewa yang berbeda dari sebelumnya.
Jadi semalaman, di dalam kamar yang sunyi, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bertanya-tanya: hukuman apa yang pantas ia berikan pada dirinya sendiri?
Selama ini, ia menjalani hari-harinya dengan keyakinan buta bahwa dialah korban. Ia merasa kemarahan dan kekecewaannya sangat valid untuk dilampiaskan. Namun tiba-tiba, semesta seolah mencemoohnya tepat di depan wajah. Ternyata, semua yang ia ketahui hanyalah salah paham yang dangkal. Semua yang ia yakini jauh kenyataannya. Pada akhirnya, satu-satunya yang mengacaukan segalanya, satu-satunya yang benar-benar bersalah, adalah dirinya sendiri.
Penyesalan itu datang menghujam bertubi-tubi. Kalau saja sejak awal ia memilih untuk bertanya langsung pada Aleta, mencari tahu alasan di balik kehidupan kakaknya yang tampak tak masuk akal itu, mungkin Aleta tak perlu menanggung caci makinya sembari memikul beban seberat itu sendirian. Kalau saja ia bisa meredam cemburu butanya dan tidak terburu-buru menyatakan perasaan pada Lian, mungkin Lian tidak akan merasa terhimpit oleh beban moral yang begitu besar. Mungkin saja, hari naas itu tak akan pernah terjadi.
Sejak awal, ia terlalu percaya pada egonya sendiri. Ia melukai semua orang di sekelilingnya sambil terus berpikir bahwa dialah yang paling terluka.
Kini, di depan gundukan tanah makam Lian—satu-satunya tempat yang bisa ia tuju untuk sekadar mencari oksigen bagi jiwanya—Hannah berlutut penuh sesal. Tanah yang dingin itu menjadi saksi kerapuhannya.
“Maaf... maaf, Kak,” bisiknya dengan suara serak.
Kata itu terus mengalir dari bibirnya tanpa henti selama sejam terakhir, seolah-olah jika ia mengucapkannya jutaan kali, rasa bersalah yang membakar dadanya bisa sedikit mereda. Namun, nisan di depannya tetap membisu, meninggalkan Hannah dalam sunyi yang paling menyakitkan.
Beberapa meter dari tempat Hannah berlutut, di bawah bayang-bayang pohon kamboja yang rindang, Rosy dan Lian berdiri mematung. Sosok Lian kini terlihat lebih transparan dari sebelumnya, seolah-olah cahaya matahari siang itu menembus tubuhnya dengan lebih mudah.
“Apa bener Hannah udah bahagia?” tanya Lian pelan. Matanya tak lepas dari punggung Hannah yang masih bergetar hebat karena isak tangis.
Rosy terdiam. Ia tak yakin untuk mengiyakan, karena pemandangan di depannya—seorang gadis yang tenggelam dalam lautan sesal dan duka—sama sekali tidak menggambarkan kata bahagia. Namun, ia juga tak yakin untuk berkata tidak. Sebab, ia bisa melihat bagaimana perlahan-lahan sosok Lian makin memudar, tanda pasti bahwa ikatan yang menahan jiwa itu di dunia ini sudah mulai terlepas. Tugas Lian sudah hampir usai.
Alih-alih menjawab, Rosy memilih untuk menunduk, sibuk mengecek ponselnya lagi. Ia mengirimkan pesan singkat ke Leo yang kabarnya sudah dalam perjalanan namun belum juga tampak. “Udah di mana sih dia!” gerutu Rosy gemas. Ia melirik Hannah dengan cemas, takut gadis itu keburu beranjak pergi sebelum sosok yang ia tunggu tiba.
Seolah mendengar gerutuan itu, tepat saat Rosy mengangkat wajahnya, ia mendapati sebuah siluet yang berjalan menaiki bukit pemakaman.
Itu Leo.
Ia terlihat persis seperti orang yang buru-buru meninggalkan kantor. Kemeja putih yang lengan bajunya digulung kasar sampai siku, dipadukan dengan celana jeans hitam yang formal, jelas tak cocok dengan pemakaman ini. Namun, yang paling mencolok adalah kedua tangannya yang penuh; Leo membawa tiga buket besar bunga mawar putih.
Lian menoleh ke arah Leo, lalu kembali menatap Hannah. Sebuah senyum tipis yang sarat akan kelegaan muncul di wajahnya yang kian pudar. Ia tahu, meskipun sekarang Hannah sedang menangis, ia tidak akan lagi menangis sendirian. Ia tahu, kebahagiaan tak harus selalu langsung ditandai dengan tawa lepas, tapi bisa juga dengan secuil beban yang berubah menjadi makin ringan.