Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #42

41. Runtuhnya Pertahanan

“Thomas bilang apa sama kamu?” tebak Leo tepat di belakang Hannah.

Suaranya yang rendah dan dalam membuat bulu kuduk di tengkuk Hannah meremang seketika. Sisi dirinya yang sudah panik karena tak tahu harus memasak apa, kini makin kalang kabut karena pertanyaan yang menusuk tepat ke sasaran. Kenapa pria ini begitu pintar? Bagaimana bisa dia langsung menyimpulkan kalau tindakannya sejauh ini adalah efek dari ucapan Thomas? pikir Hannah kalut.

“Aku... nggak...” sahut Hannah tergagap, berusaha menyusun dusta yang masuk akal namun lidahnya seolah mendadak kelu.

Namun detik kemudian, Hannah mematung sempurna. Nafasnya tertahan di kerongkongan. Ia merasakan tangan kekar Leo bergerak maju, melingkar di bahunya dari belakang. 

Tangan Leo menjangkau pintu kulkas yang masih terbuka, lalu dengan perlahan mendorongnya hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus. Posisi mereka kini sangat dekat; punggung Hannah bisa merasakan hawa hangat dari dada Leo, dan aroma maskulin pria itu kini mengurungnya sepenuhnya di antara badan kulkas dan tubuh besarnya.

“Dia bilang aku butuh kamu?” bisik Leo lagi, kali ini lebih dekat ke telinga Hannah. Ada nada geli yang terselip dalam suaranya yang serak. “Atau dia bilang kalau aku orang yang terlalu menyedihkan buat ditinggal sendiri?”

Hannah masih tidak berani bergerak. Jantungnya berdegup kencang, menabuh dada dengan irama yang menyakitkan yang sudah sejak lama tak ia rasakan. Lengan Leo yang masih bertengger di bahunya, memberikan tekanan lembut yang seolah-olah mengunci Hannah agar tetap di sana.

“Kalau dia bilang gitu, dia bener,” gumam Leo pelan, pengakuannya terasa begitu jujur tanpa pertahanan. “Aku emang butuh kamu.”

Mata Hannah membelalak lebar. Ucapan barusan terasa menghujam jauh lebih dalam dan tulus daripada saat Leo mengakui perasaannya di bukit waktu itu. Jika sebelumnya itu adalah pernyataan ketertarikan, kali ini adalah sebuah pengakuan kerentanan. Leo seolah sedang menanggalkan seluruh harga diri di depannya.

“Tapi bukan buat masakin aku,” lanjut Leo kemudian, terdengar sedikit lebih santai, tak sadar kalau Hannah masih terjebak dalam ketegangan yang ia ciptakan. “Kita beli makanan aja.”

Tepat saat Leo mulai menarik tangannya dari bahu Hannah untuk meraih ponselnya, gadis ini tiba-tiba berbalik. Gerakan yang lagi-lagi impulsif untuk dirinya hari ini, membuat tatapan mata mereka langsung bertemu dalam jarak yang berbahaya—terlalu dekat hingga Hannah bisa melihat pantulan dirinya sendiri di manik mata Leo yang dalam.

Hannah, yang sebelumnya hendak melontarkan penolakan keras kepala untuk tetap memasak sendiri, mendadak kehilangan seluruh kosa katanya. Pikirannya kosong melompong. Jantungnya berdegup makin tak karuan, seolah hendak melompat keluar dari rusuknya. Ia susah payah menelan ludah, berusaha mencari udara di antara dominasi aura Leo yang mengurungnya.

Tangan Leo yang sebelumnya sudah merenggang, justru kembali mengerat di belakang punggung Hannah, menarik gadis itu sedikit lebih dekat hingga tak ada lagi celah untuk lari.

“Kamu udah tahu aku butuh kamu,” ucap Leo sambil menatap lebih lekat, suaranya kini merendah, hampir serupa bisikan yang menggetarkan udara. “Dan kalau kamu bersikeras di sisi aku kayak gini, aku nggak akan pernah lepasin kamu.”

Hannah tertegun. Kalimat ini terasa nyata bukan sekadar rayuan. Itu adalah peringatan sekaligus janji. Ada nada posesif yang gelap namun tulus di sana. Seakan Leo sedang memberitahunya bahwa jika malam ini dirinya memilih untuk melangkah masuk lebih jauh ke dalam hidupnya, maka jalan pulang menuju kesendirian yang selama ini ia bangun akan tertutup selamanya.

Ia terpaku. Ia bisa merasakan kehangatan telapak tangan Leo di punggungnya, sebuah sentuhan yang seolah sedang mengklaim keberadaan nyata. Ia ingin protes, ingin menyebut nama Lian dalam hatinya sebagai benteng pertahanannya, namun bukan hanya lidahnya, di titik ini, hatinya pun terasa kelu. Di hadapan pria yang baru saja terlihat hancur di depannya dan kini memohon dengan cara yang begitu intens, Hannah menyadari bahwa dinding yang ia bangun selama ini bukan sekadar retak—tapi sedang runtuh total.

Ia memilih untuk tak melangkah lebih jauh, ia tak berani, namun ia juga tak menarik diri seperti yang biasa dan semestinya ia lakukan.

Dan ketika tangan Leo yang lain perlahan naik, menangkup rahangnya dengan kemantapan yang lembut, jemarinya merambat pelan menyusuri pipi Hannah. Sentuhan yang bukan sekadar kontak fisik, melainkan pegangan yang menahan Hannah agar tidak hanyut dalam kegamangan yang selama ini mengurungnya. Hannah, yang merasakan kehangatan dan ketenangan asing mulai menjalar dan memadamkan riuh rendah penolakan di benaknya, perlahan menyerah pada gravitasi perasaan itu. Ia memejamkan mata. Bak orang yang berada di laut lepas dan sadar dirinya tak bisa berenang. Ia memilih memejamkan matanya untuk membiarkan dirinya hanyut tanpa perlawanan melelahkan yang sudah ia lakukan selama ini.

Lihat selengkapnya