Sebulan Kemudian…
Indi melangkah menuju pelaminan dengan keanggunan yang seolah menyatu dengan hembusan angin taman yang sepoi-sepoi. Tangannya yang mengenakan wedding gloves dari brokat putih, melingkar lembut di lengan Lucky. Hari ini pria yang berbadan berisi itu nampak seperti perwujudan ketenangan pribadinya—yang selalu bisa menyeimbangkan kehebohan Indi. Dalam balutan setelan serba putih, Tuxedo yang dikenakan Lucky bukan sekadar pakaian formal yang menyelaraskan pengantin wanitanya, melainkan kanvas putih bersih tanpa cela yang memantulkan rona kebahagiaan di wajahnya.
Senada dengan sang suami, Indi dibalut gaun putih berbahan crepe silk yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya selembut air yang mengalir. Gaun itu sederhana; tanpa kilau payet yang berlebihan, keindahannya justru terpancar dari kerutan halus pada bagian pinggang dan garis leher yang bersih. Pada bagian punggung, helaian kain brokat tipis bermotif kelopak bunga liar menjuntai—senada dengan sarung tangannya, menyempurnakan penampilannya pada momen sekali seumur hidup yang sudah ia tunggu-tunggu ini.
Pilihan busana mereka menciptakan kontras yang magis dengan nuansa taman di sekeliling mereka. Di tengah rimbunnya dedaunan hijau dan aroma tanah basah karena hujan mengguyur semalam, keberadaan mereka tampak seperti sepasang angsa putih di tengah telaga yang sunyi. Kain-kain ringan yang mereka kenakan menari halus ditiup angin sore, menangkap cahaya matahari keemasan—yang menyulap serat-serat benang putih itu menjadi berkilau seperti perak.
Hannah menggeser posisi duduknya menyerong, memastikan sudut pandangnya tak terhalang saat matanya terpaku pada aisle yang kini menjadi saksi langkah suci Indi dan Lucky. Ia tampil bersahaja namun tetap manis dalam balutan blazer merah muda pucat yang dipadukan dengan kemeja putih dan celana senada—setelan pemberian Indi yang biasa dipakai untuk bekerja.
Meski Indi sempat memohon dengan gigih agar Hannah bergabung bersama sepupu dan sahabatnya di barisan bridesmaid, Hannah tetap pada pendiriannya. Ia merasa belum pantas untuk berada di posisi itu, pun tak ingin canggung harus bersama orang-orang yang tak dikenalnya. Ia lebih memilih untuk menjadi bagian dari kesunyian yang khidmat, duduk tenang di antara lima puluh tamu undangan terpilih lainnya, menyaksikan segalanya dari jarak yang terasa aman.
Saat Indi melangkah melewatinya, gaun putihnya itu seolah menyapu udara di dekat Hannah, membawa aroma bunga segar di buket yang ia bawa terasa menenangkan. Hannah tersenyum tulus, senyum yang sudah lama tak muncul di wajahnya untuk orang lain. Dengan gerak bibir tanpa suara, ia membisikkan doa dan ucapan selamat yang paling dalam.
Pancaran kebahagiaan yang begitu murni dari wajah Indi seolah memiliki daya magis; ia merambat perlahan, menembus dinding pertahanan Hannah, dan menularkan kehangatan yang sudah mulai asing untuk ada di relung perasaannya. Untuk sejenak, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Melihat Indi bahagia, membuatnya sedikit lebih rileks.
Diam-diam, selagi Indi dan Lucky menaiki tangga pelaminan, mata Hannah menyisir barisan bestman yang berdiri gagah di sisi kanan panggung. Thomas tampak mencolok di sana; ia adalah yang paling sibuk, bergerak lincah mengatur timnya dengan gestur yang penuh semangat. Namun, satu sosok yang Hannah antisipasi kehadirannya—sosok yang semestinya berada di jajaran itu—tak terlihat sama sekali.
Mata Hannah kembali bergerak, menyapu barisan demi barisan bangku tamu di sekelilingnya, mencari siluet yang familiar di antara lima puluh orang di sana. Apa mungkin dia tidak hadir? pikirnya dalam hati, ada sedikit rasa hampa yang tak ia duga muncul di dadanya.
Tepat saat ia menyerah dan kembali meluruskan posisi duduknya—karena Indi mulai memegang mikrofon untuk menyampaikan sambutan—sisi kiri tubuhnya mendadak terasa hangat. Sebuah kehadiran yang maskulin dan kokoh tiba-tiba mengisi ruang di sampingnya yang semula kosong.
“Kamu nyari aku?” bisik sebuah suara rendah tepat di telinganya.
Hannah refleks beringsut, bahunya sedikit melorot karena terkejut. Sensasi nafas yang dekat itu membuat tengkuknya merinding seketika. Ia menoleh dan mendapati Leo sudah duduk di sampingnya, menyunggingkan senyum puas yang jarang terlihat. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan jas hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.
“Kirain nggak dateng,” cetus Hannah, mencoba mengendalikan degup jantungnya dan kembali menegakkan posisi duduk.
“Bisa dihancurin mobil aku sama Indi kalau sampai absen,” kelakar Leo ringan. Ia mengangkat telapak tangannya ke udara, membalas tatapan Thomas di kejauhan yang tengah merengut ke arah mereka—mungkin kesal karena Leo meninggalkan posisinya.
“Nggak di sana?” Hannah mengedikkan dagunya ke arah Thomas, mengisyaratkan bahwa seharusnya Leo berada di barisan pria berpakaian seragam biru itu.
Sambil menyilangkan kaki dengan elegan, Leo bersandar pada sandaran kursi “Nemenin kamu di sini.”