Hannah berdiri mematung di ambang pintu, jemarinya meremas botol air mineral yang baru dibelinya. Niatnya untuk memberikan air itu menguap seketika; ia merasa kehadirannya akan terlalu lancang merusak keheningan yang menyakitkan di hadapannya.
Beberapa langkah di depan sana, Leo duduk sendirian di bangsal rumah sakit yang dingin. Kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. Punggungnya yang lebar—yang biasanya tampak seperti benteng kokoh yang tak tertembus—kini terlihat begitu suram, dingin, dan diliputi kesepian yang pekat. Hannah merasakan sesak di dadanya; entah mengapa ia baru menyadari sekarang betapa rapuhnya pria yang selama ini ia anggap sempurna.
Percakapannya dengan Thomas lewat telepon beberapa menit lalu masih terngiang, menghantam kesadaran Hannah berkali-kali. Ia baru menyadari satu hal yang memilukan: ia tidak tahu apa-apa tentang Leo.
Selama ini, ia membiarkan dirinya pasif, membiarkan Leo mendekat selangkah demi selangkah, sementara ia sendiri sibuk membentengi diri. Ia telah memvonis hatinya sendiri untuk mati bersama kenangan Lian, hingga ia menutup mata terhadap pria lain. Terlebih pria seperti Leo, yang ia hidupnya adalah garis lurus yang tanpa cela; kaya raya, berlatar belakang mengagumkan, berpendidikan tinggi, memimpin beberapa perusahaan, dan dikelilingi sahabat setia yang jelas sama sempurnanya seperti dirinya. Namun, realitas yang diceritakan Thomas membalikkan dunianya.
Pria ini adalah seorang penyintas yang dipaksa bertahan di tengah reruntuhan dunianya yang hancur berkali-kali.
Leo kehilangan kedua orang tuanya dalam tragedi kecelakaan pesawat. Adik satu-satunya—satu-satunya keluarga yang tersisa—meninggal dalam kecelakaan mobil bersamanya. Dan kini, Bi Harti, wanita yang bukan sekadar pengurus rumah melainkan sosok seperti ibu kedua baginya, yang mengasuhnya sejak kecil, terbaring tak berdaya setelah mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumahnya.
Hannah memperhatikan bagaimana tubuh Leo sedikit bergetar. Kedua tangan pria itu kini mengepal kuat diatas lutut, sebuah usaha putus asa untuk menjaga agar jiwanya tidak pecah berantakan di sana. Meskipun Bi Harti dinyatakan selamat, fakta bahwa wanita itu belum sadarkan diri sudah cukup untuk membuat Leo merasa dunianya sedang berada di tepi jurang.
Hannah sadar, Leo bukan sedang berduka; ia sedang berada dalam ketakutan yang teramat sangat. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya jangkar yang tersisa dalam hidupnya yang sunyi.
Perlahan, Hannah melangkah maju. Ia tak lagi melihat seorang Direktur atau pria sempurna yang tak tersentuh. Ia melihat seorang laki-laki yang ketakutan akan kegelapan. Tanpa suara, Hannah duduk di bangsal yang sama, memberikan jarak yang cukup namun tetap membiarkan kehadirannya terasa.
Ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang klise, karena ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Hannah hanya duduk di sana, meletakkan botol air itu di samping tangan Leo yang mengepal, lalu dengan ragu namun pasti, ia meletakkan tangannya dengan lembut di atas punggung tangan Leo yang gemetar.
Leo menengok perlahan, dan saat itulah pertahanan terakhirnya runtuh berkeping-keping. Di balik sorot mata yang biasanya tajam dan dingin, kini hanya ada sepasang mata yang merah, basah, dan hancur. Ia memandang Hannah dengan sorot tersiksa yang begitu dalam, sebuah tatapan yang tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk menjelaskan betapa remuk jiwanya.
Itu adalah sebuah teriakan sunyi. Sebuah permohonan dari seorang pria yang telah kehilangan terlalu banyak, yang kini seolah sedang tenggelam dan meminta tolong untuk diselamatkan agar tidak benar-benar lenyap ditelan kegelapan.
Melihat pria setangguh Leo hancur sedemikian rupa, Hannah merasa jantungnya seakan diremas. Tanpa pikir panjang, ia beringsut mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Kedua tangan Hannah terulur, menarik tubuh Leo ke dalam pelukannya—sebuah tindakan impulsif yang didorong oleh empati terdalam.
Leo tidak menolak. Ia justru menyembunyikan wajahnya di bahu Hannah, membiarkan tubuhnya yang tinggi besar itu meringkuk, mencari perlindungan pada gadis yang sebelumnya ia anggap perlu ia lindungi. Isakan pertama yang lolos dari bibir Leo terdengar begitu menyayat; suara yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di balik sikap dinginnya.
Di lorong rumah sakit yang sepi dan berbau antiseptik itu, Hannah mengusap punggung Leo dengan gerakan konsisten. Ia membiarkan blazernya basah oleh air mata pria itu. Saat itu, Hannah sadar. Luka mereka mungkin berbeda, tapi rasa sakitnya memiliki frekuensi yang sama. Jika selama ini Leo adalah "pohon besar" baginya, maka untuk malam ini, untuk saat ini Hannah bersedia menjadi "tanah" yang kokoh agar pohon itu tidak tumbang diterjang badai traumanya sendiri.