Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #43

42. Akhir Masa Lalu

Saat membuka mata, cahaya matahari telah menyusup melalui celah-celah gorden. Hannah tertegun sejenak, menyadari satu hal yang sudah lama tidak ia rasakan: ia baru saja menikmati tidur paling nyenyak selama tiga bulan terakhir.

Padahal, ia berada di tempat asing—di kamar tamu rumah Leo. Kejadian semalam begitu menguras emosi dan membuat jantungnya berdebar tak keruan, hingga ia sempat mengira matanya tak akan bisa terpejam untuk beristirahat. Namun nyatanya, ia baru saja tenggelam dalam tidur lelap tanpa mimpi, tanpa sekali pun terjaga. Bahkan sekujur tubuhnya, yang biasanya terasa kaku dan letih setiap pagi meski sudah berbaring semalaman, kini terasa begitu segar. Sensasi yang terasa sedikit asing bagi dirinya sendiri.

Hannah beringsut bangkit dari kasur. Ia hendak merapikan rambut, namun baru tersadar jika rambutnya masih terikat kuncir kuda sejak semalam. Sambil melangkah keluar kamar, ia melepas karet rambutnya, membiarkan helai-helai rambutnya tergerai sejenak sebelum mencoba menatanya kembali dengan lebih rapi.

Begitu kakinya menapak di luar pintu, ia disambut ruang tamu yang lengang. Kilau lantai marmer yang bersih serta deretan furniture yang tampak tanpa cela tanpa debu seolah menyambutnya dengan kehangatan yang sunyi. Hannah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan seketika itu pula, debar halus kembali merambat di dadanya.

Rasa cemas dan canggung perlahan membuat pipinya memanas. Ia teringat sisa malam tadi; setelah ketegangan emosional yang hebat, ia dan Leo akhirnya hanya berakhir dengan menyantap mie instan sambil menonton film di televisi. Tak ada obrolan berat, tak ada pembahasan soal kejadian sebelumnya, sampai akhirnya mereka berpamitan untuk masuk ke kamar masing-masing.

Apalagi pagi ini suasana terasa jauh berbeda. Tak ada lagi temaram lampu yang menggiring emosi, tak ada lagi rasa dingin yang mendorongnya bertindak impulsif. Kehangatan mentari dan terangnya ruangan mengembalikan kesadaran Hannah ke tingkat tertinggi. Anehnya, ia tak merasakan penyesalan hebat seperti yang ia duga sebelumnya. Ia hanya merasa canggung, benar-benar tak tahu harus menempatkan diri seperti apa.

Rumah itu terasa begitu sunyi, hening, hampir tak terdeteksi adanya tanda-tanda kehidupan selain dirinya sendiri. Dengan kaki telanjang, Hannah melangkah pelan menyusuri ruangan, mencoba mencari keberadaan sang pemilik rumah.

“Apa dia masih tidur?” gumamnya pelan sambil mendongak ke lantai atas, tempat kamar Leo berada. Namun, begitu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ia langsung tersadar bahwa dirinyalah yang bangun kesiangan.

“Sudah berangkat ke kantor?” duganya lagi, meski kemudian ia sadar dugaan itu tak masuk akal karena hari ini adalah hari Minggu.

Ia kembali melirik ke arah lantai atas. Tak mungkin ia lancang memastikan apakah pria itu masih di dalam kamar, dan rasanya juga tidak pantas jika ia berteriak memanggil. Setelah menimbang-nimbang, Hannah memutuskan untuk mengarahkan kakinya ke dapur. Ia berniat menyiapkan sarapan—semacam penebusan atas niat memasak yang gagal total semalam.

Namun, begitu sampai di ambang pintu dapur, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada meja makan. Di atas tudung saji, terselip secarik kertas kecil.

Alisnya bertaut sedikit. “Masa, sih?” pikirnya, berusaha menepis dugaan-dugaan yang muncul di kepalanya.

Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengambil post-it kuning tersebut. Dengan jantung yang kembali berdebar halus, ia mulai membaca tulisan tangan yang ada di sana.


Aku ke RS sekalian ke rumah Indi ambil barang-barang kamu

Kunci cadangan aku taruh di depan pintu

Makan sarapannya sampai habis


Senyum tipis meliuk di sudut bibir Hannah. Ia tak menyangka pria seotoriter Leo di kantor bisa bersikap sesopan ini. Alih-alih membangunkannya atau sekadar mengirim pesan singkat lewat ponsel, Leo justru memilih cara klasik dengan menulis secarik kertas. Benar-benar di luar persona dingin dan tak acuh yang selama ini melekat padanya.

Hannah meletakkan kertas itu kembali ke meja, lalu tangannya terulur membuka tudung saji. Di baliknya, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi dan acar lengkap di pinggirnya sudah menanti.

Masih dengan sisa senyum yang menggantung, ia menarik kursi dan mulai mencicipi suapan pertama. Namun, begitu kunyahan itu sampai di lidahnya, keningnya berkerut. Nasi goreng ini ternyata keasinan.

Lihat selengkapnya