Seperti biasa, keduanya berbagi keheningan. Hanya semilir angin yang mengisi suara. Menyentuh rambut coklat Hannah hingga berantakan dan menutup separuh wajahnya.
“Mas Leo gak tanya kenapa aku ada disini?” Tanya Hannah sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Suaranya serak, namun jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Bukannya harusnya kamu yang nanya?” balas Leo santai.
Hannah menoleh, menatap profil wajah Leo lekat-lekat. Ia seolah sedang mengeja setiap garis wajah pria itu, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepala seorang Direktur yang mendadak rela mengotori celananya demi duduk di rumput makam. Setelah kemarin selama dua hari sebelumnya terus menerus ada di sampingnya, dan melakukan hal-hal tak masuk akal untuk hubungan mereka yang tak bisa dideskripsikan dengan kata apapun kecuali asing.
“Aku boleh tanya sesuatu?” ujar Leo, kali ini ia menoleh dan membalas tatapan Hannah.
Hannah tak menyahut secara verbal. Ia hanya mengedipkan matanya singkat—sebuah isaratt kecil yang bagi Leo sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan.
“Apa yang kamu rasa sekarang?” tanya Leo sembari menekuk salah satu kakinya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut. Ia bertanya dengan nada yang sangat netral, memberikan ruang yang luas bagi Hannah untuk mengisi ketenangan itu dengan emosinya.
Hannah kembali membuang pandangannya ke depan. Ia tahu, secara logika, ia mungkin tak pantas merasa lega di tengah tumpukan rasa bersalah ini. Namun, kehadiran Leo dan pertanyaannya yang tulus membuat Hannah merasa paru-parunya kembali bisa menghirup oksigen. Cara Leo mendekat—yang begitu hati-hati, tanpa menghakimi, dan tanpa mendikte—membuat pertahanan Hannah runtuh dengan cara yang lembut. Ia ingin berbagi, ingin mengeluarkan isi pikirannya di hadapan pria ini.
“Aku merasa marah. Aku merasa ini nggak adil,” ucap Hannah lirih, matanya mencari jawaban di langit yang biru. “Semua yang aku pahami selama ini ternyata salah. Semua yang aku yakini ternyata nggak seperti keadaan yang sebenarnya. Aku marah sama diri aku sendiri,... karena udah seenaknya menilai dan meyakini semua itu tanpa tahu apa-apa.”
Suaranya bergetar di ujung kalimat, menahan sesak yang kembali naik ke kerongkongan.
“Hmm,” dehem Leo pelan, seolah sedang menimbang beban kata-kata Hannah. “Kamu tahu... ramalan cuaca?”
Hannah menoleh seketika. Tatapannya penuh keheranan, keningnya berkerut halus. Di tengah suasana duka dan pengakuan dosa yang berat ini, kenapa pria di sebelahnya malah tiba-tiba membahas sesuatu yang terdengar sepele seperti ramalan cuaca?
“Ramalan cuaca?” ulang Hannah, memastikan telinganya tidak salah dengar.
Leo mengangguk kecil, pandangannya kembali lurus menatap cakrawala yang luas.
“Kamu tahu seberapa keras usaha orang-orang yang meramal cuaca?” suara Leo terdengar rendah dan tenang. “Mereka menghitung kelembaban udara, arah pergerakan angin, tekanan atmosfer, bahkan memantau posisi benda langit untuk sekadar memprediksi apakah hari ini akan cerah atau badai. Mereka melakukan semua yang mereka mampu, menggunakan seluruh data yang mereka punya, untuk akhirnya berani berkata bahwa hari ini akan baik-baik saja.”
Leo mengambil jeda sejenak. Ia menoleh perlahan, menangkap tatapan Hannah yang tengah menyimak ucapannya dengan saksama.
“Tapi, kalau ternyata di tengah jalan awan yang tak terprediksi tiba-tiba menggumpal datang entah dari mana... kalau ternyata hujan turun saat mereka bilang hari akan cerah…” Leo menatap Hannah lurus ke dalam matanya. “Apa menurut kamu mereka bersalah? Apa mereka pantas dihukum karena tidak bisa melihat apa yang belum terjadi?”
Hannah terdiam, lidahnya kelu. Ia mulai menangkap arah pembicaraan Leo yang tak terduga itu.
Aneh, sungguh aneh. Ucapan sederhana tentang ramalan cuaca yang keluar dari bibir pria yang biasanya kaku dan dingin ini, justru terasa sangat menenangkan. Selama berjam-jam ia merasa seolah dunia sedang menunjuk-nunjuk hidungnya, menyalahkannya atas segala buta dan tuli yang ia alami selama ini. Namun, Leo datang dan justru memadamkan api penghakiman di dalam dirinya dengan logika yang begitu lembut.
Logika bahwa ia hanyalah manusia biasa dengan pengetahuan yang terbatas.